Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Cobra #1


__ADS_3

Kebahagiaan masih menyelimuti keluarga Tan atas lahirnya keluarga baru mereka. Namun, pada pukul 15.00, Choco dipanggil oleh pihak rumah sakit, karena ada sesuatu yang terjadi dengan bayi kembarnya.


Pria tampan itu bergegas masuk ke ruang inkubator, di mana dua bayinya berada. Dan ternyata di sana sudah ada dokter anak yang sedang mengurus Forest.


"Dok, apa yang terjadi?" tanya Choco dengan perasaan cemas. Karena hatinya mendadak tidak tenang, apalagi saat melihat sang anak beberapa kali mengejang.


"Tuan, irama jantung bayi anda tidak beraturan, dan berulang kali sesak napas."


"Maksud anda apa?"


"Dia memiliki penyakit jantung bawaan, Tuan."


"Lalu? Bisakah anda menjelaskannya lebih rinci!" cetus Choco sedikit menyentak, karena dia tidak tahan saat melihat sang anak seolah tidak nyaman. Bahkan tubuhnya membiru.


Namun, baru saja hendak bicara. Choco merasakan bahwa Forest seperti kehilangan nafasnya. Bayi itu kembali terpejam lemah, dengan tubuh yang bergeming, tenang.


Menyadari itu, pihak rumah sakit langsung memeriksa kembali keadaan si kecil. Choco ditarik mundur sejenak, agar memudahkan mereka menangani pasien.


Sayang seribu sayang, Choco harus menelan kekecewaan. Karena bayi itu sudah tak bernyawa, pria kecil yang baru saja menjadi penyempurna keluarga harus pergi meninggalkan dunia.

__ADS_1


"Tuan, maafkan kami," ucap sang dokter dengan penuh rasa bersalah.


Choco menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak percaya bahwa ini akan terjadi, sedikitpun tidak. Bagaimana bisa anaknya pergi begitu cepat? Sedangkan dia baru saja menyandang status ayah.


"Ini tidak mungkin terjadi," lirih Choco dengan tubuh yang terasa kaku. Sesak sekali rasanya mendapatkan kabar buruk ini. Choco mendekat ke arah tabung sang anak, melihat tubuh mungil itu membiru, tangannya terangkat untuk menyentuh kulit Forest yang sudah terasa dingin.


Deg. Jantungnya seperti berhenti berdetak, sementara air matanya jatuh tak tertahankan. Pria tampan itu menghirup oksigen banyak-banyak, tetapi nyatanya hal tersebut tak membuat dia merasa lega. Karena separuh hidupnya telah tiada.


"Sayang," lirih Choco seraya membelai wajah sang anak yang senantiasa terpejam.


Dia tergugu, tak tahu bagaimana reaksi Prilly jika wanita itu mengetahui berita duka ini. Sebagai ayah saja dia merasa tak sanggup, apalagi sang istri yang sudah mengandungnya selama ini.


"Apakah Forest tidak ingin bermain dengan kakak dan yang lainnya? Mereka sudah menunggumu, Sayang. Tapi kenapa kamu pergi secepat ini?"


Dokter memperbolehkan Choco untuk menggendong bayi tampan itu, dan Choco langsung mengangkatnya. Dia mendekap tubuh Forest dengan erat, sambil menangis tertahan.


Malaikat kecilnya.


Buah cintanya dengan Prilly.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, Zoya merasakan ada sesuatu yang terjadi. Jadi dia memutuskan untuk menyusul sang anak untuk melihat cucunya. Dia meminta izin untuk masuk ke ruangan itu, dan bersyukur dia diperbolehkan.


Akan tetapi dia dibuat terperangah saat melihat Choco yang menangis sambil memeluk salah satu bayinya. Pikiran-pikiran negatif mulai bersarang, hingga saat ia mendekat Choco mengangkat kepala.


"Mommy," panggilnya dengan suara lirih, diiringi kesedihan yang mendalam.


Zoya sedikit melipat keningnya. Lalu mengusap bahu sang anak, sambil memperhatikan bayi mungil itu. "Ada apa, Cho? Apakah ada sesuatu yang terjadi?"


Choco terdiam sesaat. Bagaimana bisa dia menjelaskan perihal rasa sakit di hatinya. Sumpah demi apapun, perihnya melebihi apapun yang ada di dunia ini.


Tiba-tiba Zoya menutup mulut, setelah menyadari bahwa tubuh Forest membiru dengan nafas yang sudah tidak ada.


Dia melirik Choco, dia paham sekarang bahwa sang anak tengah terpukul. Dengan cepat Zoya merengkuh tubuh kekar itu, hingga Choco menangis di pelukannya.


"Dia pergi untuk selamanya, Mom."


***


Karena ternyata Forest itu sejenis bunglon-bunglonan, jadi maap maap nih😩🙏

__ADS_1



__ADS_2