Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 35. Bentuk Balas Dendam


__ADS_3

Choco terus merengkuh pundak istrinya sambil melangkah, tak peduli meski Prilly terus-menerus menolaknya. Dia akan menganggap bahwa itu semua hanya bentuk balas dendam Prilly, karena sebelumnya dia sudah terlalu jahat pada gadis cantik itu.


"Jangan pegang-pegang ih!" ketus Prilly sambil melepaskan tangan Choco yang sedari tadi bertengger di pundaknya. Pura-pura risih.


"Tidak akan, nanti kamu kabur!" jawab Choco, karena ia tahu Prilly masih berusaha untuk menyelamatkan motor Ezza.


"Lagi pula aku masih bisa pulang sendiri!"


"Dan aku tidak akan membiarkannya!"


Lantas setelah berkata seperti itu, Choco menarik pergelangan tangan istrinya untuk naik ke atas trotoar. Prilly kira Choco akan segera memesan taksi online. Akan tetapi lagi-lagi pikirannya salah.


Entah siapa yang sedang dia hadapi sekarang, yang jelas dia tidak melihat sifat Choco yang kejam. Pria di depannya adalah pria yang berbeda. Hanya wajah saja yang sama.


"Kita mau ke mana? Bukankah seharusnya kita pulang menggunakan taksi?" tanya Prilly dengan penuh penekanan. Dia sedikit meronta-ronta, karena tidak terima Choco terus menarik pergelangan tangannya.


"Kita makan siang dulu," jawab Choco lugas.


"Makan siang? Aku sudah makan!" ketus Prilly, padahal dia hanya beralibi saja. Saat jam istirahat dia tidak pergi ke kantin, karena sibuk memikirkan keadaan Pram.


"Jangan bohong. Aku tahu kamu belum makan. Jadi, jangan mengada-ada dan berusaha menipuku."


Mendengar itu tentu membuat Prilly terhenyak. Sejak kapan Choco jadi cerewet dan mengurusi dirinya. Mata gadis itu sedikit menyipit, curiga jika ternyata pria yang ada di hadapannya, bukanlah Choco.


"Kamu menipuku yah?" tanya Prilly tiba-tiba, membuat Choco harus menghentikan langkah. Kini mereka berdua sedang menuju salah satu restoran besar di ibu kota. Karena kebetulan lokasi mereka dekat dengan rumah makan tersebut.


"Menipu apa?" Choco sedikit menyentak, karena tidak terima disebut sebagai penipu.

__ADS_1


"Kamu bukan Kak Choco 'kan? Jawab aku dengan jujur!" tegas Prilly dengan jari yang menuding. Dia sungguh takut, dikala dia sudah berharap lebih, tetapi ternyata kenyataan tidak seindah ekspetasi.


"Astaga, apa sih yang ada di dalam otakmu? Jelas-jelas aku ini suamimu!"


Nafas Choco memburu karena sedikit demi sedikit emosinya terpancing. Akibat pertanyaan Prilly yang terlalu mengada-ada. Lagi pula, kalaupun benar, apa untungnya coba?


"Aku merasa kamu bukan suamiku. Atau jangan-jangan kamu kemasukan?"


"Kemasukan apa?!" cetus Choco dengan mata yang menungkik.


Prilly berkedip-kedip, jika sudah seperti ini dia tentu bisa menebak, bahwa pria ini adalah Choco yang sebenarnya. Karena persis sekali, hobinya adalah marah-marah.


Prilly menghembuskan nafas kasar.


"Pokoknya aku tidak mau makan, aku mau langsung pulang!" Prilly mengalihkan pembicaraan. Dia kembali menarik tangannya sekuat tenaga, agar bisa terlepas dari jerat suaminya.


"Tidak bisa!"


"Aku mau pulang! Aku juga tidak mau disentuh olehmu!"


"Oh ya? Kalau begitu jangan salahkan aku." Tanpa pikir panjang, Choco langsung mengangkat tubuh Prilly, lalu memanggulnya di pundak, persis seperti karung beras.


Mulut Prilly menganga, dengan pupil mata yang membesar. Merasa tidak terima dirinya digendong tanpa izin, Prilly pun memukuli punggung suaminya. "Turunkan aku!"


Bugh!


Bugh!

__ADS_1


Bugh!


"Turunkan aku!" teriak Prilly, sementara rambutnya sudah terombang-ambing, akibat gerakan langkah Choco. Pria tampan itu tidak peduli sama sekali terhadap teriakan dan pukulan Prilly.


Meskipun banyak orang yang menatap aneh ke arah mereka berdua.


Choco terus seperti itu, hingga mereka sampai di salah satu ruangan VVIP.


"Aku mau turun!" jerit Prilly. Benar saja, setelah itu dia langsung diturunkan di sofa. Dan Choco langsung menguncinya dengan kedua tangan, nafas pria itu terasa menampar wajah Prilly hingga membuat gadis itu membeku di tempatnya.


"Jangan membantah lagi, karena aku bisa melakukan apapun di sini!" ucap Choco dengan tatapannya yang tak main-main.


Kedua orang itu saling melayangkan tatapan sengit, hingga Prilly kembali buka suara.


"Melakukan apa maksudmu?" sentak Prilly, lalu mendorong dada Choco secara cuma-cuma. Seolah dia tidak tertarik sama sekali dengan tubuh kekar suaminya.


Mendengar pertanyaan itu, tentu membuat Choco terperangah. Prilly benar-benar memberi batasan untuknya. Baiklah, sekarang kita lihat sampai di mana dinding tak kasat mata itu akan terjaga.


Pria itu tiba-tiba menyeringai, lalu kembali menghimpit tubuh Prilly di sofa, hingga membuat gadis cantik itu mendelik. Dia kembali tidak bisa bergerak, karena aksesnya ditutup oleh Choco.


"APA?!" ketus Prilly dengan tatapan galak.


Namun, bukannya takut Choco justru mendekatkan wajahnya ke telinga Prilly, lalu berbisik. "Bagaimana kalau mengulang malam pertama kita? Di sini!"


Glek!


***

__ADS_1


Nyalain serulingnya, Neng, biar si pala cobranya bangun🙄🙄🙄


__ADS_2