Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 64. Pelajaran


__ADS_3

Senja telah datang, orang-orang sibuk bermain di pantai sementara Prilly dan Choco hanya bisa melihat pemandangan itu dari atas balkon.


Prilly berdiri di depan pagar pembatas, menatap lurus pada cahaya berwarna jingga yang mewarnai langit sore itu. Suasana di sana tampak sangat tenang, dengan angin yang berhembus pelan.


Apalagi saat Choco menelusupkan kedua tangannya di pinggang Prilly. Lalu meletakkan kepala di ceruk leher gadis cantik itu. "Kamu jauh lebih menarik dari pemandangan di depan sana."


Mendengar itu, Prilly langsung merasa tersipu. Dia tersenyum sambil mengelus pipi Choco. "Sekarang kamu pandai menggodaku. Perlu berapa kali lagi hari ini?" Tanyanya, seolah sudah paham apa yang diinginkan sang pria.


Choco terkekeh kecil, dia merasa lucu sendiri mengingat percintaan mereka yang sudah dilakukan beberapa kali. Namun, seperti seseorang yang tengah dehidrasi, Choco ingin selalu meneguk tubuh sang istri.


"Kamu masih mampu meladeniku?" Choco balik bertanya, sambil mengeratkan pelukannya. Dia menghirup aroma tubuh Prilly, meskipun belum mandi ternyata gadis itu masih cukup wangi.


"Jangan ditanya, tapi doakan saja aku mampu untuk melunasi hutang-hutangku," jawab Prilly sekenanya. Otak gadis itu mulai terkontaminasi, karena kenikmatan demi kenikmatan itu terus Choco limpahkan pada dirinya.


"Eits! Tapi jangan senang dulu, setelah hutangmu lunas, maka kamu harus membayar bunganya, kemarin aku lupa membahas ini."


Senyum di bibir Prilly sirna seketika, dia langsung berubah cemberut seraya menatap dua bola mata suaminya. "Kenapa tidak habis-habis?"


Choco melepaskan pelukannya sambil membalik tubuh Prilly, ia mengangkat tubuh mungil gadis itu hingga Prilly melingkarkan kedua kaki di pinggangnya.


"Karena selamanya kamu adalah milikku. Jadi, kita akan selalu melakukannya, selagi kamu mampu," kata Choco dengan wajah menengadah. Prilly kembali tersenyum, seharian ini ia benar-benar merasa sangat dicintai.


Prilly melingkarkan tangannya di sepanjang leher Choco dan menyatukan kening mereka berdua. Hingga nafas mereka saling menampar satu sama lain. Prilly menggigit bibir, menatap suaminya dengan tatapan menggoda.


"Boleh aku menggantikanmu?" tanya Choco.


"Menggantikan apa?"


"Menggigit bibir."


Gadis itu semakin tak kuasa untuk tidak melengkungkan bibirnya. Dia menangkup kedua rahang Choco, dan memberanikan diri untuk mencium pria itu lebih dulu.

__ADS_1


Dada Choco langsung bergemuruh, mendapati tingkah Prilly yang semakin berani. Membuat dia yakin bahwa gadis itu sudah kembali membuka hati untuknya.


Di tengah senja yang semakin tenggelam, Choco dan Prilly kembali meraup bibir satu sama lain. Menciptakan decakan keras, penuh geleyar nikmat.


Keduanya saling melempar senyum, setelah pertautan itu terlepas.


"Kita mandi bersama ya," ajak Choco.


"Tapi aku mau mandi busa."


"Mandi keringat pun pasti aku berikan," jawab Choco sambil membawa Prilly masuk ke dalam. Terdengar kekehan kecil diiringi geliat manja keluar dari bibir Prilly, karena di setiap langkah, Choco terus mengendus-endus lehernya.


Sampai di dalam kamar mandi, Choco menurunkan Prilly. Dia mengisi bathub, lalu menambahkan sabun untuk membuat busa, seperti yang diinginkan istrinya.


Setelah penuh keduanya masuk bersama, dengan Choco yang memangku tubuh istrinya. Tidak ada mandi seperti yang dikatakan oleh Choco, karena mereka justru kembali bermain.


"Sakit?" tanya Choco, melihat Prilly yang meringis saat ia memasukkan satu jarinya. Namun, wajah sensual itu tak bisa bohong, bahwa sebenarnya Prilly pun menginginkan lebih.


"Aku ingin kamu yang pegang kendali kali ini."


"Maksudnya?"


"Bergeraklah di atas tubuhku."


"Mana mungkin aku bisa melakukannya," ujar Prilly tidak percaya diri, dia kembali melenguh karena Choco menusuk-nusuk bagian bawah tubuhnya.


"Makanya dicoba."


"Tapi kalau gagal bagaimana?"


"Tidak mungkin!" Setelah mengatakan itu, Choco menarik jarinya, hingga membuat Prilly tersentak. Permainan baru akan dimulai, Choco kembali membuat penyatuan, tetapi kali ini Prilly yang akan memegang tali permainan.

__ADS_1


"Gerakan tubuhmu!" titah Choco melihat Prilly yang kebingungan. Tak ingin membuat suaminya kecewa Prilly pun menggoyangkan pinggulnya sesuai dengan yang ia bisa.


"Seperti ini?" tanyanya, sambil memperhatikan wajah Choco yang mulai berubah menggila.


"Oh God. Yes! Faster, Baby," balas Choco meminta Prilly lebih cepat. Hingga permainan semakin bertambah brutal dan menyenangkan.


***


Tiga hari mereka telah menghabiskan waktu bersama di villa. Tidak ada kegiatan yang jauh lebih menyenangkan selain membuka baju dan berkeringat bersama.


Namun, hari ini Prilly terus merengek, bahwa dia ingin melihat pantai bersama suaminya, tak masalah meskipun hanya sebentar, yang penting mereka bisa keluar berdua.


Akhirnya Choco mengalah, dia membeli dua set pakaian rumah. Dan mengajak istrinya untuk melihat dunia luar yang nyaris mereka lupakan.


"Hah, Sayang. Akhirnya kita bisa keluar, udaranya segar sekali di sini," kata Prilly sambil merentangkan kedua tangan. Membiarkan cahaya matahari dan juga angin menerpa tubuhnya.


"Kamu lebih suka di sini?"


"Di manapun aku suka, asal bersamamu."


"Tapi kenapa kemarin pergi?" tanya Choco sambil memeluk tubuh Prilly dengan posesif. Mendengar itu, Prilly langsung menghela nafas, tak bisa bohong selalu ada sesak jika mengingat tentang masalah kemarin.


"Itu untuk memberimu pelajaran!"


"Pelajaran apa? Aku kan dosenmu, dan kamu muridku. Seharusnya kamu yang mendapat pelajaran. Pelajaran untuk selalu mencintai aku, dan tetap setia bersamaku sampai kapanpun," jelas Choco sebelum Prilly menjawab ucapannya.


Membuat gadis cantik itu tersentuh dan merasa haru. Tanpa berkata apapun, Prilly memeluk lengan kekar Choco yang melingkar di perutnya, meyakinkan pria satu ini bahwa mereka akan tetap bersama, sebesar apapun ujian yang akan mereka terima.


***


Aku kehabisan kata-kata 🤦

__ADS_1


__ADS_2