
Kabar bahagia itu disambut dengan antusias, bahkan Zoya langsung menghambur memeluk sang menantu, untuk mengucapkan selamat atas kehamilan Prilly.
"Sayang, selamat ya. Semoga kamu dan juga bayi ini selalu sehat," ucap Zoya dengan tersenyum sumringah. Di kamar itu, semua orang yang ada di mansion tampak berkumpul, kecuali delapan bocah kecil yang sudah mulai bersekolah. Mereka sudah berangkat semua.
"Cucuku tambah berapa lagi setelah ini?" celetuk Ken yang membuat semua orang terkekeh-kekeh.
"Sepertinya tidak akan satu. Keturunan Daddy 'kan begitu," timpal Eliana, menggoda Choco yang senantiasa menunjukkan wajah sumringah. Bagaimana tidak? Sebentar lagi akan hadir malaikat kecilnya, sebagai penyempurna keluarga.
"Hei, kalian melupakan aku dan Cyara. Anak pertama kami itu satu!" Tiba-tiba De menyambar ucapan adiknya. Karena di antara saudara kembarnya, hanya dia yang tidak memiliki anak kembar. Ya, mungkin gen Cyara lebih kuat.
"Halah sama saja, anak pertamamu satu, tapi tiap tahun produksi terus. Ya, sama saja! Hanya saja kamu pakai sistem mencicil!" timpal Aneeq sewot.
Menciptakan gelak tawa yang jauh lebih kencang dari sebelumnya. Sementara De hanya bisa garuk-garuk kepala. Karena memang begitulah kenyataannya.
"Makanya tidak usah memungkiri!" ucap Aneeq lagi, mencibir dokter mesyum yang suka menyuntik istrinya.
"Aku kan bicara jujur, An."
"Tapi kejujuranmu tidak diterima. Karena yang jelas, sekarang anakmu juga ada tiga. Skor sama!"
"Hei, kenapa malah berdebat tentang anak? Perlu kalian sadari, bahwa tidak akan ada yang bisa menandingi skor Daddy!" tukas Ken dengan membusungkan dada, membuat Zoya geleng-geleng kepala. Tingkah Ken memang tidak jauh dengan anak-anaknya.
__ADS_1
"Yah, seharusnya kita tidak melupakan itu. Ular tertua memang paling mematikan bisanya," timpal De.
Gelak tawa kembali membahana. Dan semua itu membuat Prilly merasakan kehangatan keluarga yang sempat hilang dari hidupnya.
Dia merasa begitu beruntung, masuk dalam keluarga suaminya. Karena mereka memiliki solidaritas yang tinggi, tak peduli siapapun itu, jika salah maka dianggap salah. Jika benar, maka akan dibela.
"Sayang, bagaimana dengan keadaanmu? Apakah masih terasa mual? Kalau iya, tidak usah kuliah dulu. Nanti biar aku yang minta izin," ucap Choco sambil mengelus pipi Prilly dengan penuh perhatian.
Sementara semua orang sudah berangsur keluar, meninggalkan sepasang suami istri yang tengah berbahagia itu.
"Lebih baik kamu istirahat dulu, Pril. Jangan dipaksa untuk berkegiatan kalau masih lemas," sambar Zoya sambil meraih gelas kosong yang ada di atas nakas.
"Iya, Sayang. Aku akan mengikuti semua yang kamu ucapkan. Aku akan menjaga bayi kita sebaik mungkin," ujar Prilly dengan tatapan matanya yang sedikit sayu. Lalu pandangan itu bergerak untuk melihat ibu mertuanya yang masih berada di sana. "Mom, terima kasih ya."
Zoya tersenyum manis.
"Iya sama-sama, Sayang. Nanti akhir pekan, kita buat perayaan kehamilanmu ya, kita makan-makan di luar dengan seluruh keluarga."
Prilly mengangguk setuju, sudah membayangkan betapa ramainya ketika mereka pergi bersama. Pasti akan sangat seru.
Akhirnya Zoya pun pamit, hingga kini hanya ada mereka berdua. Sekali kali, Choco memeluk dan menciumi wajah Prilly, mengungkapkan rasa bersyukurnya atas kehamilan gadis itu.
__ADS_1
"Hari ini aku juga izin, aku akan menemanimu seharian," kata Choco, memutuskan untuk tidak pergi ke kampus. Karena dia tidak akan mungkin bisa tenang, meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini.
***
Sementara di bumi belahan lain, Melinda sedang menahan rasa sakit di perutnya, karena selama di penjara ia selalu dibully oleh teman-teman satu selnya.
"Makanya jadi orang itu jangan belagu! Aku sudah bilang ambil lagi sarapanmu, kamu malah melotot seperti itu! Sekarang tahu rasa 'kan kamu? Mau membantah lagi, ha??" ucap seorang wanita yang merupakan ketua sel tahanan. Seseorang yang paling ditakuti di antara mereka.
Baru saja Melinda membuat kesalahan karena tidak mau memberikan sarapannya. Alhasil dia dorong dan ditendang tanpa belas kasih oleh wanita itu.
Tidak ada yang mampu menolongnya, karena mereka tidak mau terlibat dan berakhir dipukuli seperti Melinda.
Wanita itu menggeleng lemah dengan air mata yang bercucuran. Merasa tidak memiliki kekuatan apapun. Sebab sepatah katapun tidak bisa ia keluarkan dari mulutnya.
"Haha, kalau begitu pergi sana! Aku muak melihat bibirmu yang besar itu," usirnya sambil tertawa-tawa. Seperti seseorang yang tidak pernah berbuat salah.
***
Nih gue kasih silsilah keluarga besar si raja uler. Disimpen yeh, biar inget kalo kita tuh udah tua🙄🙄🙄
__ADS_1