
Aneeq membelalakkan mata karena terkejut mendengar jawaban putranya. Di usia tujuh tahun Cornelius sudah punya pacar? Astaga, apakah lulus SMA dia akan segera mendapatkan menantu pertama?
"Pacar apa maksudnya?" tanya Aneeq, sambil mengerutkan kedua alisnya yang tebal. Sementara Jennie tampak terbengong-bengong.
"Ya, pacar. Nanti aku kenalkan Sofia pada Daddy dan Mommy," jawab Cornelius dengan senyum polos khas anak-anak seusianya. Namun, segera ditolak oleh Aneeq.
"Tidak! Apa-apaan kamu, masih kecil sudah pacar-pacaran. Ularmu belum bisa apa-apa!" tegas sang ayah.
Mendengar itu, tentu membuat Cornelius menjadi kesal. Dia mencebikkan bibirnya, lalu menatap marah pada Aneeq. "Kenapa? Apakah hanya orang dewasa saja yang bisa bersenang-senang dengan wanita? Sofia itu pacar yang baik dan juga cantik, suka memberi makanan dan meminjamkan aku buku tugasnya. Kenapa Daddy tidak setuju?" Sela Cornelius, tidak terima jika sang ayah melarangnya berpacaran dengan gadis kecil bernama Sofia.
Aneeq menelan ludahnya dengan kasar, lalu melirik ke arah Jennie melalui kaca spion. Namun, sang istri justru buang muka. Seolah membiarkan Aneeq yang meladeni putra mereka.
"Ah Lee, Daddy bukan tidak setuju, tapi kamu ini masih kecil, tidak pantas pacar-pacaran. Lebih baik berteman saja," kata Aneeq dengan pelan-pelan, berusaha menasehati bocah tampan itu.
Namun, sekali lagi Cornelius membantah. Dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau! Kalau hanya berteman Sofia tidak mau memberikan buku tugasnya padaku. Nanti aku dihukum Bu Guru!"
Puk! Aneeq reflek menepuk jidatnya. Ternyata kelicikan dia pun menurun pada sang putra. Benar-benar tidak salah. Sementara di belakang sana, Jennie dan Ziel saling pandang sambil menahan tawa.
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya mereka sampai di salah satu destinasi wisata. Yaitu sebuah wisata air berupa danau yang asri dan indah.
Setelah mobil terparkir sempurna. Mereka menghambur keluar untuk menikmati sensasi alam yang begitu sejuk.
Ken kembali menggendong putri bungsunya yang tertidur di dalam mobil. Sementara anak-anak kecil yang lain sudah berlarian ke sana ke mari dan tertawa.
__ADS_1
Di sini hanya Choco dan Prilly yang belum memiliki momongan, jadi mereka masih bisa santai. Prilly hendak menyusul yang lain, tetapi Choco menahan lengannya. "Sayang, sini kuncir dulu rambutnya. Supaya kamu tidak gerah."
Prilly yang awalnya termangu kemudian tersenyum setelah mendengar ucapan suaminya. Apalagi saat Choco berinisiatif untuk mencari ikat rambutnya.
"Kamu simpan di sini 'kan, Sayang?" tanya pria tampan itu.
"Di tas kecil, Kak."
Choco langsung mengikuti arahan sang istri, setelah mendapatkan benda kecil itu dia segera membantu Prilly untuk menguncir rambut. Yah, meskipun hasilnya tidak begitu rapih, tetapi hati Prilly sangatlah bahagia. Karena yang ia lihat adalah usahanya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Prilly.
"Terima kasihnya pakai cium dong," pinta Choco sambil menunjukkan raut menggoda. Prilly menggembungkan pipi, dia melirik ke sana ke mari lalu dengan cepat mengecup pipi suaminya.
"Istri yang pintar," puji Choco sambil terkekeh.
"Sebelum bermain kita makan siang dulu ya," ucap Zoya sambil membuka tutup makanan yang mereka bawa dari rumah.
"Iya, Mommy."
"Iya, Grandma."
Jawab mereka berbarengan.
Para istri mulai lincah mengambil piring untuk melayani suami dan anak mereka. Berbeda dengan Aneeq yang lagi-lagi dikerjai oleh anaknya karena harus mencari buah semangka.
"Ya ampun, di mana ada semangka? Di sini tidak ada Lee!" kata Aneeq sambil bertolak pinggang. Sedari tadi dia terus berdebat dengan Cornelius, tetapi lagi-lagi dia yang mendesaahkan nafas. Tak habis pikir dengan otak putranya.
__ADS_1
"Tadi aku lihat ada, Daddy!" tegas Cornelius sambil melirik ke sana ke mari, karena dia sempat melihat sang penjual ada di sekitar sini.
"Iya tapi di mana? Kamu lihatnya itu di mana?" tanya Aneeq setengah emosi.
"Sepertinya di sana?" tunjuk Cornelius ke arah selatan. Mau tidak mau, Aneeq pun menuruti keinginan putranya. Dia menggandeng bocah tampan itu menyusuri jalan mencari buah semangka. Hah, sampai buah-buahan favoritnya saja, Cornelius jadi suka.
Namun, sampai beberapa meter mereka berjalan. Tak ada satu pun pedagang buah berwarna merah itu. Keduanya sudah berkeringat, karena cuaca memang cukup terik, belum lagi suasana danau yang begitu ramai.
"Tidak ada, Lee. Kita sudah berjalan terlalu jauh," kata Aneeq. Ingin membuat sang anak berhenti merengek.
Namun, Cornelius tak langsung menjawab. Karena tatapan matanya terus menelisik area di sekitar sana. Hingga akhirnya dia menemukan buah kesukaannya.
"Itu, Dad!" ujarnya dengan bersemangat. Sementara Aneeq langsung menghela nafasnya dengan kasar. Menahan kesal yang sudah menggunung di dadanya. Karena ternyata penjual itu ada di pintu gerbang utama.
Hah!
"Kenapa tadi tidak menyuruh Daddy berhenti? Jadi kita tidak perlu berjalan sejauh ini!" gerutu Aneeq, tetapi Cornelius hanya tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang putih.
***
Banyak yang bilang gini "Thor, katanya mereka kembar lima, kok usianya beda-beda?"
Itu usia mereka pas nikah ya, Jubedah. Kan nikahnya gak barengan semua. Ada yang sama dan selang berapa tahun gitu. Ngerti gak? ngerti lah masa gak.
Oke kalo gitu berikan vote kalian🤸🤸🤸
Senin Oey.
__ADS_1