
Choco mengelap dahi Prilly yang berkeringat, karena gadis itu terlihat sangat bersemangat untuk bermain air. Padahal selama di dalam villa, mereka selalu basah-basahan berdua.
"Sayang, kamu tidak lelah?" tanya Choco sambil menyelipkan anak rambut Prilly. Cuaca pagi ini cukup terik, tetapi itu semua tak membuat Prilly mengeluh sedikitpun.
Dia seperti terbebas dari sangkar emas, sehingga dia berniat untuk menghabiskan seluruh waktunya bermain di pantai.
"Tidak, Kak. Tapi aku haus, aku ingin minum kelapa muda," jawab Prilly apa adanya. Padahal Choco sudah membawa dua botol air mineral dan beberapa snack. Akan tetapi semua itu tidak menarik sama sekali di mata Prilly.
"Kalau begitu ayo beli!" Ajak Choco sambil meraih pergelangan tangan istrinya, ingin menarik gadis itu menjauh dari bibir pantai.
Namun, lagi-lagi Prilly menolak, dia segera menahan tangan Choco dengan bibir yang mengerucut lucu.
"Tidak mau, aku maunya Kakak yang beli, aku masih ingin bermain air dan pasir."
Choco menghela nafas, dia tidak ingin egois dengan terus mengekang istrinya. Jadi, dia memutuskan untuk membiarkan Prilly bermain sesuka hati. "Baiklah, nanti aku akan kembali membawa kelapa muda sesuai keinginanmu."
Mendengar itu, Prilly langsung tersenyum sumringah. Bahkan dia tidak segan lagi untuk menunjukkan kemesraan di depan umum, ya, dia mengecup pipi Choco sekilas sebagai tanda terima kasih.
"Terima kasih, Suamiku."
Choco menggigit bibir karena merasa gemas, andai posisi mereka ada di dalam villa, mungkin dia sudah bisa menyerang Prilly saat itu juga. Pria tampan itu mencapit hidung mancung Prilly, lalu memberi tatapan ancaman. "Awas kamu yah!"
"Apa? Kamu tidak bisa melakukannya di sini. Jadi lebih baik cepat belikan aku kelapa muda sekarang, karena aku sangat haus," kata Prilly dengan wajah mengejek.
"Aku akan membalasmu di villa!"
__ADS_1
Akhirnya mau tidak mau Choco pun menuruti perintah istri kecilnya. Dia melangkah untuk mencari penjual kelapa muda. Dan ternyata tak jauh dari tempatnya berdiri, Choco sudah bisa menemukan apa yang ia cari.
"Carikan yang bagus, ini untuk istri saya," ucap Choco pada sang penjual.
Dia menunggu dengan tenang sambil memperhatikan Prilly yang masih asyik dengan dunianya sendiri. Ada lengkungan yang jelas terlihat dari kedua sudut bibir pria itu, tanda bahwa dia sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk memperbaiki rumah tangga mereka.
Sudah cukup dia merasa bodoh dengan semua kebohongan Melinda. Dia tidak ingin lagi mengulang kesalahan yang sama.
Sekarang tugasnya hanya untuk membahagiakan Prilly, dan membina rumah tangga sampai maut memisahkan mereka berdua.
"Kak Choco," panggil seseorang, membuyarkan fokus pria tampan itu. Choco menoleh dan mendapati seorang wanita yang sangat dikenalnya.
Wanita itu tersenyum lebar, tidak menyangka bahwa dia bisa bertemu dengan Choco di tempat ini. Sedari tadi dia memperhatikan pria itu, untuk meyakinkan diri akhirnya dia mencoba untuk memanggil.
"Clarissa? Kamu ada di sini juga?" Choco balik bertanya, karena merasa terkejut melihat wanita yang sempat ia suka berada di tempat yang sama.
"Iya, Kak. Aku sedang ada perjalanan bisnis di sini, sekalian berlibur. Kalau kamu bagaimana? Kakak datang sama siapa?" tanya Clarissa, tentunya dengan senyum ramah yang begitu khas. Kini, dia telah memegang pimpinan tertinggi di perusahaan ayahnya, jadi tidak heran jika dia kerap pulang pergi luar kota.
Choco terlihat tidak fokus, karena sedari tadi dia terus menoleh ke belakang. Tak ingin melepas pantauannya pada sang istri.
"Kak," panggil Clarissa, karena Choco tak menjawab pertanyaannya. Dia juga mengikuti ke mana arah tatapan pria tampan itu. Hingga Clarissa bisa melihat Prilly yang sedang tertawa-tawa.
Menyadari itu, Clarissa pun langsung paham. Ada sedikit rasa sesal di dalam dada wanita itu, tetapi ia bisa apa? Sekarang Choco telah menikah, dan dia tahu itu.
"Tuan, ini kelapa yang anda minta," ucap sang penjual tiba-tiba, membuat Choco kembali tersadar. Pria itu segera mengeluarkan uang untuk membayar tagihan, lalu menatap Clarissa sekilas.
__ADS_1
"Cla, aku—"
"Kakak sedang berbulan madu ya?" tebak Clarissa, dia tahu siapa Prilly karena mendengar cerita dari saudara tirinya—Cyara—istri dari dokter Derrick.
Choco mengangkat kepala, dia tersenyum tipis untuk menanggapi ucapan Clarissa. Mungkin dulu ia akan sangat senang jika mengobrol dengan wanita yang ada di hadapannya, tetapi tidak untuk sekarang.
"Iya, Cla. Kebetulan dia punya villa di dekat sini, jadi kami menggunakan tempat itu untuk quality time berdua. Sekarang dia sedang kehausan, jadi aku harus segera membawa kelapa muda ini kepadanya," jawab Choco sambil mengangkat buah kelapa yang ada di tangannya.
Sadar kini dia bukanlah siapa-siapa, Clarissa pun langsung menganggukkan kepala. Meskipun Choco masih terlihat ramah, tetapi ada dinding tak kasat mata yang membatasi mereka berdua.
"Iya, Kak. Salam untuk istrimu ya," balas Clarissa berusaha mempertahankan senyum manisnya.
Choco langsung mengangguk, tidak ada lagi kalimat yang keluar dari mulut pria tampan itu, karena detik selanjutnya dia langsung melangkah pergi untuk menghampiri Prilly.
"Sayang," panggil Choco dengan wajah sumringah, ketika ia hampir tiba di hadapan istri kecilnya.
Namun, tiba-tiba tatapan Prilly berubah dengan bibir yang mencebik kesal. "Siapa?" Tanyanya sambil menunjuk Clarissa.
Deg.
***
Masih inget dengan Clarissa? 😌
__ADS_1