Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 36. Rasa Memabukkan


__ADS_3

Prilly menelan ludahnya susah payah setelah mendengar ucapan Choco. Sementara pria itu menyeringai penuh kemenangan, dia sengaja berkata seperti itu agar Prilly tidak lagi membantah ucapannya.


Akan tetapi yang dia harapkan tidaklah terwujud, sebab detik selanjutnya Choco merasakan tendangan di pangkal pahanya.


Bugh!


"Jangan bicara sembarangan kamu!" teriak Prilly, sementara tubuh Choco hampir saja terjungkal di lantai.


Dia benar-benar merasa bahwa Choco sudah gila. Sampai mengajak dia bercinta di sofa. Padahal dari awal pria itu tidak pernah sedikitpun baik padanya.


"Aw!" Choco merasakan tekanan yang begitu luar biasa pada ular kesayangannya. Mulut pria itu menganga lebar dengan wajah yang meringis kesakitan.


"Kenapa malah menendang masa depanku?!" Sambung Choco dengan suara yang menyentak. Dia berpegangan pada pinggiran sofa yang lain, sementara rasa ngilu itu masih menguasai dirinya.


"Itu karena Kakak kurang ajar!"


"Cih, aku hanya ingin mengancammu agar tidak lagi membantah. Siapa juga yang mau bercinta di tempat seperti ini? Yang ada aku tidak bisa bebas," jawab Choco sekenanya. Sebab telur ularnya seperti mau pecah.


Prilly geleng-geleng kepala. Sama sekali tidak iba dengan kesakitan suaminya. "Salahmu sendiri memakai ancaman seperti itu. Lagi pula aku tidak akan mau lagi bercinta denganmu, aku takut tubuhmu yang berharga itu akan ternoda oleh seonggok sampah yang menjijikkan seperti aku!"

__ADS_1


Gadis cantik itu justru melipat tangannya di depan dada, sementara Choco menghela nafas kasar. Dia tahu, sudah terlalu banyak mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk istrinya, hingga gadis itu terlihat sangat marah.


"Aku harus apa menurutmu?" tanya Choco dengan suara yang sudah melemah. Namun, raut wajahnya tak bisa bohong, dia masih menahan sakit di area pangkal pahanya.


Prilly melirik tajam, persis seperti Choco yang selalu menatap rendah dirinya, padahal dia sudah berusaha untuk bersikap ramah. "Pikir saja apa yang harus Kakak lakukan, jangan hanya bertanya dan bertanya. Karena Kakak memiliki hati dan juga pikiran." Tegas gadis itu seraya bangkit dari duduknya. Sebab dia ingin pergi dari tempat itu.


Akan tetapi sebelum dia melangkah, Choco lebih dulu menarik pergelangan tangannya. Hingga tubuh Prilly menabrak dada bidang Choco. Bahkan dia bisa merasakan detak jantung pria itu.


"Percayalah, aku sedang berusaha. Sama sepertimu, aku juga tidak bisa melangkah sendirian dalam membangun hubungan ini. Jadi, ayo berjuang bersamaku. Terlepas masalah yang kemarin, aku ingin kita sama-sama melupakannya," ucap Choco seraya tangannya merengkuh pinggang ramping Prilly. Hingga gadis itu merasakan kehangatan yang nyata.


"Lalu bagaimana dengan ucapanmu tempo hari? Andai aku berbohong, bukankah kamu ingin aku mundur? Lalu apakah kamu ingin menyiksa perasaanku sebelum kita berpisah?"


"Pril!"


"Jangan plin-plan, Kak! Sudah berapa banyak janji yang kamu berikan untuknya? Apakah kamu juga pernah berjanji untuk menikahinya setelah berpisah denganku?"


Choco terdiam, dia tidak bisa menjawab untuk pertanyaan yang satu ini, sebab dia memang pernah mengatakan untuk berpisah dengan Prilly setelah memastikan bahwa gadis itu tidak hamil.


"Kamu tidak bisa menjawabnya 'kan? Jadi, semudah itu kamu menarik semua janji yang telah kamu ucapkan padanya, sama seperti saat kamu menarik semua kata-kata yang pernah terlontar untukku?"

__ADS_1


Pelukan Choco melemah, dia benar-benar merasa seperti pecundang sekarang. Karena tidak dapat memilih satu di antara dua orang yang harus dia pertahankan.


"Jangan kamu pikir mudah melupakan semuanya. Aku memang mencintaimu, tapi sekarang aku sudah pasrah. Kamu pertahankan aku oke, berpisah pun aku tidak masalah. Aku akan baik-baik saja," sambung Prilly gamblang.


Gadis itu memang pandai sekali untuk urusan memojokkan suaminya. Hingga Choco tak sanggup untuk berkata-kata. Pria itu bergeming, tetapi dengan nalurinya dia membalik tubuh Prilly untuk menyatukan bibir mereka berdua.


Prilly tersentak, seharian ini jantungnya dibuat tidak aman oleh Choco. Dia terus terdiam hingga bibir pria itu bergerak menelusuri benda ranum miliknya.


Rasa memabukkan yang pernah singgah, kini kembali hadir menyapa. Gigitan-gigitan kecil itu membuat Prilly membuka akses, agar lidah Choco masuk ke dalam rongga mulutnya.


Otak gadis itu ingin berontak, tetapi hatinya menginginkan hal lain. Darahnya mendidih bersama hasratnya yang mulai membuncang. Dia mencengkram erat dada Choco, sementara pria itu semakin melesakkan lidahnya dengan pelukan yang semakin terasa erat.


"Kamu terlalu banyak bicara, padahal aku hanya ingin mengajakmu makan siang," ucap Choco dengan wajah tanpa tahu malu.


Cih!


***


Pertunjukan uler gatot alias gagal total 🙄🙄🙄

__ADS_1


__ADS_2