Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 51. Tanggung Jawab


__ADS_3

Pagi harinya.


Choco terbangun seperti biasa. Akan tetapi pagi ini dia masih belum bisa melihat wajah Prilly. Karena kejadian kemarin bukanlah sebuah mimpi. Ini nyata, bahwa Prilly benar-benar meninggalkan dia.


Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Choco termenung di tepian ranjang. Pikirannya kusut hingga tatapan matanya terlihat kosong.


Hingga tiba-tiba dia berjalan ke arah lemari pakaian. Dia membuka benda persegi panjang itu dengan perlahan. Kosong! Semua pakaian istrinya sudah tidak ada di sana. Namun, dia menemukan sebuah kain yang terlipat rapih.


"Apa itu?"


Choco meraihnya, dan ternyata kain itu adalah sebuah syal. Tidak ada yang istimewa dari sebuah syal, semuanya tampak biasa saja, tetapi yang membuat pria itu tergugu adalah dua nama yang tersemat di sana.


Choco meremat dan mencium syal itu dengan penuh perasaan. "Ini pasti buatanmu. Kamu ingin aku menerimanya? Ya, aku telah menerimanya, aku akan pakai ini setiap hari. Tapi berjanjilah, jangan lama-lama di luar sana."


Lantas setelah itu Choco menaruh syal tersebut di lemarinya. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Pagi ini dia harus mengajar, karena dia tidak mungkin bisa lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang dosen.


Setelah pulang kuliah, baru dia akan kembali mencari istrinya. Ke manapun, tidak peduli dia harus kembali berkeliling ibu kota.


Di meja makan, semua orang sudah berkumpul. Choco ikut bergabung dan terpaksa menyantap sarapannya. Dia melakukan itu semua karena teringat dengan pesan Zoya, dia tidak boleh sakit atau pencarian Prilly akan semakin sulit.


Semua makan dengan tenang, sampai waktu sarapan benar-benar selesai. Namun, sebelum mereka pergi dari meja makan untuk melanjutkan kegiatan masing-masing. Ken lebih dulu memanggil Aneeq, Choco, dan Caka.


"Ikut Daddy!"

__ADS_1


Ketiga pria itu saling pandang, tetapi mereka tidak akan mungkin mampu menolak. Hingga kini mereka semua berhadapan dengan sang raja ular. Seperti hendak diadili dengan seadil-adilnya.


Ken tampak menunjukkan raut datar, di wajahnya yang sudah mulai berkeriput, nyaris tak ada senyum yang tersemat. "Ke mana istrimu?" Tanya pria paruh baya itu untuk pertama kali.


Dan mereka tentu tahu pertanyaan itu ditunjukkan untuk siapa.


Choco langsung menundukkan pandangan matanya. Ragu untuk menjawab, karena dia tidak tahu kemarahan seperti apa yang akan dia dapat. "Dia—" Suara itu terjeda. "Dia pergi, Dad." Sambungnya lemah.


"Ke mana?"


"Aku tidak tahu."


"Kenapa bisa? Kamu menyakitinya?Kamu membuat kesalahan fatal?" cecar pria paruh baya itu.


"Apa fungsimu sebagai suami? Apakah hanya untuk membuat hatinya terluka? Apakah kamu tidak ingat, saat kamu menyebut namanya di hadapan Tuhan, maka tugasmu adalah membahagiakannya?"


Tidak ada yang berani bersuara.


"Sudah berapa kali Daddy dan Mommy memperingati kamu? Sudah berapa kali kami berusaha membuat kamu menerima Prilly? Apa kamu sama sekali tidak menyadarinya? Apa kamu terlalu bodoh untuk mengerti apa maksud kami? Sekarang kamu merasakan bagaimana ditinggalkan oleh orang yang bisa menerima kamu apa adanya, bertahan di sisimu meskipun kamu kerap bersikap tidak baik. Apakah menyenangkan? Daddy tanya, apa semenyenangkan itu?" tanya Ken sambil terus menatap putra ketiganya yang hanya bisa menunduk dalam.


Sebab Choco telah menyadari semua kesalahannya. Awal mereka bersama memang tidak baik, dia terlalu berfokus pada kesalahan Prilly hingga tidak menyadari kebodohannya sendiri.


"Ya, aku salah, Dad. Aku salah karena telah menyia-nyiakan dia hingga dia memilih untuk pergi. Dan sekarang, aku sedang berusaha untuk mencari Prilly, aku akan membawanya pulang," jawab Choco dengan bibir yang bergetar. Air mukanya sudah memerah, tetapi dia berusaha untuk tetap tegar di depan semua orang.

__ADS_1


"Bagus! Karena kamu menyadari kesalahanmu. Cari dia dengan usahamu! Pertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan padanya. Karena Daddy tidak akan mengizinkan Aneeq ataupun Caka membantumu!" tegas Ken dengan tatapan yang tak main-main.


Choco tidak keberatan sedikitpun. Karena dia tahu sang ayah tengah mengajarkan tanggung jawab kepadanya. Dan acara menghargai apa yang sudah menjadi miliknya.


Sementara Aneeq dan Caka hanya bisa bergeming, mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir pria yang ada di depan mereka.


"Iya, Dad. Aku akan berdiri dengan kakiku sendiri. Dan membuktikan bahwa aku bisa membawa Prilly kembali," jawab Choco dengan tekad yang kuat. Dia akan bekerja keras, tak peduli butuh berapa banyak waktu yang harus dia habiskan.


Sementara gadis yang ia cari, masih bergelung di dalam selimut. Waktu pagi adalah waktu untuk bermalas-malasan. Apalagi kini tempat tinggalnya adalah di dekat pantai.


"Kira-kira apa yang akan dia lakukan? Apakah dia benar-benar akan mencariku seperti kata Kak Aneeq. Semoga saja iya, kalau tidak—masa aku jadi janda muda?"


***


5 tahun kemudian ....


Eh salah 🤣🤣🤣


Oiya guys, minta tolong dong buat dukung Bang Choco di lomba update tim ke3 😍😍😍


Caranya ada di bawah yaa, terima kasih 🙏


__ADS_1



__ADS_2