
Malam datang.
Untuk menebus rasa kesal istrinya, Choco menyiapkan sebuah makan malam romantis di atas balkon. Dia tidak mengizinkan Prilly untuk keluar dari kamar sebelum semuanya selesai.
Tak hanya itu, dia juga sudah menyiapkan kado kecil untuk istri tercintanya. Semoga, dengan ini semua hubungan mereka bertambah baik, dan akan selalu seperti itu selamanya.
Pria tampan itu tersenyum manis, setelah makanan dan lilin tertata rapih di atas meja. Bila kalian bertanya siapa yang memasak? Sudah tentu Choco jawabannya.
Choco melangkah ke arah kamar mereka berdua, untuk sekedar berganti pakaian dan menjemput Prilly.
Ceklek!
Benda persegi panjang itu terbuka, dan Choco langsung disuguhi tampilan memukau dari istrinya. Dia tampak terperangah, menatap Prilly tak percaya.
"Sayang, kamu cantik sekali," pujinya dengan tatapan yang nyaris tak terputus. Prilly mengenakan dress berwarna putih dengan bahu yang terbuka, dibalut kain brukat di sepanjang lengannya.
Belum lagi polesan make up tipis di wajahnya, membuat dia terlihat semakin sempurna.
Prilly mengulum senyum tipis, merasa tersipu di puji seperti itu. "Kamu 'kan sudah menyiapkan semuanya untukku. Jadi, aku juga harus berdandan sebaik mungkin untuk menyambutnya. Bagaimana penampilanku?" Tanya Prilly, dia memutar badan meminta pendapat Choco.
Choco meraih lengan Prilly, hingga gadis itu menghentikan gerakannya. Mereka saling tatap dengan senyum yang tak habis-habis. "Sempurna, kamu sangat cantik."
"Kamu bisa saja," ujar Prilly dengan pipi yang merona.
"Aku tidak bohong, Sayang. Kamu memang sangat cantik malam ini."
"Berarti sebelumnya aku tidak cantik, begitu maksudmu?"
"No, sebelumnya sudah cantik, sekarang lebih cantik."
Mendengar itu, Prilly langsung terkekeh. Tak ingin membuang waktu lebih lama, dia mengajak suaminya untuk melangkah ke sisi ranjang, di mana pakaian pria itu berada. "Sekarang lebih baik kamu ganti pakaian, aku sudah menyiapkannya."
__ADS_1
"Aku ingin kamu yang memakaikannya," rengek Choco seperti bocah.
"Baiklah, karena malam ini malam spesial aku akan menuruti kemauanmu."
Prilly segera mengambil satu persatu pakaian yang ada di atas ranjang, satu buah kaos, celana dan juga jas semi formal. Hingga ketiganya terpasang rapih di tubuh kekar suaminya.
"Finish," ucap Prilly sambil mengusap dada Choco sekilas.
"Terima kasih, Istriku," timpal Choco, tak lupa untuk mengecup kening gadis cantik itu.
Sebelum keluar dari kamar, Choco lebih dulu melangkah ke arah nakas, dia membuka laci untuk mengambil sesuatu. Baru setelah itu dia kembali menghampiri istrinya dengan mengulurkan telapak tangan.
"Sudikah dirimu menerima tawaran makan malam denganku?" tanyanya.
Prilly langsung terkekeh geli mendapati tingkah suaminya. "Kamu ada-ada saja, Kak."
"Serius, Sayang."
"Iya-iya, aku mau," jawab Prilly lalu meraih tangan suaminya. Kedua orang itu saling melempar senyum, lalu melangkah bersama.
Kini, giliran Prilly yang dibuat terperangah. Mulut gadis itu menganga lebar, melihat apa yang telah disiapkan oleh suaminya.
"Sayang, ini kamu semua yang siapkan?"
"Tentu saja, Sayang. Aku menyiapkan semua ini untukmu."
Choco melepas genggaman tangan mereka, karena dia ingin menarik kursi untuk Prilly. Sementara gadis itu hanya bisa patuh, pada apapun yang dilakukan suaminya.
"Ini menakjubkan, Sayang," puji Prilly, apalagi saat lilin mulai dinyalakan. Suasana romantis langsung tercipta, membuat kedua orang itu kembali merasakan cinta yang membuncah.
"Selamat makan, Istriku," ucap Choco sambil tersenyum.
__ADS_1
"Selamat makan juga, Suamiku."
Keduanya makan dengan tenang, karena di antara waktu yang terus bergulir, hanya ada suara dentingan alat makan, dan juga tatapan yang mendebarkan.
Hingga beberapa saat telah berlalu, Choco mengangkat tangan untuk sekedar mengelap pinggiran bibir istrinya, tetapi sisa makanan itu tidak dia sia-siakan, karena detik selanjutnya dia melumaat ibu jarinya sendiri.
"Sayang, aku memiliki hadiah untukmu," ucap Choco.
"Oh ya, apa itu?" tanya Prilly penasaran.
Choco bangkit dari kursi, lalu berpindah ke belakang tubuh istrinya yang masih duduk. "Pejamkan matamu." Titahnya, dan Prilly langsung patuh.
Pria tampan itu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, sebuah kalung berlian dan sepasang anting yang telah ia siapkan tanpa sepengetahuan Prilly. Dia melingkarkan tangan di antara tubuh istrinya, lalu berkata. "Open your eyes now!"
Pelan-pelan Prilly membuka kedua matanya, hingga dia bisa melihat benda yang berkelap-kelip itu. "Sayang, ini untukku?" Tanyanya dengan air muka terperangah.
"Tentu saja. Ini hadiah kecil yang sudah aku siapkan, bagaimana kamu suka?"
"Tentu saja aku suka, apapun pemberianmu pasti aku terima," ujar Prilly merasa haru.
"Kalau begitu aku pakaikan yah?"
Gadis itu langsung mengangguk.
Choco mengambil kalung itu dari tempatnya, lalu melingkarkannya di leher Prilly. Hingga penampilan gadis itu semakin bertambah luar biasa. Cantik sekali.
Setelah selesai Prilly langsung berdiri, dia menatap Choco dengan matanya yang berkaca-kaca. "Sayang, terima kasih banyak." Ucapnya seraya mengelus rahang Choco.
Pria tampan itu meraih pinggang istrinya, hingga tubuh mereka tak berjarak. "Harusnya aku yang berterima kasih, karena kamu sudah mau menerima aku kembali. Untuk ke depannya, berbagilah apapun denganku, baik suka maupun duka, kita lalui semuanya bersama. Prilly Hadwin Elguero, aku mencintaimu."
Cup!
__ADS_1
***
Chocolate ku meleleh guys🙃