Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 59. Kabar Baik


__ADS_3

Setelah bicara cukup banyak, Ken dan Aneeq pun kembali ke kamar masing-masing. Ketika Aneeq masuk, dia langsung disambut wajah sang istri yang terlihat masih segar.


Dua bola mata milik Jennie mengikuti langkah Aneeq yang semakin mendekat, dia langsung memeluk lengan pria tampan itu, ketika Aneeq sudah duduk di sisi ranjang.


"Sayang, tadi ada pesan masuk ke ponselmu," ujar Jennie, karena setelah kepergian Aneeq, dia mendengar suara getaran dari ponsel milik suaminya.


"Dari siapa?" tanya Aneeq sambil merapihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Jennie.


"Dari Prilly. Sepertinya ada sesuatu yang penting," kata Jennie apa adanya. Dia bisa melihat semua isi ponsel suaminya, karena memang tidak ada privasi apapun di antara mereka.


Aneeq terlihat manggut-manggut, sementara otaknya teringat dengan pesan Ken. Mengenai masalah Choco dan adik iparnya. "Aku coba hubungi Prilly dulu ya, Sayang. Kalau kamu mau tidur, tidurlah dulu." Aneeq menangkup kedua pipi Jennie, lalu memberikan kecupan di seluruh wajah wanita itu.


"Aku akan menunggumu."


Aneeq tersenyum manis, saat melihat tatapan menggoda dari manik mata istrinya. Dia mengangguk kecil, lalu meraih benda pipih itu untuk melihat pesan dari Prilly.


[Kak An, maaf mengganggumu malam-malam. Tapi aku sudah memikirkannya dengan sangat keras, dan keputusanku sudah bulat, aku akan pulang dan menemui suamiku. Aku akan menyelesaikan semuanya dengan cara baik-baik.]


Aneeq membaca pesan itu dengan seksama. Semuanya seperti sudah terencana, di saat sang ayah memintanya untuk membujuk Prilly, ternyata gadis itu malah memutuskan untuk pulang.


Senyum di bibir Aneeq tak dapat disembunyikan. Dia merasa sangat bersyukur, karena akhirnya hubungan Choco dan Prilly menemui titik terang.


"Jen, aku ke kamar Choco dulu sebentar yah," kata Aneeq dengan bersemangat. Dia akan membuat kejutan untuk Prilly dengan mendatangkan Choco ke vilanya. Semoga saja, dengan begitu mereka berdua bisa saling terbuka.


Setelah mendapatkan izin dari istrinya. Aneeq langsung menghampiri kamar Choco yang ada di lantai bawah. Dengan tidak sabaran pria itu menggedor-gedor pintu.


Tok Tok Tok ...

__ADS_1


"Cho, bukalah ini aku!" teriak Aneeq dengan cukup kencang. Entah kenapa malah dia yang terlihat sangat bahagia.


Choco yang kala itu baru saja terlelap tanpa memperhatikan pakaiannya. Kembali terjaga karena mendengar gedoran pintu dan suara kakak sulungnya. Dengan mata yang sudah cukup berat, dia pun membuka pintu.


"An, kenapa malam-malam kamu menggedor kamarku?" tanyanya dengan kedua alis yang saling bertautan.


Aneeq menghela nafas, dan dia tidak bisa menahan senyumnya. Membuat Choco merasa bertanya-tanya.


"Aku punya kabar baik untukmu."


Pria yang mirip sekali dengan Aneeq itu tampak terperangah. "Kabar baik apa?"


"Aku tahu Prilly ada di mana," kata Aneeq, tetapi Choco masih terlihat biasa saja. Karena dia belum sadar dengan apa yang Aneeq bicarakan.


"Prilly? Maksudnya Prilly istriku?"


Mendengar itu, baru Choco merasa tersentak. Dia langsung melebarkan kelopak matanya dan mencengkram pakaian Aneeq. "An, bicara yang serius, maksudnya kamu tahu di mana Prilly sekarang? Prilly istriku."


Aneeq menaikan satu alisnya, lalu dia mengangguk. Membuat Choco semakin kelabakan. Tidak peduli bagaimana caranya Aneeq mengetahui tempat persembunyian gadis cantik itu, yang jelas sekarang dia ingin mengajak Prilly bertemu.


"Katakan di mana dia, An!" sentak Choco karena saking senangnya. Nafas pria itu menderu hebat, tak peduli malam ataupun siang, pokoknya dia ingin menjemput Prilly sekarang.


"Tenangkan dirimu dulu, Cho. Kamu bisa menjemputnya besok pagi."


Choco menggeleng cepat. "Tidak! Aku mau sekarang. Aku mau bertemu Prilly sekarang, An." Rengeknya pada sang kakak. Bahkan kantuk yang sempat melanda, langsung hilang begitu saja.


Melihat binar kebahagiaan di mata Choco, Aneeq pun tidak bisa menundanya lagi, mau tidak mau dia memberitahu di mana lokasi Prilly sekarang. Dan setelah itu, Choco langsung meninggalkan mansion, malam itu juga.

__ADS_1


Sementara di kamar Ken dan Zoya, sepasang manusia baya itu saling memeluk satu sama lain. Zoya menatap wajah tampan suaminya, lalu mengelus lembut pipi yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. "Hubby, kamu kenapa? Dari tadi aku perhatikan kamu murung."


Ken langsung mengalihkan pandangan matanya pada sang istri, dia tersenyum tipis lalu mengecup kening Zoya sekilas. "Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya berpikir, bahwa aku benar-benar beruntung memiliki kamu."


Jawabnya bohong, karena tidak ingin melihat Zoya yang bersedih, hanya gara-gara pikiran negatifnya.


"Kamu sudah sering mengatakannya, Hubby."


"Dan aku tidak akan pernah bosan, seperti aku yang selalu mengatakan bahwa aku mencintai kamu. Bahkan jika ada kehidupan berikutnya, cintaku tetap sama, hanya untukmu," jawab Ken sambil meraaba wajah cantik istrinya.


Zoya tersenyum tipis, lalu sedikit mengusap ujung matanya yang tiba-tiba basah. "Kamu membuatku terharu, Hubby."


"Padahal tujuanku membuat kamu senang."


"Hei, setiap hari aku senang menjadi istrimu."


"Buktikan!"


Zoya sedikit mengangkat wajahnya, untuk sekedar mengecup bibir tipis itu. Mereka saling melempar senyuman, hingga Ken membalas ciuman itu dengan lebih banyak.


"Aku mencintaimu, Zoy."


"Aku juga mencintaimu, Ken."


***


Dad, pengen peluk🥺🥺🥺

__ADS_1


__ADS_2