Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 62. Tidak Mau Pulang


__ADS_3

Melepas rindu yang paling menyenangkan hanyalah bertemu. Dan itulah yang sedang dilakukan oleh Choco dan Prilly. Setelah menghabiskan beberapa permainan, akhirnya mereka beristirahat.


Choco terus memeluk tubuh mungil istrinya, sama sekali tak ingin kehilangan kesempatan.


Sementara Prilly terlihat nyenyak, selama tidur dia terus menempelkan wajah di dada bidang Choco. Sebuah ruang yang akan menjadi tempat favoritnya.


Di luar sana sinar matahari semakin meninggi, menunjukkan bahwa hari beranjak menuju siang.


Namun, keduanya sama sekali belum menyentuh makanan. Waktu mereka hanya dihabiskan untuk menyatu, dan melepas rindu yang menggebu-gebu.


Hingga terdengar suara ponsel Choco yang berdering nyaring. Prilly menggeliat, merasa bising dengan suara-suara itu.


Mata Prilly menyipit sambil mendongakkan kepala. Hingga dia bisa melihat wajah damai suaminya. "Sayang." Panggil Prilly sambil mengangkat tangan, membelai pipi Choco yang sedikit berbulu.


Pria itu tak mendengar panggilan Prilly, karena masih terlalu mengantuk. Semalam dia tidak bisa tidur, sebab pikirannya terus memikirkan pertemuannya dengan sang istri.


"Kakak, bangun! Ada telepon masuk ke ponselmu."


Tidak ada jawaban, bahkan sampai Prilly menggoyangkan bahu Choco, pria itu justru semakin merengkuh pinggang istri kecilnya.


"Ya ampun, bagaimana ini? Aku sampai tidak bisa bernafas, padahal aku yang kelelahan, tapi kenapa dia yang nyenyak sekali? Apakah semalam dia tidak tidur?" gumam Prilly, sementara aroma tubuh Choco terus menguar di indera penciumannya.


Gadis cantik itu bergeming, tiba-tiba berpikir bagaimana Choco bisa tahu dia berada di sini? Apakah Choco mengetahui persembunyiannya dari sang kakak ipar?


"Cih, aku jadi penasaran."


Di saat Prilly memikirkan banyak hal, lagi-lagi ponsel Choco berdering. Mau tidak mau Prilly pun mencoba bangkit, dengan melepaskan pelukan suaminya terlebih dahulu.


My Mom❤️


Prilly langsung terhenyak, sementara dia belum berani untuk berbicara dengan Zoya. Tak ada cara lain, dia harus membangunkan Choco lebih keras, takut jika telepon itu sangat penting.


"Kakak, ayo bangun! Mommy menelponmu." Gadis cantik itu berteriak tepat di telinga Choco, sambil menepuk-nepuk pipi. Tak hanya itu, Prilly juga memberanikan diri naik ke atas tubuh suaminya, karena Choco benar-benar seperti mayat hidup.

__ADS_1


"Ish, kenapa kesannya jadi kamu yang kelelahan karena aku?" kesal Prilly, melihat Choco yang tak sedikitpun merespon usahanya.


"Apa sih, Sayang? Aku seperti ini kan memang karena kamu," gumam Choco dengan suara serak.


Prilly langsung mendelik.


"Bukannya ini semua ulah Kakak? Lihatlah, Mommy menelpon, aku takut ada sesuatu yang penting."


Mendengar kata Mommy, tiba-tiba Choco langsung terduduk, hingga membuat Prilly hampir terjungkal ke belakang, karena saat ini ia sedang duduk di atas perut suaminya.


"Kamu bilang lelah, tapi menggodaku terus," ucap Choco dengan tatapan yang mulai berubah.


Prilly langsung waspada dengan menempelkan kedua tangan di depan dada. Dia tidak bisa meremehkan kekuatan Choco di atas ranjang, ah tidak sepertinya pria ini bisa melakukan itu semua di manapun.


"Jangan macam-macam, Kak. Itu Mommy menunggu kamu, cepat telepon balik," ujar Prilly yang membuat Choco tersenyum menggoda.


"Cium dulu!" pinta Choco sambil menarik tubuh Prilly dengan kedua tangannya. Dia memajukan bibir, sementara Prilly hanya mampu berkedip-kedip seolah tak mengerti dengan apa yang diinginkan suaminya.


"Cium dulu, Sayang!" rengek Choco.


"Kalau tidak cium, aku tidak akan melepaskanmu."


"Eh, jangan-jangan. Baik, aku akan mencium Kakak."


Cup!


Dengan cepat kecupan itu melandas di bibir tipis Choco. Akan tetapi pria yang mulai mesyum ini tidak akan pernah puas untuk mengerjai istri kecilnya. "Itu namanya kecupan, Sayang. Aku mintanya cium."


"Apa bedanya, Kak? Sama-sama menempel di bibir."


"Tentu saja beda, kalau cium itu lama, karena harus bermain lidah," jelas Choco tanpa tahu malu. Sementara pipi Prilly mulai menampakkan semburat merah.


"Apa iya?" tanya Prilly dengan polos.

__ADS_1


"Hah, mau ku ajarkan?"


Sebelum Prilly menjawab pertanyaan suaminya, pria itu lebih dulu menarik tengkuk Prilly. Menghisap bibir imut itu dengan kuat, hingga menyisakan rasa kebas yang tak habis-habis.


Prilly langsung tersengal-sengal saat Choco melepaskan ciuman mereka. Sementara pria itu tersenyum senang. "Bagaimana, aku hebatkan?"


Pria itu mengambil ponsel yang ada di atas nakas sambil melirik Prilly yang terlihat salah tingkah. Choco mencoba untuk kembali menghubungi Zoya, dan ternyata sang ibu masih stand by di ujung sana.


"Halo, Sayang. Apakah kamu sudah sampai di tempat Prilly? Kamu sudah bertemu dengannya? Kenapa tidak menghubungi Mommy? Mommy sangat khawatir, Sayang," ujar Zoya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


Karena meskipun Aneeq sudah mengatakan bahwa Choco telah bertemu dengan Prilly, wanita itu tetap belum merasa tenang jika sang anak belum menghubunginya. Apalagi ia tahu bagaimana keadaan Choco ketika pergi dari mansion.


Pria yang sedang dirundung oleh banyak pertanyaan itu tersenyum. "Mommy tenanglah, aku sudah bertemu dengannya. Kami juga sudah bicara."


Mendengar itu, Zoya langsung tersenyum lebar. Merasa begitu lega. "Lalu bagaimana tanggapan Prilly? Apakah dia mau diajak pulang bersamamu?"


"Untuk yang satu ini tidak bisa, Mom. Prilly tidak mau pulang."


"Lho kenapa, Sayang? Prilly menolakmu?"


Choco terkekeh kecil, membuat Zoya mengerutkan keningnya. "Tentu saja tidak, Prilly tidak mau pulang karena kami akan menginap di sini selama seminggu. Dia mengajakku berbulan madu."


Setelah mengatakan itu, satu cubitan langsung melandas di perut Choco, hingga pria tampan itu mengaduh. "Aw, sabar, Sayang. Aku masih bicara dengan Mommy."


"Kakak!"


"Ah, Mom, sudah dulu yaaaa. Prilly sudah mengajakku untuk eum itu," kata Choco dengan ambigu. Sementara Zoya langsung paham ke mana arah pembicaraan putranya.


"Baik, Sayang. Semoga bulan madu kalian sukses, supaya menghasilkan cucu-cucu yang lucu untuk Mommy, salam ya untuk Prilly."


Panggilan pun terputus, diiringi cubitan Prilly yang tak henti-henti. "Kamu bicara sembarangan, Kak! Lagi pula untuk apa kita seminggu di sini?"


"Tentu saja untuk bekerja keras membuat baby," jawab Choco sambil menyeringai unjuk gigi.

__ADS_1


***


Baik, mari kita fokus untuk membuat eum itu🙄🙄🙄


__ADS_2