
Pukul 3 siang, Prilly dan Choco tiba di mansion. Mereka langsung masuk ke dalam kamar, karena ingin beristirahat. Namun, tiba-tiba Prilly mematung di sisi ranjang, saat ia melihat kaca yang dipenuhi oleh kertas-kertas kecil.
Rasa penasaran mulai memenuhi pikiran gadis cantik itu. Dia melangkah pelan, tak peduli pada sang suami yang sedang berganti pakaian.
Tubuh Prilly berhenti tepat di depan cermin besar itu, hingga dia bisa membaca isi tulisan yang ditempel sembarangan. Ada banyak sekali, hingga Prilly tidak dapat menghitungnya satu persatu.
"Aku menunggumu pulang"
"Aku menunggumu pulang"
"Aku menunggumu pulang"
Semuanya berisi satu kalimat yang sama. Dan hal tersebut sukses membuat jantung Prilly mendadak bergemuruh, dengan debar yang tak beraturan. Dia merasa bahagia sekaligus terharu, karena selama ia pergi Choco terus berusaha untuk mencarinya.
Bukankah itu artinya, pria ini tidak main-main?
"Kakak yang menulis ini semua?" tanya Prilly dengan senyum cerah. Di antara dilema tangisnya.
Mendengar istrinya bertanya, tentu Choco langsung membalikkan badan. Menatap sang istri yang hampir saja menangis. "Iya, kenapa memangnya?"
Tanpa diduga Prilly langsung berlari ke arah Choco, menghambur dan memeluk tubuh kekar itu dengan sangat erat. "Aku terharu sekaligus merasa bersalah karena telah meninggalkanmu. Aku tidak menyangka, kalau kamu akan mencariku sekeras ini." Kata Prilly sambil menikmati aroma tubuh suaminya.
Mendengar itu, tentu membuat Choco merasa bahagia. Dia mengelus-elus puncak kepala Prilly, dan meninggalkan kecupan di sana. "Tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Jadikan semuanya sebagai bentuk pembelajaran. Agar kita semakin baik ke depannya. Karena apa yang aku lakukan menunjukkan keseriusanku terhadap kamu, Sayang."
"Kalau begitu biarkan aku minta maaf untuk semuanya," kata Prilly sambil menengadah. Namun, hanya ada lubang hidung Choco yang terlihat.
"Iya, aku sudah memaafkanmu. Jadi, jangan pernah lagi merasa bersalah. Semua masalah kemarin memang tidak bisa kita tutup dengan sempurna, tetapi setidaknya kita sudah tidak ada lagi di sana. Ayo bahagia denganku ...."
__ADS_1
Cup!
Choco menunduk untuk mengecup kening sempit Prilly. Sementara gadis itu sudah kehabisan kata-kata. Pokoknya setelah ini hanya ada bahagia di antara mereka.
****
Malam pun tiba.
Sepasang pengantin yang baru berbaikan itu memutuskan untuk kembali ke rumah sakit esok hari, karena tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Jadi, malam ini mereka akan tetap berada di rumah.
Choco sudah lebih dulu naik ke atas ranjang, dia tengah membaca buku, sementara sang istri tengah memakai cream perawatan sebelum tidur.
"Sayang, kenapa lama sekali?" tanya Choco, sudah bosan menunggu. Padahal Prilly baru melewati lima menit pertama.
"Sebentar lagi, Kak. Ada 5 item yang harus aku pakai, jadi bersabarlah."
"Karena kemarin kamu selalu menyerangku sebelum tidur. Jadi, aku tidak bisa beristirahat barang sebentar pun."
Choco langsung terkekeh, teringat kegiatan mereka selama berada di villa. Tak ingin mengganggu sang istri, akhirnya Choco kembali membaca bukunya. Ya, walaupun sambil senyum-senyum tidak jelas.
Beberapa saat telah berlalu, Prilly sudah bangkit untuk menyusul Choco naik ke atas ranjang. Dengan sigap pria tampan itu menutup buku, dan menaruhnya di atas nakas.
"Sini!" titah Choco sambil menepuk sisi kosong di sampingnya. Prilly mengernyit, menatap penuh curiga.
Begitu Prilly sampai di sisi ranjang, Choco langsung menariknya hingga ia jatuh di atas tubuh pria itu. Choco menahan lengan Prilly, sementara gadis itu menatap dua bola mata suaminya.
"Tidak sabaran!" cibir Prilly lalu mengerucutkan bibir. Namun, yang dia terima justru sebuah kecupan.
__ADS_1
"Di luar hujan."
"Terus kenapa, Sayang?" tanya Prilly, pura-pura tidak paham dengan kode yang dipakai suaminya. Dia bangkit dari atas tubuh Choco, lebih memilih untuk bersandar di dada bidang pria itu.
"Ya, masa kamu tidak paham, Sayang. Aku kedinginan lho."
"Aku akan memelukmu." Tangan langsing itu langsung melingkar di tubuh Choco. Namun, pria itu justru mencebik.
"Aku maunya lebih."
"Apa itu?" tanya Prilly sambil mengangkat wajah. Tepat, baru saja dia mendongak, Choco langsung melakukan serangan terhadapnya.
Pria tampan itu menahan tengkuk Prilly dengan kuat. Sementara sesapan bibirnya tak main-main. Dia tidak suka basa-basi terlalu lama, hingga secepat kilat kakinya mengunci pergerakan sang istri.
Atmosfer di ruangan itu mulai terasa panas, bahkan mampu mengalahkan dinginnya udara di luar sana.
Choco mulai menindih setengah tubuh Prilly. Dengan jemari yang mulai berlarian di antara benda kenyal yang menjadi candunya.
Namun, sebelum mereka bermain terlalu jauh. Sebuah ketukan pintu membuyarkan segalanya. Apalagi saat mereka mendengar suara yang begitu familiar, berdengung memenuhi telinga.
"Kak Choco, Kak Prilly. Yoy boleh masuk nggak?"
Tepat pada saat itu, Choco langsung menepuk jidatnya. Baru ingat kalau sang adik harus tidur di rumah, tanpa Ken dan Zoya.
"Argh, Gloria!"
***
__ADS_1
Biang Resek🤣🤣🤣