
"Mulai hari ini aku melepaskanmu, kamu bebas."
Beberapa kata sederhana yang tertulis di dalam kertas kecil. Namun, semua itu mampu membuat dunia Choco menggelap. Seketika pikirannya berkecamuk, dengan dada yang semakin bergemuruh hebat.
Prilly meninggalkannya?
Sumpah demi apapun, dia tidak berniat sedikitpun untuk menjadikan Prilly sebagai pelampiasan. Dia tidak sadar apa yang sudah dia ucapkan dan dia lakukan semalam.
Choco menggelengkan kepala dengan bola mata yang memerah. Entah kenapa rasanya jauh lebih sakit membaca kata demi kata itu, ketimbang ia mengetahui semua kebohongan Melinda.
Hingga dia tidak sanggup bicara. Beberapa saat dia membisu lalu meremass kertas itu dengan kuat, merasa tak percaya jika tulisan itu milik istrinya. "Pril, ini tidak benar 'kan?" Tanyanya dengan ludah yang terasa tercekat. Dadanya pun terasa sangat sesak, hingga dia tak dapat bernafas dengan lega.
"Katakan ini tidak benar, Pril?!" lirih Choco dengan rasa bersalah yang semakin menggunung. Belum selesai masalah yang kemarin, dia malah membuat masalah baru hingga kini gadis itu meninggalkannya.
Choco kembali tergugu, dia mengayunkan tangan hingga mengarah pada lampu tidur yang ada di dekatnya. "Argh! Prilly!" Jeritnya sekuat tenaga, bersama pecahan lampu yang berserakan di bawah kakinya.
Lalu tanpa pikir panjang, dia melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar. Dengan bertelanjang dada dia menemui ibunya yang kala itu tengah berjalan di atas anak tangga.
"Mommy!" panggil Choco dengan tergesa-gesa, Zoya langsung menghentikan langkah. Menatap putra ketiganya yang terlihat kalang kabut.
Wanita paruh baya itu pun menghampiri Choco.
"Ada apa, Sayang?"
"Mommy, melihat istriku hari ini?" tanya Choco dengan cepat. Sedikitpun tak ingin kehilangan jejak gadis cantik itu.
Mendengar itu, Zoya mengerutkan kedua alisnya. "Prilly? Dia pergi tadi pagi, katanya ada urusan."
"Dia tidak bicara apapun dengan Mommy?"
Zoya langsung menggelengkan kepala. Membuat Choco mendesaah kecewa. Lalu memijat kepalanya yang masih terasa berdenyut. "Dia benar-benar tidak memberitahu orang rumah ingin pergi ke mana?" Tanya pria itu sekali lagi, berharap masih ada sedikit saja harapan untuknya.
__ADS_1
"Tidak, Sayang. Memangnya ada apa, kamu terlihat frustasi seperti itu?"
Choco mengumpat dalam hatinya, merutuki semua kebodohan yang telah di buat. "Prilly meninggalkanku, Mom. Prilly meninggalkanku." Jawabnya lemah.
Sementara Zoya langsung melebarkan kelopak matanya. "Kamu bicara apa? Jangan bercanda, Cho!"
Choco hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mengingat semua kesalahan yang dia perbuat terhadap Prilly, tentu cukup sulit untuk mendapatkan maaf dari gadis itu. "Aku harus mencarinya, Mom. Aku akan membawa istriku pulang."
Tanpa menunggu jawaban Zoya yang masih tampak tergugu, Choco langsung kembali ke kamarnya untuk memakai pakaian dan mengambil kunci mobil. Dia bersumpah, akan membawa Prilly ke mansion ini lagi.
***
Beberapa jam sebelum Choco terbangun. Tepatnya di perusahaan Guero Grup. Melinda masih tampak datang seperti biasa. Namun, ketika dia sampai di pintu utama. Tiba-tiba tubuhnya ditahan oleh pihak keamanan.
Mendapati perlakuan seperti itu, tentu Melinda langsung melirik tak suka. "Apa maksud kalian menahanku?" Tanyanya dengan nada ketus.
"Maaf, Nyonya. Anda sudah tidak diizinkan masuk ke dalam perusahaan ini. Jadi, silahkan anda pergi," ucap salah satu security.
Wanita seksi itu langsung melebarkan kelopak matanya lengkap dengan mulut yang menganga. Kenapa pria ini tiba-tiba berani berbicara seperti itu padanya?
Melinda kembali melangkahkan kakinya, berusaha untuk masuk ke dalam. Akan tetapi lagi-lagi tubuhnya didorong, hingga dia hampir saja terjungkal.
Sialan!
"Cepat anda pergi dari sini, atau kami akan mengusir anda dengan cara kasar!"
"Heh, aku sudah bilang jangan sembarangan! Aku bisa saja memecat kalian, bahkan detik ini!" teriak Melinda dengan menggebu-gebu. Namun, bukannya ketakutan. Ucapan Melinda justru mendapatkan tepuk tangan dari seorang pria yang tiba-tiba keluar dari gedung perusahaan.
Melinda terperangah, melihat saudara kembar Choco berdiri tepat di hadapannya dengan senyum mengejek.
"Maaf, Nyonya. Kemarin anda memang masih bisa memimpin perusahaan ini, tapi tidak untuk sekarang! Karena perusahaan ini sudah menjadi milikku," ucap Aneeq, membuat Melinda mengernyitkan keningnya, tanda tak mengerti.
__ADS_1
"Milikmu? Apa maksudnya?"
Aneeq tersenyum sambil menghela nafas kecil. "Tenang, karena sebentar lagi aku akan menjelaskannya. Jadi, perusahaan ini telah aku akuisisi, bahkan aku mendapatkan tanda tangan dari pemilik aslinya yaitu Nona Prilly Hadwin Elguero. Anda yang tentunya bukan siapa-siapa, tidak berhak lagi untuk datang apalagi bekerja."
Mendengar itu, Melinda pun merasa sangat terkejut, bahkan jantungnya nyaris tak dapat diselamatkan. Apa katanya? Diakuisisi? Bagaimana bisa?
"Anda jangan sembarangan Tuan Aneeq! Prilly belum bisa memberikan tanda tangan itu, karena perusahaan ini akan diberikan pada saat dia berusia 25 tahun!" tegas Melinda, masih berusaha untuk mendapatkan semua harta mendiang suaminya.
Aneeq hanya tersenyum, lalu mengambil map yang diulurkan oleh Caka. "Sepertinya anda tidak membaca sepenuhnya surat wasiat yang ditulis oleh Tuan Hadwin. Di sini dijelaskan bahwa perusahaan akan dipindahtangankan pada Prilly saat dia berusia 25 tahun dan atau sudah me-ni-kah! Dan sekarang Prilly sudah menjadi istri adikku, jadi apa yang menjadi masalahnya?"
Melinda terlihat bingung, kenapa bisa surat wasiat itu ada di tangan Aneeq. Jangan-jangan semalam Prilly datang untuk mengambil surat itu? Astaga, kenapa dia bisa kecolongan?
"Masih ada yang ingin anda tanyakan?" tanya Aneeq sambil memainkan alisnya. Membuat Melinda semakin merasa geram. Karena dia sudah dipermalukan di depan umum.
"Tetap saja anda tidak bisa seenaknya!" teriak Melinda frustasi. Namun, Aneeq menanggapinya dengan terkekeh.
"Tentu saja bisa, asal anda tahu, Nyonya Melinda, aku bisa melakukan semuanya. Termasuk membuatmu mengenal Tuan James!"
Melinda seperti dipatahkan berkali-kali dengan kenyataan yang ada. Jadi, ternyata Tuan James juga suruhan saudara kembar mantan kekasihnya. Benar-benar kurang ajar!
Melinda menggerakan kakinya, ingin sekali saja menampar wajah Aneeq. Namun, dia justru didorong oleh pihak keamanan hingga dia terjatuh di aspal.
"Argh!"
"Usir dia! Kalau masih datang karena ingin niat bekerja, beri dia pekerjaan untuk memungut sampah!" tegas Aneeq, lalu memasukkan tangan ke dalam saku celananya. Pria tampan itu masuk ke dalam sementara Melinda kembali diusir.
"Lepaskan aku, Sialan! Lihat saja aku pasti akan membalasmu!" teriak Melinda sambil meronta-ronta.
Dia tidak tahu, jika sedari tadi ada seseorang yang menontonnya dengan tersenyum sumringah. Cukup merasa senang, melihat Melinda akhirnya kalah.
"Jalan, Pak!"
__ADS_1
***
Udah empat nihhh oeyyy! Ayo tak tagih janjinyaaaaa 😝😝😝