Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 48. Aku Mohon


__ADS_3

Meskipun Melinda terus meronta-ronta dan meminta untuk dilepaskan. Kedua polisi itu tampak tak peduli, mereka melakukan pekerjaan sesuai prosedur yang telah ditetapkan.


Setibanya di kantor polisi, Melinda seperti mendapat kejutan lagi. Karena di sana, dia bertemu langsung dengan Pram dan salah satu saudara kembar Choco—Bizard—pria yang berprofesi sebagai pengacara.


Sekali lagi, Melinda tak menyangka. Bahwa Prilly telah menyiapkan ini semua untuknya. Semua orang pasti sekongkol dan terlibat untuk memenjarakannya.


Dengan air mata yang mengalir deras, dia pun menatap tajam pada Pram yang saat itu duduk di kursi roda. Wajah pria itu masih dipenuhi luka, tanda penganiayaan yang telah dilakukan oleh anak buahnya.


"Apa maksudmu melakukan ini semua?" tanya Melinda dengan penuh penekanan. Kini tangannya sudah diborgol, karena sedari tadi Melinda memang tidak mau diam.


Mendengar itu, Pram langsung mengangkat kepala. Menatap pada sosok wanita berhati busuk seperti Melinda. Masih seperti ini pun dia masih belum mau mengakuinya. Benar-benar wanita keras kepala.


"Kenapa tanya saya? Harusnya anda sudah tahu, Nyonya. Kan anda yang melakukan itu semua," jawab Pram dengan suara yang lemah lembut. Karena dia pun dilarang terlalu emosi untuk menghadapi wanita macam Melinda.


"Bohong! Kamu menuduhku tanpa bukti!" tukas Melinda dengan kilatan amarah yang memancar dari wajahnya.


"Jangan terlalu banyak bicara, Nyonya. Bukti sudah ada di tangan penyidik, dari rekaman CCTV di ruanganmu sampai di gudang penyekapan," timpal Bizard yang merasa cukup malas mendengar bualan Melinda. Sebab dia sudah mendengar semuanya dari Aneeq.


Maka dari itu di sinilah dia sekarang, membantu Pram atas kasus penculikan yang dilakukan oleh Melinda. Dia begitu terkejut, saat tahu siapa Melinda sebenarnya. Karena wanita itu banyak menyimpan rahasia seperti mantan istrinya—Joana. Dan semoga saja kelak, Melinda pun dapat berubah.


Pandangan mata Melinda yang semula menajam, mendadak luluh saat melihat Bizard. Tak ada harapan lain, jika Choco tak dapat membantunya, maka dia akan mencoba merayu Bizard. Sebab dia tahu, pria itu jauh lebih lembut ketimbang Aneeq.


"Bee, bagaimana pun aku adalah mantan calon istri adikmu. Apakah kamu tidak memiliki rasa kasihan sedikitpun terhadap aku?" tanya Melinda dengan suara mengiba. Bola matanya pun berkaca-kaca, menampakkan kesedihan penuh kepura-puraan.


Bizard menghela nafas, karena Melinda malah bermain drama di depannya. "Maaf, Nyonya. Di sini saya sedang bekerja, saya dibayar. Jadi, saya tidak bisa membela Anda, meskipun Anda itu mantan calon istri adik saya, atau mantan istri saya, atau bahkan salah satu keluarga saya. Saya tegaskan, itu tidak berpengaruh. Lagi pula saya hanya membela orang-orang yang benar."


Tangan Melinda seketika mengepal kuat mendengar jawaban Bizard. Jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


"Kalian benar-benar jahat, kalian sekongkol untuk menghancurkan aku!" teriak Melinda histeris, dia kembali mengamuk tetapi untungnya pihak kepolisian langsung mengamankan aksi pemberontakan Melinda.

__ADS_1


Di tempatnya Bizard dan Pram hanya bisa geleng-geleng kepala.


***


Kembali pada Choco yang sedang kalang kabut karena kehilangan istri kecilnya. Dia menyetir dengan pikiran yang benar-benar kacau. Bukannya dia tidak mengerti kalimat yang ditulis oleh Prilly, tetapi apakah benar gadis itu sudah tidak bisa bertahan di sisinya?


"Prill, jangan membuatku merasa bersalah lebih dari ini, karena selamanya aku tidak akan bisa hidup dengan tenang," gumam Choco sambil menggigit ujung kukunya. Dia memang tidak tahu harus ke mana mencari Prilly. Jadi, kampus adalah satu-satunya yang bisa dia tuju. Berharap Prilly masih ada di sekitarnya.


Choco menambah kecepatan. Tak peduli pada kondisi tubuhnya, yang terpenting sekarang dia bisa menemukan gadis manis itu. Sebelum Prilly pergi terlalu jauh.


Sampai di kampus, Choco langsung memarkirkan mobilnya. Kini, dia hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku dan celana jeans.


Meskipun dia belum membersihkan seluruh tubuhnya, tetapi karisma pria itu tetap terpancar sejak dia keluar dari mobil.


Tak ada tujuan lain selain pemuda bernama Ezza. Sehingga dia langsung melangkah ke arah kelas Prilly.


"Permisi," ucap Choco sambil mengetuk pintu, sebab kegiatan belajar-mengajar sedang berlangsung. Kebetulan di sana Luna yang menjadi dosen pembimbingnya.


Choco sedikit tersentak. Sakit? Siapa yang membuat izin seperti itu?


"Saya ada urusan dengan Ezza, bisa beri waktu kami untuk bicara sebentar?" jawab Choco, tak ingin basa-basi apalagi meladeni pertanyaan Luna yang tidak penting.


Mendengar namanya disebut tentu Ezza tahu apa yang akan dilakukan pria itu. Luna tidak bisa untuk tidak mengizinkan. Hingga kini kedua pria berbeda usia itu berdiri dengan saling berhadapan.


"Ada apa?" tanya Ezza lebih dulu dengan suara yang datar. Malas meladeni Choco.


"Aku tahu kamu adalah sahabat istriku. Aku tahu kalian sangat dekat. Tapi aku mohon, aku minta untuk sekali ini saja kamu bantu aku, katakan di mana dia sekarang. Kami butuh bicara, bukan saling melepas begitu saja," ujar Choco dengan suara yang terdengar bergetar penuh mengiba. Lain seperti biasanya.


Ezza bergeming, sebab dia pun tidak tahu Prilly akan pergi ke mana. Tadi pagi Prilly hanya mengatakan bahwa dia izin untuk tidak masuk kuliah untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Bahkan Prilly akan tetap pergi meskipun pihak kampus tidak mengizinkan.

__ADS_1


"Aku tidak perlu menguraikan semua kesalahanku di depanmu, karena kamu pasti sudah tahu itu. Jadi, aku mohon, aku mohon, Za. Berikan aku kesempatan untuk meminta maaf padanya," sambung Choco dengan sesak yang semakin mendera.


Bahkan dengan cepat dia memalingkan wajah, agar Ezza tidak perlu melihat air matanya yang tiba-tiba menetes. Mengingat betapa banyaknya kesalahan yang sudah dia perbuat pada istri kecilnya.


"Saya tidak tahu!" jawab Ezza dengan lugas. Sebab dia berpikir bahwa Prilly pergi, itu artinya dia sudah tidak sanggup bertahan di sisi Choco.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Choco dengan mimik wajah terperangah.


"Ya, saya sangat yakin. Dia pergi tanpa meninggalkan pesan apapun. Dan saya tahu semua itu karena dia sudah tidak bisa bertahan di sisi anda. Jadi, jangan libatkan saya!" tegas Ezza, lalu tanpa menunggu jawaban Choco, dia segera pergi meninggalkan suami dari sahabatnya.


Sementara Choco harus menelan kekecewaan. Karena orang terdekat Prilly pun tidak tahu. Namun, dia tidak akan menyerah begitu saja.


Tiba-tiba Choco merogoh ponselnya, lalu dengan cepat menghubungi orang yang kemarin menyelidiki indentitas Melinda.


"Aku ingin memberi tugas baru untukmu!"


"Apa itu, Tuan?"


"Bantu aku mencari istriku, lacak ponselnya dan apapun yang bisa kamu lakukan. Dan jangan lupa, kerahkan semua rekanmu, karena aku ingin segera bertemu dengannya!" tegas Choco. Lalu setelah dia selesai bicara, panggilan itu langsung terputus begitu saja.


Choco berlari untuk kembali masuk ke dalam mobilnya. Membawa kendaraan roda empat itu mengelilingi ibu kota. Berharap dengan begitu dia bisa menemukan istrinya.


"Maafkan aku untuk semuanya, Pril," lirih Choco sambil menatap jalanan yang ia lewati dengan penuh kesedihan.


***


Yang belum tahu kisahnya Abang Bizard alias Bee (Si Lebah Madu)


Ada di bawah sini yaaa🤗🤗🤗

__ADS_1



__ADS_2