
Setelah membaca beberapa isi diary istrinya. Choco pun keluar dari rumah itu. Dia masih memiliki semua waktu untuk mencari keberadaan Prilly. Dan dia akan menggunakannya sebaik mungkin.
Dia kembali masuk ke dalam mobil, membawa buku itu dalam genggamannya. Walaupun dia tidak memiliki tujuan, tetapi setidaknya dia telah berusaha.
Sebab dia tidak tahu di mana tempat favorit Prilly, ke mana biasa gadis itu pergi. Karena dia selalu menganggap hal-hal kecil itu tidak penting sama sekali. Dan sekarang, hanya penyesalan yang mengendap di dadanya.
Sambil menyetir, Choco kembali menghubungi nomor istrinya. Namun, jawabannya sama. Karena sepertinya Prilly sengaja memutus semua akses yang dapat menghubungkan mereka berdua.
"Kamu benar-benar ingin meninggalkanku, Pril? Bukankah kamu sendiri yang memutuskan untuk mendapatkan aku? Aku menyerah, Pril. Aku kalah, kamu berhasil meluluhlantakkan hidupku," gumam Choco sambil meratap.
Tiap jalanan yang ia lewati seperti memori yang tengah diputar ulang. Menyisakan rasa sakit di hatinya. Hingga mata Choco hanya bisa menatap nanar.
Karena tak mendapat jawaban dari sang istri, Choco pun beralih untuk menghubungi anak buahnya. Siapa tahu di antara mereka telah menemukan jejak kepergian Prilly.
"Maaf, Tuan. Kami belum bisa menemukan titik terang. Karena titik lokasi terakhir di ponsel Nona adalah di mansion," ucap seorang pria yang ada di seberang sana.
"Lalu apa kamu sudah cek jadwal penerbangan atau di beberapa titik jasa kendaraan umum?"
"Itu yang sedang kami upayakan. Semoga ada hasilnya."
"Berapa orang yang turun?"
"Sekitar 50 orang, Tuan."
__ADS_1
"Tambah lagi, lebih banyak lebih cepat!"
"Baik, Tuan."
Nafas Choco terdengar memburu dengan mimik wajah yang tak bergairah. Dia melemparkan ponsel ke kursi yang ada di sampingnya.
"Kamu boleh berniat pergi. Tapi ingat, aku akan membawamu kembali. Karena aku tidak akan memaafkan diriku, sebelum aku bisa menemukanmu," ucapnya dengan penuh keyakinan.
Mobil mewah itu melandas dengan kecepatan sedang. Dari ia terbangun sampai hari hampir gelap, waktunya hanya dihabiskan untuk mencari keberadaan Prilly.
Dia tidak peduli meski perutnya terus berteriak. Karena rasanya untuk menelan makanan pun dia tidak bisa.
Choco terus berkeliling ibu kota. Berhenti di beberapa terminal bus, untuk menanyakan apakah ada orang yang melihat istri kecilnya? Namun, sampai malam menjelang. Pencarian Choco tidak membuahkan hasil sedikitpun.
Choco menghela nafas panjang. Sementara ponselnya terus bergetar di dalam mobil. Karena ada panggilan dari Zoya. Sebagai seorang ibu, tentu dia akan mengkhawatirkan anaknya, karena sampai pukul 8 malam Choco belum juga kembali ke rumah.
"Halo, Mom," ucap Choco saat ia sudah duduk di kursi kemudi. Karena dia pun tak ingin membuat sang ibu cemas, apalagi jika hal tersebut sampai di telinga sang ayah. Bisa-bisa dia digantung di menara.
"Sayang, kamu di mana? Kamu sudah makan? Kenapa belum pulang, ini sudah malam," kata Zoya memberondongi anaknya dengan banyak pertanyaan.
Dia bukan tidak tahu tujuan Choco. Namun, pria itu pun harus ingat dengan kesehatan. Kalau Choco sampai sakit, maka Zoya juga akan merasakan kesakitan yang sama.
"Aku masih di jalan, Mom. Apakah Prilly sudah pulang?" jawab Choco dengan sebuah pertanyaan pula. Dia berharap ibunya menjawab iya.
__ADS_1
Mendengar itu, kesedihan jelas terlihat di mata Zoya. "Belum, Sayang." Jawabnya dengan suara lemah.
"Maka dari itu, aku tidak akan mungkin bisa pulang sebelum menemukan istriku, Mom. Aku harus membawanya bersamaku," jawab Choco yang membuat Zoya langsung mengalirkan bulir-bulir bening dari pelupuk matanya.
Zoya mengusap pipinya dengan pelan, lalu menganggukkan kepala. Dia tahu putranya bersalah, jadi dia tidak ingin membelanya. Biarlah ini semua menjadi pelajaran untuk Choco, agar lebih baik untuk menjalani kehidupan selanjutnya.
"Kamu bisa pulang dulu, nanti setelah itu kamu boleh pergi lagi. Mommy tidak mau kamu sakit, karena ketika itu terjadi, yang menyesal itu kamu. Kamu tidak bisa lagi mencari keberadaan Prilly," kata Zoya, mencoba untuk menasehati.
Choco bergeming sejenak untuk mencerna ucapan ibunya. Dan semua itu benar, ketika dia sakit dan tidak berdaya, maka masih bisakah dia mencari keberadaan istrinya dengan maksimal? Jawabannya tidak!
"Iya, Mom. Sebentar lagi Choco pulang," putusnya lemah.
"Baiklah. Hati-hati terus ya, Sayang. Doa Mommy selalu menyertai kebahagiaan kalian berdua."
Choco hanya bisa menunduk dan menjawab ya. Lantas setelah itu Zoya memutuskan panggilan lebih dulu. Sementara Choco mencari keberadaan Prilly sekali lagi. Karena hatinya tidak akan pernah bisa tenang, sebelum dia melihat wajah itu, wajah gadis yang sudah mengorbankan masa depannya, hanya untuk menyelamatkan dia dari kebusukan Melinda.
Hingga pada pukul 12 malam, Choco baru sampai di mansion. Di ruang tamu dia bertemu Zoya, wanita paruh baya itu memintanya untuk makan. Namun, sumpah demi apapun, dia tidak berselera.
Dan dia lebih memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia menjatuhkan tubuh di atas ranjang, lalu melirik ke arah sofa. "Pril, setelah ini kita tidur berdua yah. Aku menunggumu." Lirihnya sambil memejamkan mata.
***
Enaknya Neng Prilly balik sama Bang Choco apa nggak? 🥱
__ADS_1
Ayo berikan taburan cinta kalian 🤸🤸🤸