Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 63. Tidak Butuh


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul satu siang, sementara itu perut Prilly dan Choco belum terisi makanan. Keduanya masih saja betah di dalam kamar, hingga tak tahu apa-apa yang terjadi di luar.


"Sayang, ayo kita ke dapur," ajak Choco, karena ia merasa cukup lapar.


"Ke dapur? Untuk apalagi? Kamu mau melakukannya di sana?" tanya Prilly dengan tatapan curiga, berpikir bahwa Choco akan melakukan itu dan itu lagi di mana saja.


Choco mengangkat tangan, lalu tiba-tiba menyentil dahi istrinya. "Pikiranmu mulai mesyum."


"Aduh, kenapa menyentilku? Kan kakak yang buat aku jadi seperti ini, lagi pula aneh, tiba-tiba mengajakku ke dapur."


"Aku mau mengajakmu memasak, Sayang. Memangnya kamu tidak lapar?" Choco merengkuh pinggang ramping Prilly, menatap wajah cantik yang sudah sebulan ini dia rindukan.


"Memangnya kamu bisa memasak, Kak?" Prilly justru balik bertanya, karena jika dia yang disuruh memasak, ia belum terlalu percaya diri untuk melakukannya. Dia takut hasil masakannya tidak sesuai dengan selera Choco.


"Kamu meremehkanku? Membuatmu kehabisan tenaga saja aku bisa, apalagi hanya memasak."


Prilly langsung membekap mulut Choco. "Jangan bicara yang tidak-tidak, aku malu."


"Kamu saja masih telanjang di depanku, lalu malu apa yang kamu maksud?" tanya Choco sambil memegangi kedua tangan Prilly yang semula bertengger di mulutnya.


Prilly langsung menurunkan pandangan matanya, apa yang dikatakan Choco benar. Dia lupa kalau sedari pagi mereka tidak berpakaian. Hanya ada selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua.


Choco menaikturunkan alisnya, sementara Prilly berubah salah tingkah. "Cih, ini semua kan karena kamu, Kak! Kamu juga melempar koperku keluar, bagaimana bisa aku berpakaian?"


"Makanya menurut saja pada suami, ayo ke dapur. Kamu punya bahan-bahan masakan 'kan?"


Prilly mencoba mengingat-ingat, dua hari yang lalu dia baru saja berbelanja, seharusnya di lemari pendingin masih ada beberapa bahan yang bisa mereka eksekusi. "Sepertinya masih ada. Tapi aku tidak akan membantumu, ini sebagai hukuman karena kamu tidak berhasil mencariku dalam waktu sebulan." Ketusnya.

__ADS_1


"Oh jadi ternyata kamu juga ingin perhitungan? Baik, mulai saat ini apapun yang kamu inginkan, aku akan menurutinya, sekarang temani aku memasak."


"Kenapa kamu tidak membiarkan aku beristirahat saja?"


"Tidak, nanti kamu kabur! Aku harus memastikan bahwa kamu stay di sini. Bersamaku."


"Tapi—"


"Tidak ada tapi-tapian, Nyonya Prilly. Tunggu di sini!" Choco melepas pegangan tangannya pada sang istri, lalu melangkah untuk mengambil handuk. Tidak ada pakaian yang bisa ia pakai, sehingga dia membalut tubuhnya dengan kain lembut itu.


Dia juga memakaikan tubuh Prilly kimono, agar gadis itu tidak kedinginan. Lalu menggendongnya untuk sampai di dapur. Prilly mulai tersenyum-senyum dengan tingkah manis suaminya, apalagi saat Choco mengecupi puncak kepalanya.


"Kak, kamu tidak ingin memesan pakaian? Katanya mau seminggu di sini?" tanya Prilly disela langkah Choco.


"Untuk apa? Memangnya perlu?"


Cup!


"Tidak! Aku lebih suka di kamar, bersamamu! Aku tidak membutuhkan pakaian, karena kamu yang menjadi penghangatku, aku tidak mau melihat pantai, karena yang aku suka itu kamu. Dan yang jelas, aku tidak mau pergi ke wahana-wahana manapun, karena aku lebih suka menaiki kamu, Istriku" jelas Choco dengan gamblang. Membuat Prilly tak sanggup lagi untuk berkata-kata.


"Apa? Masih mau membantah?" sambung Choco, melihat istrinya hendak bicara, padahal lidah Prilly terasa kelu. "Kalau iya, nanti ku bungkam lagi mulutmu."


"Ish, kamu jadi suka mengancam!"


"Mengancam demi kebaikan itu tidak apa-apa."


Pria itu mendudukkan Prilly di atas meja pantry. Sementara dirinya melangkah ke arah lemari pendingin. Lalu mengeluarkan bahan-bahan masakan.

__ADS_1


Prilly terus terdiam dan memerhatikan pergerakan Choco. Dengan cekatan pria itu memegang alat-alat dapur, lalu memasak sesuka hati. Tak lupa, Choco juga kerap menoleh ke belakang, memastikan bahwa istrinya masih di sana.


"Kenapa terus menoleh seperti itu?" tanya Prilly iseng.


"Aku takut kamu meninggalkanku, aku jadi parno."


"Hih, bulshittt!"


"Kamu tidak percaya? Ke marilah ... supaya makananku enak, hatiku juga harus senang."


"Apa hubungannya, Kak?"


"Pokoknya ke mari!"


Patuh, Prilly langsung turun untuk menghampiri suaminya. Choco menarik lengan gadis itu, lalu melingkarkannya di pinggang. "Nah, kalau begini 'kan aku jadi tidak takut kamu pergi."


Prilly menahan senyum, sementara hatinya terus dibuat berbunga-bunga.


"Sekarang cicipi masakanku," ucap Choco sambil menyendokkan sup yang ada di dalam panci. Dia meniupnya perlahan, lalu memastikan bahwa sup itu tidak panas.


Dengan telaten Choco menyuapi istrinya. "Bagaimana rasanya? Enak 'kan?"


Prilly terdiam sambil menatap wajah Choco yang menunggu jawabannya. Tanpa diduga gadis itu menarik kepala Choco, dan mencium pria tampan itu.


"Enak 'kan?" tanya Prilly dengan nada menggoda, sementara Choco hanya bisa tersenyum-senyum mendapati tingkah nakal istri kecilnya.


****

__ADS_1


Oh iya, jangan lupa vote nyaaaaaa guys 🤸🤸🤸


__ADS_2