Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 54. Bertahan Atau Melepaskan


__ADS_3

Di tempat yang berbeda, Prilly masih belum bisa memejamkan matanya. Hingga dia memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Cukup jauh jarak antara tempat tinggalnya yang sekarang dengan ibu kota.


Namun, di sini dia tidak kekurangan apapun. Vila dekat pantai yang masih milik keluarganya, menjadi tujuan dia untuk menenangkan diri dan mengukuhkan hati.


Bukan tanpa alasan dia pergi, kalian pasti bisa merasakan betapa hancurnya hati dia setelah penyatuan kedua mereka.


Diperlakukan bak pelampiasan semata, di saat Choco patah hati terhadap mantan kekasihnya. Siapa yang akan menerima semua itu dengan mudah?


"Apa kabar kamu, Kak? Kata Kak An, kamu selalu mencariku. Apakah itu benar? Haruskah aku pulang sekarang?" ucap Prilly dengan bibir yang bergetar, dia berdiri di sisi balkon sambil menatap deburan ombak yang terus berkejaran.


Fajar hampir menyingsing, tetapi entah kenapa matanya sulit sekali untuk terpejam. Selama satu bulan ini dia mencoba untuk mencari ketenangan, tetapi meninggalkan Choco nyatanya hanya menyisakan rindu yang tak berujung.


Karena sejatinya, hati Prilly tidak akan pernah siap untuk melepaskan.


Namun, bila mengingat semuanya. Selalu sesak yang ia terima. "Apakah aku terlihat egois? Karena kamu menyangka bahwa di sini aku bahagia, padahal aku juga tersiksa karena menahan rindu padamu."


Prilly menghembuskan nafas panjang. Dari ke hari dia terus berpikir, karena ia merasa bahwa kepergiannya yang tiba-tiba seperti ini, tidak akan pernah menyelesaikan masalah apapun.


Dia hanya menyiksa dirinya sendiri. Karena dia tidak tahu sampai kapan ia akan berada di sini, dia juga tidak tahu kejelasan hubungan ia dan sang suami.


Sampai kapanpun Prilly yakin bahwa Choco tidak akan menemukannya. Karena dia meminta Aneeq untuk menutup akses ke tempat ini. Kecuali dia yang meminta Choco untuk datang, atau dia yang kembali.

__ADS_1


Apalagi dia ingat betul saat ia memutuskan untuk masuk ke dalam hidup Choco. Itu artinya dia sudah siap dengan segala konsekuensinya.


Bukankah dia juga sudah pernah mengatakan bahwa dia siap, jika Choco akan melepaskannya. Lalu apa yang dia takutkan sekarang?


Karena dia pun sadar, cinta tidak bisa datang secepat itu. Dia tidak bisa membuat Choco bertekuk lutut langsung di hadapannya, dengan alasan cinta.


"Aku harus pulang. Aku tidak boleh jadi pengecut dengan terus bersembunyi seperti ini," putus Prilly akhirnya. Dia tidak ingin menunggu lebih lama, dan memperbanyak masalah.


Gadis itu mengusap bulir-bulir air yang menetes dari matanya. Ia kembali masuk ke dalam kamar dan membereskan barang-barangnya. Dia harus mengatakan pada Aneeq, bahwa dia sudah siap untuk bertemu dengan suaminya lagi.


Hampir satu jam Prilly mengepak semua barang yang akan ia bawa. Lalu dia beristirahat sebentar sampai pagi menyapa.


Kurang dari 3 jam Prilly berhasil memejamkan mata. Ketika bangun, Prilly langsung melirik ponsel, untuk melihat pesan yang ia kirim pada kakak iparnya. Ternyata Aneeq sudah membalas, kini ia hanya perlu bersiap-siap dan menunggu.


Tekad Prilly sudah bulat, sebab dua pilihan sudah ada di tangannya. Antara bertahan atau melepaskan. Dia harus siap dengan keduanya.


Dia meraih koper, karena Aneeq kembali mengirim pesan bahwa seseorang yang menjemputnya sudah ada di depan.


Namun, baru saja dia membuka pintu, dia dikejutkan dengan seseorang yang berdiri persis di hadapannya.


Jantung Prilly hampir saja terlepas dari tempatnya diiringi kelopak mata yang melebar dengan sempurna.

__ADS_1


Seorang pria yang sudah lama tidak terlihat, kini jelas-jelas datang dengan binar yang tidak bisa dia jelaskan.


Kedua sorot mata mereka bertemu. Prilly kehilangan suaranya, karena sedikit pun dia tidak bisa berkata-kata. Dia hanya mampu bergeming, menatap suaminya yang tiba-tiba berlutut.


"Maaf ... maafkan aku, Pril. Maaf untuk semua kesalahan yang aku lakukan padamu. Aku menyesal, karena kebodohanku, aku hanya bisa melihat dari satu sisi, tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Dan sekarang, aku ingin menjemputmu pulang ... ayo pulang bersamaku, kita buka lembaran baru dalam kisah yang telah kita buat. Aku berjanji untuk memperbaiki semuanya, termasuk berusaha untuk mencintai kamu. Aku mohon, pulanglah bersamaku ...."


Choco menengadah dengan sorot mengiba, menatap Prilly yang kini menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, agar tangisnya tidak pecah. Namun, sekuat apapun dia menahan, dia tidak akan bisa.


"Jangan seperti ini, Kak," balas Prilly meminta Choco untuk bangkit. Akan tetapi Choco tidak mengindahkan permintaan istrinya.


"Aku akan tetap seperti ini sampai kamu bersedia untuk pulang bersamaku."


Mendengar itu, Prilly justru terisak kencang. Merasa haru karena ternyata Choco pun berusaha untuk tetap bisa bersamanya.


Sampai beberapa saat, Prilly tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia terus menangis dengan bahunya yang naik turun.


Hingga akhirnya Choco bangkit, memberanikan diri untuk memeluk tubuh mungil itu. Di dada bidang suaminya, tangis Prilly semakin pecah, untuk pertama kalinya dia merasa bahwa ketulusannya tidaklah sia-sia.


"Pulang ya, jangan membuatku semakin tersiksa."


***

__ADS_1


Pulang gak pulang gak?


__ADS_2