
Ternyata rasanya seperti ini, bercinta setelah melepas perasaan pada pemiliknya. Sungguh begitu nikmat, hingga kedua orang itu tak berhenti untuk mengerang dan mendesaah.
Kedua tangan Choco berpegangan pada dada Prilly, memainkan benda kenyal itu baik squishy, sementara pinggulnya terus bergerak, menghentak semakin dalam dan keras.
Dia tidak peduli pada keringat yang terus mengucur dera membasahi tubuhnya, kini ia tengah berusaha untuk menuntaskan hasrat yang selama ini ia tahan.
"Sayang, ini luar biasa," ungkap Choco dengan terengah-engah. Wajah pria itu nyaris tak bisa dikondisikan, karena saking hanyutnya dengan percintaan penuh gairah ini.
Dada Choco senantiasa kembang kempis, seiring pompaan yang ia buat. Tak berbeda dengan Prilly yang terus membuka mulutnya dan mengeluarkan desaah merdu, penuh goda.
"Kakak," panggil Prilly sambil meringis, menahan nikmat yang terus-menerus Choco berikan.
"Ya, apakah permainanku kurang cepat atau kurang enak?" tanya Choco, takut jika Prilly tidak menikmati percintaan mereka. Pria itu mengurangi tempo hentakannya, ia menunduk untuk mengecupi wajah Prilly yang sudah tidak karuan.
"Katakan, Sayang. Apa saja yang membuatmu nyaman, aku akan melakukannya," sambung Choco sambil membenahi rambut Prilly yang mulai basah karena keringat.
Gadis cantik itu menggelengkan kepala. Dia bukannya tidak suka, tapi dia reflek memanggil Choco, saking tidak berdayanya dia menerima semua kenikmatan ini. "Tidak, Kak. Aku suka, aku suka dengan semua yang Kakak berikan."
Mendengar itu, Choco tersenyum lebar. Dia kembali merabaa wajah Prilly hingga bermuara di bibir tipis gadis itu. Choco menekan ibu jarinya hingga masuk ke dalam mulut Prilly, gadis itu mendongak. Tidak paham apa yang harus ia lakukan.
"Hisap," pinta Choco sambil menggigit-gigit kecil bibirnya. Karena seorang pria akan teramat suka, jika dapat menguasai lawannya di atas ranjang.
Patuh, Prilly melakukan apa yang suaminya minta. Dia menghisap ibu jari besar itu, sementara Choco kembali mempercepat permainannya hingga Prilly memejamkan mata.
__ADS_1
"Ught!" Terdengar suara rintihan manja yang tidak habis-habis keluar dari bibir Prilly. Dan hal tersebut membuat Choco semakin bertambah beringas.
Apalagi ia merasakan gelombang pelepasan itu akan datang. Jadi, Choco menghujam tubuh Prilly semakin dalam. Dia menghentak kuat, hingga tubuh Prilly sedikit bergeser. Lalu detik selanjutnya dia merasakan sensasi yang begitu luar biasa.
"Ahh ...."
Choco menunduk dan memeluk erat tubuh Prilly, sementara lahar hangat itu mulai keluar membasahi rahim sang istri.
Nafas keduanya terdengar menderu hebat. Namun, Prilly belum mencapai klimaksss. Dia menggigit bibir, merasakan dada sang suami yang naik turun. Bagaimana caranya dia mengatakan bahwa dia ingin Choco bermain sekali lagi?
Dia terlalu malu untuk memintanya, tapi kalau tidak, rasanya malah menyiksa.
"Sayang," bisik Choco tepat di telinga Prilly. Saat ia merasa bahwa pelepasan itu sudah sempurna.
"Bolehkah aku melakukannya sekali lagi?" tanya Choco, yang membuat Prilly langsung membulatkan matanya. Astaga, apakah Choco bisa membaca isi hatinya? Atau memang pria ini berinisiatif sendiri untuk meminta tambah.
"Tidak boleh yah?" tebak Choco yang membuat Prilly langsung tersadar dari lamunannya.
"Ah, bukan beg—gitu, Kak. Aku—aku mau kok," jawab Prilly terbata-bata. Setelah mendapat persetujuan, Choco langsung bersemangat lagi, dia melepas pelukannya dan menatap Prilly dari atas.
"Kamu menyukainya?" tanyanya dengan wajah sumringah.
Wajah Prilly langsung bersemu merah. Namun, ketika ia hendak membuang muka, Choco dengan gesit menahan dagunya. Lalu menyatukan kembali bibir mereka.
__ADS_1
"Katakan suka kalau kamu memang menyukainya, dan begitu pun sebaliknya!" ujar Choco.
Permainan kedua baru akan dimulai, Choco akan semakin membuat Prilly terlena, hingga gadis itu tidak akan bisa melupakan kenangan indah mereka di tempat ini.
Choco melepas penyatuan mereka sejenak. Sementara Prilly hanya mengikuti apapun yang diperintahkan pria itu, termasuk untuk membalikkan badannya.
Sekarang Prilly sudah mirip kucing kecil yang menggoda. Karena tak bisa menampik, Choco semakin berhasrat saat melihat tubuh bagian belakang istrinya.
"Kak, kita mau apa seperti ini?" tanya Prilly dengan polos.
Choco langsung terkekeh dibuatnya. Sebelum menjawab, dia lebih dulu menusuk tubuh istrinya dari belakang, hingga Prilly kembali tersentak.
Gadis itu kembali dikuasai oleh suaminya, karena kini tanganpun dikunci oleh Choco di atas kepala.
"Kita coba yang lebih menantang, Sayang," bisik Choco sebelum bergerak. Prilly langsung paham, karena ternyata percintaan itu memiliki berbagai macam gaya.
Detik selanjutnya, Prilly kembali dibuat terbang ke nirwana oleh hentakan suaminya. Entah kapan semua ini akan berakhir, yang jelas keduanya sangat menyukai penyatuan perdana mereka.
***
Udah ya udah yaaaaa, ngopi dulu ngopiiiiiii😩😩😩
Oiya jangan lupa mampir di rumah sebelah, fizzooo🤸🤸🤸
__ADS_1