
"Pril, kamu kenapa? Sayang, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Choco sambil menepuk-nepuk pipi istrinya. Kini mereka sudah ada di gazebo dekat kolam renang, tetapi setelah menghabiskan beberapa permainan Prilly terlihat tidak sadarkan diri.
Dada gadis itu terlihat naik turun, tetapi matanya tak mau terbuka meskipun Choco terus menepuknya.
"Jangan buat aku takut, Pril. Buka matamu!" Choco menundukkan wajah, lalu memeriksa suhu tubuh juga denyut nadi istrinya. Semua tampak biasa saja, tetapi kenapa Prilly tidak mau bangun?
Tiba-tiba kekhawatiran merasuk dalam hati pria tampan itu. Dia langsung mengangkat tubuh Prilly, dan berencana untuk membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat.
"Maaf kalau aku membuatmu sedikit tersiksa," gumamnya sambil melangkah ke arah kamar. Choco mengaku salah, karena terlalu banyak meminta jatah. Namun, ini semua hanya bentuk euforia-nya, karena dapat menemukan Prilly.
Choco segera membaringkan tubuh Prilly di atas ranjang, lalu mencari pakaian gadis itu di dalam koper. Tak peduli dengan dirinya yang masih telanjang, dia segera membantu Prilly untuk memakai pakaian.
Akan tetapi sebelum Choco melakukan itu semua, sebuah tangan tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya. Wajah Choco tampak terperangah, dia langsung mengarahkan pandangan matanya pada tangan langsing itu. "Pril?" Lirih Choco, manik matanya bergerak naik untuk melihat Prilly yang sedikit demi sedikit membuka matanya.
"Kamu mau apa, Kak?" tanyanya dengan suara lemah. Tenaganya sudah terkuras habis karena meladeni pria satu ini. Tak disangka ternyata Choco sangatlah perkasa, hingga mampu membuat punggungnya hampir patah.
"Sayang, kamu sudah sadar? Katakan apa yang kamu rasakan? Apakah kita perlu ke dokter?" tanya Choco cepat, dia menangkup satu sisi wajah Prilly dengan tangan besarnya. Sementara gadis itu malah tersenyum. Merasa lucu.
"Tidak, Sayang. Aku tidak membutuhkan dokter, aku hanya butuh istirahat. Aku sangat lelah melawan ular kesayanganmu, ototnya sangat kuat ternyata," rancau Prilly dengan terengah-engah. Dia melepaskan genggaman tangannya pada Choco, lalu kembali tergeletak tidak berdaya.
__ADS_1
"Jadi, kamu tidak apa-apa?" tanya Choco masih terlihat bingung. Sementara Prilly sudah tidak sanggup untuk menjawab, tenggorokannya kering karena terlalu banyak mendesaah.
Melihat istrinya yang bergeming, Choco mulai bisa menyimpulkan bahwa Prilly memang tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, gadis itu ingin membuatnya berhenti karena sudah terlalu lelah.
Choco tersenyum lebar, ia mengurungkan niatnya untuk membantu Prilly memakai baju. Dan beralih untuk naik ke atas ranjang.
Sebelum berbaring dia menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang keduanya. Lalu bergerak memeluk tubuh Prilly. "Sayang, kamu membuatku takut. Kenapa tiba-tiba diam seperti itu?" Tanyanya.
Tangan pria itu tak berhenti meraaaba, hingga bermuara pada pucuk dada Prilly yang hanya sebesar biji kopi.
"Sshhh," desis Prilly, karena merasa pedih pada area dadanya. Area yang mendapat banyak sekali hisapan, hingga menimbulkan bercak merah, tanda kepemilikan.
"Ada apa, Sayang? Kamu sakit?"
"Aku bermain terlalu kasar?"
Prilly menggeleng, tak ingin munafik ia sangat menyukai permainan suaminya. "Mungkin hanya belum terbiasa, kan ini pertama kalinya kamu meminta lebih."
Choco mengelus lembut wajah Prilly, hingga berakhir mengecup benda ranum milik istrinya. "Maaf membuatmu lelah." Katanya, tapi dia tidak benar-benar menyesal. Justru dia sangat suka melihat Prilly kalah dalam pertarungan.
__ADS_1
"Tidak apa, hanya untuk hari ini. Besok kita kurangi."
"Tapi aku tidak mau kalau sekali."
"Terus berapa?" tanya Prilly, semakin menatap lekat, bahkan dia mulai berani untuk memainkan rambut suaminya.
"Minimal tiga, bagaimana?"
Pergerakan Prilly langsung terhenti. "Apa tidak terlalu banyak?"
Choco langsung menggeleng keras.
"Tidak, Sayang. Itu sudah paling ideal, dan aku juga mau saat kamu menghilang semuanya dihitung hutang."
Kening Prilly berkerut, tak paham dengan apa yang diucapkan oleh suaminya. Sementara pria itu sudah tersenyum-senyum tidak jelas. "Maksudnya?"
"Kemarin kamu menghilang selama sebulan lebih. Tapi karena aku baik, aku akan menghitungnya hanya 30 hari, jadi 30 dikali 3 sama dengan 90. Nah, itu hutang yang harus kamu bayar ke depannya. Aku minta sehari 3 kali, kalau aku minta lebih, anggap saja aku sedang menagih hutangmu!" jelas Choco dengan gamblang, membuat Prilly menelan ludahnya susah payah.
"Hah, aku mau pura-pura pingsan saja."
__ADS_1
***
Serah lu dah, Bang🙄🙄🙄 gue mah mau kondangan