Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 72. Menunjukkan Kemesraan


__ADS_3

Semua orang bergiliran untuk melihat keadaan Ken, tetapi mereka tidak bisa berlama-lama karena pria paruh baya itu harus istirahat. Dan sekarang giliran Prilly dan Choco yang masuk, sementara Ken masih ditemani oleh istri dan anak bungsunya—Gloria.


Senyum Choco mengembang ketika pintu baru saja terbuka. Cukup merasa lega melihat keadaan ayahnya tidak terlalu parah.


Pria tampan itu senantiasa menggandeng tangan sang istri hingga sampai di samping pembaringan Ken. "Dad, bagaimana keadaanmu. Apakah sudah lebih baik?" Tanyanya.


Melihat Choco dan Prilly sudah berbaikan, Ken pun ikut merasa senang. Dari kemarin dia selalu kepikiran tentang masalah sang anak, hingga fisiknya pun ikut melemah. Beruntung sekarang keduanya sudah kembali bersama.


"Daddy baik-baik saja, Cho. Bagaimana bulan madumu? Lancar semua 'kan?" jawab Ken, diiringi pertanyaan pula. Sedari tadi tangannya terus bergerak untuk mengusap punggung Gloria yang masih setia bersandar di pelukannya. Gadis kecil itu tertidur.


"Syukurlah, kami semua sangat mencemaskanmu, Dad." Choco dan Prilly saling pandang, kemudian pria itu mengusak puncak kepala istrinya. "Bulan madu kami juga lancar, itu semua berkat Daddy. Terima kasih ya, sudah berusaha membantu anakmu ini."


Ken mengulum senyum, membuat pipi yang sudah mulai keriput itu tertarik. Dan hal tersebut membuat Choco sadar, bahwa orang tuanya sudah semakin tua. Dia melepas rangkulannya pada pundak sang istri, lalu meraih satu tangan Ken.


Sementara dua bola matanya sudah tampak memerah.


"Daddy sehat terus ya, supaya Daddy bisa menggendong anak Choco dan Prilly. Dan ingatlah, bahwa banyak orang yang sangat menyayangimu," ujar Choco, memberi semangat pada sang ayah, dia sedikit menunduk untuk sekedar mengecup tangan lemah itu.


Dan Ken langsung membalasnya dengan sebuah usapan di kepala. "Daddy pasti baik-baik saja, Cho. Tinggal kamu yang fokus untuk membuat istrimu hamil."

__ADS_1


Mendengar itu, Prilly langsung tersipu malu, terbukti dari rona merah yang ada di pipinya. Choco melirik gadis itu sekilas sambil tersenyum. "Dari kemarin kami berdua sudah bekerja keras, Dad."


Zoya yang paham ke mana arah pembicaraan dua pria ini langsung menggigit bibir, menahan senyum. Sementara Prilly reflek menyikut lengan suaminya.


"Kak!" panggilnya memperingati. Melihat itu Ken langsung terkekeh, ingat dengan Zoya yang kerap dia kerjai habis-habisan.


"Apa, Sayang?" jawab Choco, kembali merangkul pundak istrinya dengan mesra. Ingin menunjukkan kepada kedua orang tuanya, bahwa mereka memang benar-benar sudah berbaikan.


"Malu tahu," ujar Prilly, yang membuat Zoya tak dapat lagi menahan senyum di bibirnya. Apalagi saat Choco menangkup kedua sisi wajah Prilly dan berkata. "Malu tapi mau maksudmu, hem?"


"Sudahlah, Cho. Jangan kerjai istrimu, lebih baik kalian sekarang pulang ke mansion untuk istirahat. Kalian kan baru saja tiba dari luar kota," timpal Zoya, karena merasa kasihan melihat wajah sang menantu yang tampak kelelahan. Dia sangat yakin, putranya sudah membabat habis tenaga Prilly, sampai titik darah penghabisan.


"Baiklah kalau begitu, Daddy juga istirahat yang banyak ya. Nanti malam atau besok aku dan Prilly akan datang lagi untuk menjaga Daddy."


Dan Ken langsung menganggukkan kepala, dia menatap sang menantu dengan tatapan teduh. "Terima kasih ya, Pril. Sudah mau menjadi istri anak nakal ini." Tunjuknya pada Choco.


"Aku tidak nakal, Dad," sangkal pria tampan itu.


"Lalu apa?"

__ADS_1


"Kemarin aku disihir. Dan Prilly telah menghilangkan sihir itu dengan kekuatannya."


"Kamu pikir ini negeri dongeng?" cetus Prilly.


Tanpa tahu malu Choco memeluk pinggang ramping istrinya. Membuat Prilly ketar-ketir sendiri. Di tempatnya Zoya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya.


"Sudah sana mesra-mesraannya di kamar saja. Nanti Daddy-mu malah minta yang aneh-aneh." Lagi-lagi Zoya mengusir, karena dia paham dengan air muka Prilly yang tertekan.


Choco terkekeh-kekeh, lalu detik selanjutnya dia berpamitan kepada kedua orang tuanya. Karena dia sadar sang ayah harus beristirahat.


Setelah ditinggal anak dan menantunya, kini Ken dan Zoya saling pandang. Pria itu tersenyum aneh, membuat Zoya mengernyitkan dahi. Sementara Gloria malah tertidur pulas dalam dekapan sang ayah.


"Sayang, kalau aku sudah sembuh, kita main—"


"Jangan macam-macam! Cucumu sudah tiga belas!" tukas Zoya. Memotong ucapan suaminya.


Glek!


***

__ADS_1


Bagosssss, cerdas, pinter! Masih sakit tapi anu🙄🙄🙄 Abah Python tiada duaaaaa🤸🤸



__ADS_2