Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 42. Makan Malam


__ADS_3

Tuan James menghampiri Melinda dengan wajah yang sangat sumringah, ingin membuat wanita itu percaya bahwa malam ini dia begitu bahagia.


Tepat di hadapan wanita cantik itu, Tuan James mengulurkan tangannya, dan hal tersebut tentu saja membuat Melinda salah tingkah. "Oh my God, ternyata anda benar-benar tipe pria romantis."


Tuan James berkedip genit sambil menggenggam tangan Melinda. "Tentu saja, Baby. Apalagi ini kesempatan bagus untuk mendapatkan hatimu. Malam ini kamu terlihat sangat cantik."


Dada Melinda seperti dihinggapi bunga-bunga. Dia semakin berbangga diri, karena sampai sekarang pesona wajahnya masih bisa diandalkan.


"Anda juga terlihat tampan, Tuan," ucap Melinda membalas pujian Tuan James, bahkan tanpa enggan Melinda langsung memeluk lengan pria paruh baya itu.


"Ternyata kamu pandai merayu." Tuan James mengetuk pucuk hidung Melinda, hingga menghasilkan kekehan kecil. Lantas setelah itu, mereka melangkah sambil bergandengan tangan untuk masuk ke dalam restoran hotel.


Malam ini Tuan James benar-benar menghayati perannya, dia menarik kursi untuk Melinda, persis seperti pria yang sedang kasmaran.


Tak hanya itu, sesekali dia juga mengelap pinggiran bibir Melinda saat mereka makan. Pura-pura melihat sisa makanan yang tertinggal. "Lain kali aku akan mengambilnya dengan cara lain."


"Cara lain? Maksudnya?" tanya Melinda dengan kening yang mengernyit. Sama seperti pria yang ada di hadapannya, Melinda pun menjaga sikap dengan berusaha lemah lembut, dan senantiasa bertutur kata anggun.


Pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu terkekeh kecil, suka menggoda wanita yang polos. Alias pura-pura bodoh seperti Melinda. "Aku akan menggunakan lidahku untuk membersihkan sisa makanan di mulutmu."


"Astaga, Tuan. Bicaramu sangat vulgaar! Ingat, kita tidak ini sedang ada di luar," tegur Melinda dengan mata yang melebar sempurna. Dia melirik ke sana ke mari, di mana ada beberapa meja yang terisi.


Tangan Tuan James terangkat untuk sekedar mengelus pipi Melinda dengan lembut. "Maafkan aku, Baby. Tapi, apakah ada tempat khusus untuk kita membicarakan hal-hal seperti itu?"


Melinda melengoskan wajahnya yang memerah, merasa tersipu dengan ucapan Tuan James. "Tuan, tapi kita baru saja saling mengenal. Apa tidak sebaiknya—"


"Butuh berapa lama kamu beradaptasi dengan seorang pria? Apakah tidak bisa secepat aku yang menyukaimu dari pandangan pertama?" sela pria itu, hingga membuat Melinda menghentikan ucapannya.

__ADS_1


Melinda mengangkat kepala, hingga kedua netra mereka bersitatap, Tuan James menampakkan sorot teduh penuh damba, membuat Melinda tertipu dengan duda kaya raya itu.


"Kamu serius dengan ucapanmu?" tanyanya.


Tuan James berdecih dalam hati, lalu menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Melinda. "Aku adalah pria matang, Baby. Hidupku sangat simpel dan jauh dari kepalsuan. Aku suka sekss dan paling anti bermain-main. Kalau aku sudah menentukan pilihan, itu artinya aku serius dengan ucapanku." Bisik pria itu tepat di telinga Melinda. Membuat wanita itu langsung meremang-remang tidak karuan.


Dengan reflek Melinda menggigit bibir bawahnya. Ini adalah tawaran yang sangat bagus, karena dengan adanya Tuan James dia bisa berlindung pada pria tua itu, jikalau Pram ternyata masih hidup dan ingin balas dendam padanya.


Melinda terdiam, mencari jawaban yang pas untuk menyatakan ketersediaannya. Namun, dia kalah cepat dengan tindakan pria itu, sebab Tuan James sudah bangkit lebih dulu.


"Ikut denganku!" ucapnya dengan lembut, sambil meriah pergelangan tangan Melinda. Tanpa banyak kata, wanita itu pun menurut. Dia yakin, bahwa Tuan James yang jauh berpengalaman, akan memberikan kesan menyenangkan malam ini.


Hingga langkah mereka berhenti tepat di depan pintu kamar hotel yang sebelumnya sudah disiapkan. Melinda tersenyum malu-malu, sementara Tuan James menyeringai penuh.


"Have fun, Baby," ucapnya lalu membawa Melinda masuk ke dalam.


Meskipun dia sudah dimakan usia, tetapi Tuan James masih cukup pintar untuk membuat Melinda bergairah. Pria itu membuang jasnya ke sembarang arah, dan melepaskan dua kancing kemeja teratasnya.


"Calling my name!" ucap pria itu lagi, sebelum meraup bibir tebal Melinda. Wanita itu tersenyum lebar, menyambut bibir itu dengan suka cita.


Detik selanjutnya suara decapan-decapan penuh kenikmatan memenuhi udara. Mereka saling berbagi saliva dengan hasrat di dada masing-masing.


Melinda melingkarkan tangannya di sepanjang leher Tuan James. Sementara pria itu sudah menyentuh apapun yang dia suka, termasuk pucuk dada Melinda yang menyembul dari balik dress-nya.


"Ah, James!" lenguh wanita itu. Dia terus merasa terbang, karena baru pernah merasakan kembali kenikmatan ini.


Tanpa ragu Tuan James mengangkat tubuh seksi Melinda, dan membawanya untuk duduk di sofa. Dia memangku wanita itu, dan dengan cekatan menurunkan resleting. "Kamu cantik sekali, Mel." Pujinya membuat Melinda semakin merasa senang.

__ADS_1


Mereka kembali berciuman, tak tahu jika di luar sana terjadi perdebatan sengit antara petugas hotel dan Choco yang sengaja datang untuk mengetahui langsung apa yang terjadi antara wanita yang dicintainya dengan pria lain.


"Berikan access card-nya atau ku dobrak pintu ini!" sentak Choco dengan nafas yang memburu. Dia sudah berusaha menyiapkan hati untuk hari ini, agar semuanya jelas dan tidak ada lagi yang ditutup-tutupi.


Dia sudah muak menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.


"Tuan, saya mohon maaf, tapi anda tidak bisa seperti ini," jawab seorang wanita yang merupakan petugas hotel tempat di mana mereka berada.


Dia mengatupkan tangan di depan dada, memohon pada Choco. Namun, semua itu hanya sia-sia.


Tidak ada yang bisa menghentikan aksi Choco apalagi mengusir pria tampan itu, sebab hotel mewah ini masih milik keluarganya.


"Kupecat kamu karena berani melawanku! Berikan sekarang, atau aku benar-benar merusak benda sialan ini!" teriaknya begitu menggema. Tak peduli meskipun wanita itu sangat ketakutan melihat amarahnya.


"Tuan, tapi—"


"CEPAT!"


Dengan tangan yang sangat gemetar, wanita itu pun memberi satu access card pada Choco. Pria tampan itu menatap dengan nanar, merasa sangat sesak di dadanya. Padahal dia belum melihat apa-apa.


Jantung Choco berdebar dengan sangat kencang, dia menempelkan benda yang ada di tangannya sambil memejamkan mata kuat-kuat.


Detik selanjutnya, dia seperti ditampar oleh ribuan tangan tak kasat mata. Ulu hatinya terasa ditusuk dengan kenyataan yang ada di hadapannya.


"KEPARAAAAAAT!"


***

__ADS_1


Kabur ah takut disembur 🏃🏃


__ADS_2