
Pagi itu Aneeq menerima telepon bahwa Pram sudah siuman, tetapi kondisinya masih tidak memungkinkan. Pria itu butuh perawatan intensif sehingga ia harus tinggal di rumah sakit selama waktu yang tidak ditentukan.
"Nanti siang aku akan ke sana," ucap Aneeq pada De dalam sambungan telepon. Sebab sang adik sendiri yang mengabarkan kepadanya.
"Tapi tunggu dulu, dia ini sebenarnya siapa, An? Apakah dia orang penting?" tanya De penasaran. Sebab dia tahu Aneeq tidak akan mungkin sampai mengancamnya, jika Pram bukanlah siapa-siapa.
"Ini ada hubungannya dengan Kakak ketigamu! Otaknya sedang tidak berfungsi jadi aku harus membantunya," jawab Aneeq.
Kening De berkerut. "Maksudmu Choco?"
"Iya, siapa lagi? Aku hanya tidak ingin masalah yang sama menimpa keluarga kita. Jadi, lebih baik aku bertindak cepat untuk menyelesaikan semuanya. Jaga dia baik-baik, jangan sampai teledor," kata Aneeq sebelum memutuskan sambungan telepon.
Di seberang sana, De pun manggut-manggut. Untuk urusan yang satu ini, Aneeq memang jauh berpengalaman. Sementara dia hanya bisa membantu seadanya saja.
***
Tak lupa Aneeq pun memberitahu Prilly tentang kondisi Pram yang sudah siuman. Gadis cantik itu terlihat sangat antusias, sehingga dia membolos pada jam terakhir mata kuliah.
Dia kabur dari pengawasan Choco. Karena ingin menemui mantan asisten ayahnya. Dia ingin sebuah kejelasan, kenapa Pram bisa disekap dan hendak dibunuh oleh Melinda.
Saat baru pertama kali datang ke rumah sakit Puri Medika, Prilly langsung bertemu dengan Aneeq. Karena mereka memang sengaja ingin menemui Pram secara bersama-sama.
"Kita langsung ke ruangannya saja," ucap Aneeq, dan Prilly langsung mengangguk patuh.
__ADS_1
De memimpin di depan, sementara di belakangnya ada Prilly, Aneeq dan Caka. Keempat orang itu melangkah dengan seirama. Hingga mereka sampai di sebuah ruangan VVIP yang sengaja De siapkan.
Saat pertama kali membuka pintu, mereka langsung disuguhi pemandangan yang tampak begitu menyedihkan. Sebab beberapa anggota tubuh Pram terlihat diperban, dengan beberapa alat penyokong kehidupan.
Kedua bola mata Prilly berkaca-kaca. Sumpah demi apapun, dia akan merasa sangat bersalah, jika Pram rela seperti ini karena dirinya.
"Wanita itu sungguh tidak bisa dimaafkan!" ucap Prilly penuh penekanan. Hingga terdengar jelas di telinga ketiga pria yang ada di sekitarnya. Namun, mereka hanya bisa saling pandang.
Prilly langsung melangkah dengan air mata yang sudah menderas. Dia berdiri di sisi kanan Pram, menatap iba pada sekujur tubuh yang tengah babak belur itu. "Asisten Pram." Lirih gadis itu, sementara yang dipanggil tampak memejamkan mata. Sebab Pram masih belum sanggup untuk melakukan banyak pergerakan.
Prilly terisak-isak dengan didampingi oleh Aneeq, hingga suaranya terdengar di telinga Pram. Pria itu meringis, merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya.
"Lihat jari tangannya bergerak, sepertinya dia akan kembali terbangun," ucap De.
Membuat Prilly langsung mengangkat wajahnya. Dia menelisik pergerakan yang dilakukan oleh Pram, hingga pelan-pelan pria itu mulai membuka mata.
"Nona?" panggil Pram dengan suara yang begitu lemah. Karena dia masih belum cukup bertenaga.
"Aku sangat senang Asisten Pram masih hidup. Dan aku akan sangat menyesal, jika kemarin aku tidak bisa membantumu," ucap Prilly sambil sesenggukan.
Pram mencoba untuk tersenyum. Padahal kemarin dia sudah sangat pasrah. Dia tidak pernah berpikir untuk selamat. Sebab para anak buah Melinda terus-menerus menyiksanya tanpa ampun. Namun, Tuhan telah memberikan keajaiban yang tak terkira untuknya, sehingga dia berada di tempat ini dan dikelilingi oleh orang-orang baik.
"Aku tidak apa-apa, Nona. Justru aku yang sangat bersyukur, karena anda baik-baik saja."
__ADS_1
Kening Prilly mengernyit, apa maksud dari ucapan Pram?
"Sekarang katakan padaku, siapa yang mencelekaimu dan apa tujuannya?" tanya Prilly dengan sedikit menggebu. Dia sudah tidak sabar, mendengar penjelasan Pram mengenai Melinda.
Mendengar pertanyaan seperti itu dari anak tuannya. Tentu membuat ia merasa lemah, sebab mengurus orang seperti Melinda saja dia tidak bisa.
Memori Pram berlarian pada hari itu. Di mana saat Melinda memintanya untuk membuat surat kuasa palsu. Karena tidak menyanggupi, akhirnya dia diculik dan disiksa tanpa belas kasih.
"Katakan bahwa wanita itu dalang dibalik ini semua!" cetus Prilly. Namun, Aneeq berusaha menahan emosi adik iparnya.
"Sabar, Pril. Biarkan dia berpikir sebentar, dia belum pulih betul."
Pram menghela nafas panjang, dia sadar betul informasi yang dipegangnya mengenai Melinda sangatlah penting. Jadi, dia tidak mau menunda semuanya. Dia harus segera menyampaikan hal tersebut pada Prilly, agar gadis itu hati-hati.
"Ya, dia memang pelakunya. Dia menginginkan aku mengubah surat kuasa, dengan menjanjikan sebuah saham di perusahaan. Tapi aku tidak mau, dan akhirnya dia melakukan ini semua kepadaku," jawab Pram dengan gamblang, membuat Prilly langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Jadi, dia ingin menguasai semua harta keluargaku?"
"Ya, Nona. Maka dari itu berhati-hatilah, saranku ambil alih segera perusahaan itu, karena wanita sepertinya akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya."
Prilly bergeming, sebab dia masih begitu tabu dalam dunia perusahaan, terlebih surat kuasa mengatakan bahwa semuanya akan jatuh ke tangannya saat ia berusia 25.
"Tenang saja, kami semua akan membantumu. Percayalah, dia tidak akan mendapatkan apapun, selain kehancuran," ucap Aneeq, yang membuat Prilly merasa memiliki keluarga yang utuh. Sesuatu yang membuat dia tidak rela melepaskan Choco begitu saja.
__ADS_1
***
Mariiii bersabar ...