Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 76. Aroma Sabun


__ADS_3

Setiap pagi Prilly harus merasakan mual-mual yang begitu luar biasa. Namun, dia tidak pernah menunjukkan raut wajah kesal ataupun marah. Dia justru merasa bersyukur dapat merasakan gejala kehamilan ini, meskipun itu semua membuat dia harus melatih rasa sabarnya.


Seperti yang telah dibicarakan oleh Zoya, bahwa akhir pekan mereka akan pergi bersama. Prilly dan Choco tengah bersiap-siap, mereka akan memakai kaos couple berwarna kuning corn. Pakaian yang pernah mereka beli saat bulan madu.


Prilly menyiapkan baju suaminya, sementara Choco masih berada di dalam kamar mandi. Hingga beberapa saat kemudian, pria itu keluar dengan handuk seutas pinggang.


Saat Choco melewati Prilly, tiba-tiba ibu hamil itu mengendus bau tak sedap. Dia mengerutkan hidung menatap Choco yang berjalan ke arah ranjang.


Sementara Prilly baru saja menggantungkan kimononya.


"Kak!" panggil Prilly, membuat Choco menghentikan langkah. Setiap hari pria itu selalu menunjukkan wajah yang berseri-seri, dan berusaha untuk mengurangi tempramennya. Sebab ia sadar diri, bahwa menghadapi ibu hamil itu gampang-gampang susah.


Ya, seperti yang ia lihat pada saudara kembarnya. Mereka kerap dibuat kesal, tetapi sebisa mungkin selalu menuruti apapun kemauan istri-istri mereka.


"Ya, Sayang. Ada apa? Kamu butuh sesuatu?" jawab Choco. Dia mengibaskan rambutnya yang basah, lalu menghampiri Prilly yang berdiri tak jauh darinya.


Namun, beberapa langkah lagi Choco tiba di hadapan Prilly. Gadis itu langsung mengangkat tangan, untuk menghadang suaminya. "Stop! Jangant mendekat lagi."


Mendengar itu, tentu membuat Choco langsung mengerutkan keningnya. Sementara kedua tangan pria itu sudah terbuka, ingin merengkuh pinggang Prilly.


"Lho kenapa, Sayang? Ada yang salah sama aku?" tanyanya keheranan sambil menurunkan tangan dengan gerakan lemas. Tidak biasanya Prilly menolak seperti ini.


"Badan kamu kok bau aneh sih, Kak? Aku tidak suka," ujar Prilly, mengungkapkan ketidaksukaannya. Dia mengibas-ibaskan tangan di depan hidung, mulai merasa mual dengan aroma tubuh Choco.

__ADS_1


Pria itu mengendus-endus tubuhnya sendiri. Seharusnya wangi sih, kan dia baru saja selesai mandi. Akan tetapi kenapa Prilly malah bicara seperti itu?


"Bau apa maksudmu, Sayang? Aku tidak bau kok. Kan aku habis mandi."


"Tapi kamu bau, Kak. Kamu mandi pakai apa tadi?" Prilly mulai menutup hidung dengan kedua jarinya. Karena aroma aneh itu terus menguar, membuat dia semakin pusing.


"Aku pakai sabun yang kamu berikan, Sayang. Kan sebelumnya sabun di kamar mandi habis."


Setelah mendengar penjelasan itu, Prilly pun masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Choco yang tampak cengo. Ibu hamil itu mengecek aroma sabun yang baru mereka beli, dan ternyata aromanya sama.


"Huwek!"


Prilly langsung melangkah ke arah wastafel, karena kembali mual-mual. Sementara di luar sana Choco dibuat kalang kabut, dia menyusul Prilly yang kembali muntah-muntah, padahal tadi sudah baik-baik saja.


Menyadari itu Choco langsung menghela nafas panjang, dia menjauh dari tubuh Prilly sampai gadis itu benar-benar tenang.


"Kak, lebih baik kamu mandi lagi deh. Tapi jangan pakai sabun itu, baunya aneh," kata Prilly dengan nafas terengah-engah. Kemudian dia mengelap pinggiran mulut menggunakan tisu yang tersedia.


Choco sedikit menganga mendengar permintaan istrinya. Namun, membantah pun sepertinya tidak akan mungkin bisa. Karena dia tidak mau melihat Prilly kembali muntah-muntah.


"Baiklah aku mandi lagi ya. Kamu tunggu saja di sofa," ujar Choco mengalah. Prilly langsung mengangguk, sementara Choco hanya bisa mendesaahkan nafasnya.


Dia kembali masuk ke dalam kamar mandi, kali ini dia tidak memakai sabun. Asal digosok saja pakai air, seperti saran dari istrinya.

__ADS_1


Namun, dia harus kembali menelan kekecewaan. Karena Prilly bilang aromanya belum hilang.


"Yah, mungkin mandi sekali lagi bisa menghilangkan aroma sabun sialan ini!" gumam Choco, mulai merasa kesal. Karena ular kesayangannya sudah keriput dan kedinginan. Akan tetapi dia hanya memiliki keberanian untuk mengumpat di belakang.


Prilly menunggu dengan tatapan bosan. Bahkan karena saking lamanya, dia sampai disusul oleh Eliana.


Tok Tok Tok ...


"Kak Pril, apakah kalian masih lama?" tanya El setelah mengetuk pintu kamar bercat putih itu.


"Maaf, El, Kak Choco masih mandi," jawan Prilly sedikit berteriak.


Mendengar jawaban itu, El langsung menautkan kedua alisnya. Tanpa berkata apapun lagi dia kembali menghampiri seluruh keluarganya yang sudah berkumpul di halaman rumah.


"El, apa katanya, Sayang? Prilly masih mual-mual?" tanya Zoya ketika sang anak datang.


El menggelengkan kepala. "Kak Choco masih mandi."


Saat itu juga, pikiran semua orang dewasa langsung mendadak berkelana.


***


Encum lu pada🙄🙄🙄

__ADS_1


__ADS_2