
Setelah satu minggu menghabiskan waktu berdua. Kini saatnya Choco dan Prilly pun kembali ke ibu kota. Meksipun merasa enggan, tetapi mereka memiliki tanggung jawab masing-masing, apalagi profesi Choco yang merupakan seorang pengajar.
"Nanti kita atur waktu lagi untuk pergi berdua," ucap Choco sesaat sebelum mereka naik kendaraan udara milik keluarganya.
"Iya, Sayang. Terima kasih atas semua waktunya. Kamu bersusah payah menjemputku ke sini, padahal hari itu akan pulang," jawab Prilly. Dalam hati gadis itu, dia terus berdoa, semoga setelah ini ada kabar bahagia untuk mereka berdua.
Mengingat bahwa usaha mereka yang tak main-main, hingga melupakan siang dan malam, bahkan jarang menyentuh makanan.
"Kita ini sehati, makanya tanpa kamu beritahupun aku bisa datang."
Prilly mengulum senyum, lalu memejamkan mata saat Choco mengecup keningnya. Lantas setelah itu, mereka naik ke atas helikopter.
Meninggalkan kenangan manis di tempat ini, tentang pertemuan mereka yang dramatis, dan semua kegiatan yang tidak akan pernah mereka lupakan untuk seumur hidup.
Selama perjalanan Prilly tertidur pulas, karena dia memang kekurangan istirahat. Sementara Choco terus menggenggam tangan istrinya sambil sesekali melirik ke samping. Untuk membetulkan posisi kepala Prilly yang miring.
Hingga dalam waktu kurang lebih dua jam. Mereka pun sampai di tempat yang dituju. Namun, Prilly masih terlihat nyenyak, hingga dia tak merasakan saat sang suami mengangkat tubuhnya untuk berpindah ke dalam mobil.
"Langsung ke mansion, Tuan Muda?" tanya sang supir.
"Ya, Pak."
__ADS_1
Kendaraan roda empat itu pun melandas, membelah jalan raya ibu kota. Choco nampak tenang memangku istrinya, lalu tiba-tiba terdengar tawa. "Kamu lucu sekali, Pril." Ungkap Choco sambil memainkan bibir Prilly.
Gadis cantik itu hanya menggeliat, membuat Choco kembali tergelak. Di matanya, Prilly sangatlah menggemaskan hingga membuat dia ingin terus menjahili gadis itu.
"Bibirmu benar-benar candu," kata Choco tanpa memedulikan sang supir yang masih mampu mendengar ucapannya. Padahal pria paruh baya itu jelas tahu, bagaimana sikap Choco sebelum berbaikan dengan istrinya.
Cup!
Sial, tepat saat sang supir melihat spion untuk mengetahui situasi di belakang. Dia malah disuguhkan oleh pemandangan yang membuat jantungnya hampir copot.
Astaga, astaga, astaga. Ini benar-benar Tuan Choco? Batinnya merutuk, dengan raut wajah yang tampak cemas. Tak ingin melihat hal-hal yang di luar kepalanya, pria paruh baya itu pun menambah kecepatan, agar mereka bisa segera tiba di mansion keluarga Tan.
***
Keduanya turun tanpa membawa barang apapun, karena untuk urusan yang satu itu biar para asisten rumah tangga yang mengurusnya.
Namun, saat mereka masuk ke dalam mansion. Rumah besar itu tampak sepi, satu orang asisten rumah tangga bergegas menghampiri mereka berdua untuk memberi kabar. "Tuan muda." Panggilnya, dengan kecemasan yang terlihat jelas.
"Ya, Bi. Ini semua orang ke mana?" tanya Choco dengan raut kebingungan.
"Maaf, Tuan, Nona. Semua orang baru pergi ke rumah sakit," jelasnya sambil terus menundukkan kepala.
__ADS_1
Tak hanya Choco yang terperangah, Prilly yang semula masih mengantuk pun ikut membelalakkan mata. Mereka saling pandang sesaat dengan otak yang bertanya-tanya.
"Untuk apa mereka ke sana? Siapa yang sakit?" tanya Choco cepat, juga menggebu-gebu.
"Tuan Ken tiba-tiba tidak sadarkan diri di dalam kamar. Jadi Nyonya Zoya langsung membawa beliau ke rumah sakit, tapi saya tidak tahu—"
Sebelum kalimat itu selesai Choco langsung berlari keluar, disusul oleh sang istri yang mengekor di belakangnya. Pikiran pria itu mendadak sangat kalut, karena tidak biasanya Ken sakit sampai separah ini.
"Berikan aku kunci mobil!" pinta Choco dengan tergesa pada sang supir yang masih berkemas. Dia langsung menjadi pria paling tidak sabaran jika menyangkut tentang anggota keluarganya.
Sang supir tampak terkejut, karena dia memang belum mendapat kabar tentang kondisi Ken.
"Cepat!" teriak Choco, tak dapat menahan emosinya. Hingga pria itu langsung reflek mengeluarkan kunci dari saku celananya.
Tanpa bicara Choco masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Sementara Prilly setia berada di sampingnya. Sama seperti pria itu, kini Prilly pun tak banyak bicara.
Kendaraan roda empat yang dikendarai Choco kembali melandas ke jalan raya. Karena tidak tahu di mana rumah sakit yang menangani sang ayah mertua, Prilly pun berinisiatif untuk menghubungi Aneeq atau siapapun.
Hingga tak berapa lama kemudian, mereka pun mendapatkan jawaban.
"Rumah Sakit Royal Healthy di jalan xx," ucap Prilly memberitahu suaminya. Choco pun mengangguk, dia segera meluncur ke sana.
__ADS_1
***
Itu akibat durhakim sama gue🙄🙄