
Setelah dipermalukan dan diusir dari perusahaan, Melinda segera membawa mobilnya untuk kembali ke rumah. Tidak ada lagi yang bisa dia harapkan, sekarang dia harus mengamankan sertifikat rumah, agar Prilly tidak lagi macam-macam.
Walau bagaimanapun dia masih berhak atas harta suaminya. Meskipun pria itu sudah meninggal dunia.
"Kurang ajar dia! Pasti dia melakukan ini semua karena hasutan Prilly. Karena sebelumnya, Aneeq tidak pernah sekurang ajar ini padaku!" gerutu Melinda selama perjalanan. Dia teramat kesal, karena saudara kembar dari mantan kekasihnya, justru membela Prilly. Yang notabenenya sebagai perusak hubungan orang.
"Tak kusangka, dia juga bekerja sama dengan Tuan James untuk mengelabuhi aku. Cih, apa Choco tahu ini semua? Sepertinya aku harus memberitahu dia, agar dia tahu kalau ternyata aku dijebak. Ini semua murni bukan kesalahanku!"
Dengan gerakan cepat, Melinda pun meraih ponsel yang ada di dalam tasnya. Ingin menghubungi Choco, berharap pria itu masih sudi meladeninya. Dia tidak tahu, jika semalam adalah keputusan bulat pria itu.
Melinda masih terlalu percaya diri, bahwa Choco masih bisa dia bodohi. Akan tetapi sayang, dia telah dipatahkan oleh kenyataan, karena ternyata Choco telah memblokir nomor teleponnya.
"Ini pasti salah!" ketus Melinda, berusaha mengecek kembali nomor ponsel Choco. Benar, tidak ada yang berbeda, tetapi sekali lagi dia menghubungi nomor itu, nyatanya tidak ada jawaban sama sekali.
"Argh! Hidupku benar-benar sial. Ini semua gara-gara Prilly! Dia menghancurkan semuanya. Dari mulai pernikahan, sampai aku hampir kehilangan semuanya, awas kamu Prilly!" rutuk wanita dengan bibir tebal itu. Dia tidak sadar, bahwa harta yang sedang dia nikmati bukanlah miliknya. Dia hanya tukang mengaku-ngaku saja.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya Melinda sampai di rumah. Dia segera memarkirkan mobil lalu masuk ke dalam. Langkahnya begitu tergesa, berharap bahwa Prilly tidak sampai menemukan sertifikat rumah yang dia sembunyikan.
"Semoga saja kali ini Bocah Ingusan itu tidak membuatku kesal!"
Suara high heels yang bergesekan dengan lantai terdengar sangat nyaring. Bahkan ketika sampai di ujung tangga, Melinda langsung berlari untuk masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi lagi Melinda langsung melemparkan tasnya ke atas ranjang, lalu menggeledah lemari pakaiannya. Dia masih ingat betul, bahwa sertifikat itu tersimpan di salah satu lipatan baju.
Namun, sampai beberapa saat dia mencarinya. Melinda tidak menemukan apapun, membuat dia merasa cukup frustasi. "Ck, aku tidak akan mungkin lupa. Jelas-jelas aku menaruhnya di sini!" Sentak Melinda, dia mulai berkeringat, karena ruangan itu mendadak jadi seperti neraka.
Tak ingin menyerah Melinda masih tetap berusaha. Kali ini dia membuka laci-laci yang ada di kamarnya. Hingga dia menemukan sebuah map, yang memiliki warna persis seperti sertifikat yang dia cari. Seketika senyumnya mengembang, merasa senang karena dia masih memiliki harapan.
"Haha, apa kataku juga. Dia kurang pintar!"
Dengan hati yang sudah berbunga-bunga Melinda pun membuka map tersebut. Namun, alangkah terkejutnya dia karena map tersebut hanya berisi satu kalimat yang membuat dia semakin bertambah geram.
"SELAMAT ANDA TERTIPU"
"Prilly kamu benar-benar kurang ajar, aku akan membalasmu. Lihat nanti!" teriak Melinda sekuat tenaga, sambil meremas map yang ada di tangannya. Dia tidak menyangka, kalau Prilly bisa mengerjainya habis-habisan.
"Siapa?!"
"Maaf, Nyonya. Ini saya, di depan ada polisi yang mencari anda," ucap security rumah.
Melinda kembali dibuat jantungan. Dia melebarkan kelopak matanya, lalu berlari untuk menyibak gorden. Benar, di luar sana ada mobil polisi. Akan tetapi untuk apa mereka datang?
Dada wanita bergemuruh dengan hati yang mulai dihinggapi oleh kecemasan. "Tidak, mereka tidak akan apa-apa. Aku yakin itu."
__ADS_1
Melinda mencoba menenangkan dirinya. Akan tetapi saat ia melangkah. Hatinya kian menebak-nebak. Pasti ada sesuatu yang akan terjadi nantinya.
Melinda mencoba melawan perasaan gamang itu. Dia keluar dari kamar dan turun ke bawah untuk menemui polisi yang sudah menunggunya.
"Selamat pagi, dengan Nyonya Melinda?" tanya Polisi itu.
"I-iya betul," jawab Melinda dengan terbata-bata. Dia pun melirik ke arah dua polisi itu secara bergantian. "Ada apa ya, Pak?"
"Kami ingin menyampaikan bahwa mulai hari ini anda resmi ditahan. Sesuai dengan surat penahanan tentang tindak pidana penculikan, upaya pembunuhan berencana, dan suap-menyuap yang anda lakukan terhadap saudara Pram!" jelasnya yang membuat Melinda menganga dengan bola mata yang mendelik.
Dia menggeleng tak percaya, tidak mungkin pria itu tiba-tiba datang dan ingin memenjarakannya. Dia memiliki bukti apa.
"Maaf, Pak. Tapi apakah ada bukti bahwa saya yang melakukannya?"
"Semua bukti sudah ada di tangan penyidik, sekarang anda tinggal ikut dengan kami berdua."
Melinda mengambil aba-aba. Tanpa diduga dia berusaha untuk kabur, tetapi hal tersebut tentu saja sia-sia. Karena baru saja melangkah kedua tangannya sudah dicekal dengan kuat. "Anda tidak akan bisa kabur, Nyonya."
"Tidak! Aku tidak mau ikut. Aku tidak melakukan itu semua!" Teriak Melinda sambil meronta-ronta. Berusaha untuk melepaskan diri. Namun, nyatanya sampai dia masuk ke dalam mobil, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"AKU TIDAK BERSALAH!" teriaknya.
__ADS_1
***
Pindah konsernya ke jeruji besi yeee, Mel🙈