
Setelah mendapat nasihat dari sang ayah. Choco kembali ke kamarnya untuk mengambil tas, karena dia sudah harus mengajar. Tak lupa dia juga membawa syal buatan Prilly, agar benda itu senantiasa berada didekatnya.
Sebelum Choco berangkat ke kampus, ia lebih dulu berdiri di depan cermin yang memiliki ukuran setinggi tubuhnya. Dia mengeluarkan sebuah kertas tempel, lalu menuliskan sesuatu.
"Aku menunggumu pulang"
Satu kalimat itu berhasil ia tuliskan. Sebuah ungkapan terdalam atas rasa penyesalannya terhadap Prilly. Choco menempelkannya di cermin dengan seutas senyum penuh harapan, baru setelah itu dia benar-benar keluar dari kamar.
Choco pamit pada ayah dan ibunya. Mencoba untuk menjalani kehidupannya seperti biasa. Dia sungguh tidak tahu, bahwa ada konspirasi yang dilakukan keluarganya, atas kepergian Prilly.
"Dia bicara apa, Dad?" tanya Zoya pada suaminya. Dia menengadah, menatap wajah tampan Ken yang semakin dimakan usia.
Sebelum menjawab Ken lebih dulu mengecup puncak kepala Zoya.
"Dia akan berjuang untuk membawa istrinya pulang. Dia tidak takut, meskipun dia harus mencari Prilly sendirian. Yah, aku percaya, putraku bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya, dia hebat karena lahir dari rahimmu," jawab Ken apa adanya.
Mendengar itu, Zoya langsung mengulum senyum. "Semoga setelah ini dia benar-benar berubah. Kita tunggu saja, sampai kapan Prilly bisa bersedia menerima Choco kembali."
"Iya, Sayang."
__ADS_1
Ken kembali memberi kecupan pada kening istrinya. Wanita hebat yang senantiasa berada di sisinya, tak peduli cobaan sebesar apa yang mereka hadapi.
Sementara di dalam mobil, Choco merasa bahwa setengah gairah hidupnya hilang, hingga tiap di jalanan matanya tak lepas untuk melirik ke kiri dan ke kanan.
Mencari sosok mungil yang berhasil memporak-porandakan hidupnya. Bahkan Choco sudah berniat untuk membuat pengumuman orang hilang, dan anak buahnya akan menyebar selebaran itu di seluruh penjuru ibu kota.
"Sedikitpun aku tidak akan lengah, Pril. Aku pasti bisa membawamu pulang," gumam Choco.
Cukup lama dia berada dalam perjalanan. Akhirnya mobil itu menepi juga di halaman kampus. Seperti biasa dia akan keluar tanpa ada senyum yang menghiasi bibirnya.
Semua itu sudah tidak aneh, karena pria itu akan bersikap ramah pada orang-orang tertentu saja.
Choco baru saja sampai di ruangannya. Namun, sepertinya dia akan mendapatkan cobaan, karena harus meladeni Luna yang tiba-tiba datang untuk menginterogasi dirinya. "Cho, dengar-dengar Bocah itu izin tidak masuk kuliah dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Apakah benar?"
Membuat Luna mendadak gelagapan. "Ah iya, maksudku itu. Kenapa dia? Apa karena sakit atau hamil?" Tebaknya, tetapi dalam hati dia berdoa, semoga saja Prilly tidak sampai mengandung anak dari pria yang dia suka.
"Bukan urusanmu! Kalaupun dia hamil, toh aku yang membuahinya."
Rasanya malas sekali meladeni wanita bermuka dua ini. Hingga akhirnya Choco lebih memilih untuk keluar. Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu, Luna menahannya. "Kalian pasti ada masalah ya?"
__ADS_1
Sorot mata Choco semakin tajam, tanpa diduga dia menyentak cekalan tangan Luna hingga terlepas. "Aku sudah bilang, itu bukan urusanmu!"
"Iya aku tahu itu bukan urusanku. Tapi aku hanya ingin kamu sadar, Cho. Bahwa gadis seperti Prilly tidak pantas untuk menjadi istrimu, dia itu masih labil. Pikirannya masih suka main-main," ujar Luna mulai menjelek-jelekkan lawannya.
Namun, Choco lah yang paling tahu bagaimana istrinya. Bahkan dia jauh lebih kekanak-kanakan dari pada Prilly.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia! Jadi jangan sembarangan, bahkan dia bisa lebih menghargai dirinya ketimbang kamu!" tuding Choco dengan penuh penekanan.
Luna menggeram kesal dalam hatinya. Karena di saat ada masalah pun Choco masih saja membela Prilly. Dia hendak menjawab, tetapi Choco lebih dulu menyela.
"Jaga mulutmu! Jangan katakan apapun lagi tentang istriku, karena aku tidak akan pernah percaya pada mulut busukmu. Tentang aku dan istriku, hanya kami yang tahu!"
Setelah memperingati Luna, Choco langsung pergi begitu saja. Menunjukkan pada wanita itu kekalahan untuk yang kesekian kalinya. "Kenapa pria tampan selalu saja keras kepala? Tidak bisakah mereka melihat sisi lain dari diriku? Aku ini wanita yang jujur, aku selalu apa adanya dalam berbicara. Dia malah memilih bocah-bocahan yang tidak jelas itu!"
***
Banyak yang nanya caranya gimana buat vote Bang Choco. Jadi ngothor mau jelasin sebentar, di halaman depan kan ada head banner ya, di situ di slide aja sampe ketemu update tim season 3.
__ADS_1
Terus diklik, dan cari novelku yang ada di tim B, lalu vote deh. 1 vote itu 10 poin yaaa🙏 Jadi, bukan vote yang tiap hari Senin. Terima kasih semuanya ❤️