Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 70. Harta Paling Berharga


__ADS_3

Choco memakai kecepatan penuh, berharap bisa segera sampai di rumah sakit yang mereka tuju. Dan hal tersebut membuat Prilly tidak bisa diam saja, mereka boleh cemas tetapi tidak boleh membahayakan diri masing-masing.


"Sayang, tenanglah sedikit. Jangan ugal-ugalan," ucap Prilly sambil menatap wajah suaminya yang sudah tampak pias. Sumpah demi apapun, Choco takut terjadi sesuatu pada ayahnya.


"Tenang bagaimana? Daddy masuk rumah sakit, Sayang. Aku sangat mencemaskannya!" jawab Choco dengan sedikit menyentak. Karena hatinya senantiasa diliputi kecemasan.


Dan Prilly paham akan hal itu, otak kita tidak akan mungkin bisa diajak kompromi pada situasi seperti ini, karena dia memang pernah di posisi sang suami. "Iya aku tahu, Sayang. Yang penting kamu hati-hati, fokuslah menyetir." Timpal Prilly dengan suara yang memelan. Tak ingin menyulut perdebatan.


Mendengar itu, Choco tersadar, dia mendesaah kecil lalu mengangkat tangan untuk mengusak puncak kepala Prilly. "Maaf ya sudah membentakmu." Ujarnya dengan intonasi suara yang lebih rendah.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku paham akan hal itu," jawab gadis itu sambil meraih tangan suaminya untuk dia letakkan kembali di atas stir. "Percayalah, Daddy tidak akan kenapa-kenapa. Daddy hanya butuh istirahat."


Mendengar itu, Choco pun mengangguk, dia mencoba untuk percaya bahwa sang ayah tidak apa-apa. Choco kembali fokus menyetir, hingga tak berapa lama kemudian mereka pun tiba di Rumah Sakit Royal Healthy. Unit kesehatan yang tak jauh dari mansion keluarga Tan.


Choco langsung keluar dari mobil, tak lupa dia menggandeng tangan sang istri untuk masuk ke dalam.


Beruntung, ketika dia hendak melangkah ke arah meja administrasi, dia melihat Bizard dengan istrinya—Bianca. Namun, mereka hanya berdua, tidak membawa serta ketiga anaknya.


"Bee," panggil Choco sambil berjalan tergesa-gesa.


"Cho, katanya kamu sedang bulan madu? Kalian sudah pulang?" tanya Bizard, ketika saudara kembarnya itu sudah berdiri di hadapannya.


"Sudah selesai. Tadi kami berdua baru saja sampai di mansion, tapi tiba-tiba kami mendengar kabar kalau Daddy masuk rumah sakit," jelas Choco apa adanya.

__ADS_1


"Iya aku juga baru mendapat kabar dari De. Dia sedang meluncur ke sini."


"Kalau begitu kita ke ruangan Daddy sekarang, aku sangat khawatir padanya."


Bizard pun mengangguk, dia menepuk lengan Choco sekilas lalu memimpin di depan bersama dengan Bianca.


Sementara di depan ruangan rawat Ken, Aneeq sedang duduk bersama Zoya, El dan Caka. Dia terisak-isak di pelukan sang ibu, dengan sesak yang mendera dadanya. Teringat dengan semua pesan sang ayah malam itu.


"Sayang, sudahlah. Daddy tidak apa-apa, dia hanya butuh istirahat," ucap Zoya menenangkan putra sulungnya. Seumur-umur dia baru melihat Aneeq kembali menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


Namun, Aneeq tak mau mendengar ucapan Zoya. Dia terlalu takut apa yang diucapkan Ken akan terjadi, sementara dia tidak akan pernah siap untuk hari itu.


"An takut, Mommy," lirihnya sambil tersedu-sedu.


Mendapati pemandangan menyedihkan itu, membuat Choco dan semua orang yang baru saja datang merasa terperangah. Mereka semua kembali melangkah dengan tergesa untuk menghampiri Zoya.


"Mom, apa yang terjadi?" tanya Bizard lebih dulu. Wajahnya pucat seketika, saat melihat adik dan kakaknya menangis secara bersamaan. Kalau El jangan ditanya, tentu dia akan menangis seperti itu ketika pria kesayangannya tidak berdaya.


Yang menjadi fokus mereka sekarang adalah Aneeq.


"Duduklah dulu, karena Daddy belum sadar," ucap Zoya pada anak dan menantunya. Patuh, mereka langsung duduk di kursi yang tersedia.


"Apakah kita tidak boleh masuk ke dalam, Mom?" tanya Choco.

__ADS_1


"Boleh, tapi hanya beberapa orang. Nanti setelah ini kita bergantian menjenguk Daddy. Kalian tidak perlu terlalu khawatir karena Daddy tidak apa-apa. Hanya saja tekanan darahnya sedang rendah dan juga dipicu stress, jadi Dokter menyarankan untuk menginap di rumah sakit beberapa hari," jelas Zoya, sesuai dengan apa yang disampaikan dokter beberapa saat lalu.


Hah. Mendengar itu rasanya ada sedikit kelegaan di hati mereka semua. Meskipun tak bisa bohong, rasa takut akan kehilangan masih terus menghantui pikiran masing-masing.


Dan semua itu tentu dirasakan oleh Zoya. Wanita yang sudah hidup berpuluh-puluh tahun dengan pria yang sangat dicintainya.


Mata wanita itu mengembun, tetapi tiba-tiba dia tersenyum tipis saat melihat Prilly. Sebab ia ikut merasa bahagia karena akhirnya gadis itu bisa kembali dengan putranya. "Pril, selamat datang kembali di keluarga kami. Terima kasih sudah mau menerima Choco lagi. Mommy doakan supaya kalian selalu bahagia, maaf yaaa ... bukannya menyambutmu, kamu malah harus ada di sini."


Prilly ikut tersenyum.


"Aku yang harusnya terima kasih, Mom. Karena Mommy dan semua keluarga sudah terlalu baik padaku. Dan aku tidak butuh sambutan apapun, karena berada di antara kalian itu sudah cukup membuat aku merasa berharga," jawab gadis cantik itu, semakin membuat Choco merasa tersentuh.


Choco langsung merangkul bahu istrinya, lalu mencium puncak kepala gadis itu. Sekarang dan sampai kapanpun, tidak ada yang paling berharga kecuali keluarga. Sosok yang akan selalu mencintai kita.


***


Ngothor : Gitu-gitu anak kesayangan gue, masa iya gue mokatin 😌😌😌 Dad, sungkem lu!


Daddy : Dih ogah 🙄


Ngothor : Yah, gitulah kelakuannya si python, tapi tetep aja kalo dia meninggoy gue gak rela.


Daddy : Karena lu masih ngincer uler gue.

__ADS_1


Ngothor: Ehek! Tau aja🙃


__ADS_2