
Ketika Choco keluar bersama Prilly. Semua orang langsung melayangkan tatapan pada sepasang suami istri itu. Pasalnya mereka sudah menunggu hampir satu jam lamanya, tetapi yang ditunggu-tunggu malah asyik bercinta. Dalam pikiran mereka.
Choco pun merasa heran dengan tatapan penuh selidik itu. Dia mengerutkan kedua alis, lalu bertanya. "Kalian kenapa? Kok menatap kami seperti itu?"
Mendengar itu, tentu membuat semua orang saling pandang satu sama lain. Sementara De yang sudah pegal menggendong putri kecilnya langsung menyeletuk. "Kita mau berangkat jam berapa? Tanganku sudah sangat pegal karena menunggu hampir satu jam."
Choco melirik arloji di pergelangan tangannya. Pada saat itu juga ia tersadar, bahwa ia dan Prilly sudah terlambat, dan membuat semua orang menunggu.
Dia langsung berubah gelagapan. Merasa tak enak dengan anggota keluarganya yang lain. "Ah, maaf. Tadi ada masalah sedikit, makanya aku terlambat."
"Masalah apa yang kamu hadapi sampai mandi lama sekali?" timpal Bee dengan tatapan meledek. Sementara di samping Choco, Prilly sudah menggigit bibirnya.
"Bee—"
"Mommy, kapan kita akan berangkat? Kenapa lama sekali?" rengek Amanda pada ibunya, Jennie. Memotong ucapan Choco yang hendak menjawab pertanyaan Bizard.
Dan rengekan itu berhasil menghentikan perdebatan tidak penting ini. Karena detik selanjutnya, Ken langsung menyuruh semua anak serta cucunya masuk ke dalam mobil.
"Kita berangkat sekarang, Sayang. Ayo semuanya masuk ke dalam mobil masing-masing," ucap Ken, sementara Gloria tidak mau turun sama sekali dari gendongannya.
Ada lima mobil yang tersedia, untuk keluarga inti serta beberapa pengasuh yang ikut serta.
__ADS_1
"Amanda, ke sini!" ucap Jennie sambil meraih tangan putri bungsunya. Namun, bocah cantik itu menolak, sebab dia ingin bersama kakeknya.
"Tidak, Mom. Aku mau ikut mobil Grandpa saja."
"Hei, Grandpa sudah ada Aunty Kecil," timpal Aneeq, yang melihat putrinya keras kepala. Karena selalu saja merebutkan kasih sayang Ken bersama Gloria. Padahal kurang sayang apa dirinya pada Amanda?
"Aku akan duduk di belakang!" Amanda masih teguh pendirian. Namun, kali ini Aneeq tidak bisa bertoleransi lagi, dia segera menggendong putri bungsunya untuk masuk ke dalam mobil. Tak peduli Amanda terus merengek dan memarahinya.
"Berhenti merengek atau Daddy tinggal di rumah!" tegas Aneeq yang membuat Amanda langsung bungkam seketika. Dia melipat tangan di depan dada dengan bibir yang mencebik, inilah yang ia tidak suka dari sang ayah. Selalu pilih-pilih dalam memenuhi keinginannya.
"Jangan keras kepala lagi yah, Daddy tidak suka," sambung Aneeq dengan suaranya yang terdengar memelan. Namun, air muka Amanda justru semakin memerah.
Aneeq menyugar rambutnya ke belakang, lalu mulai menyalakan mesin mobil. Sebenarnya dia tidak tega melihat Amanda yang terisak-isak seperti itu, tetapi jika selalu menuruti apapun keinginan Amanda, yang ada gadis kecil itu akan bersikap manja.
"Amanda bilang mau jalan-jalan, kenapa tidak mau diam, hem? Nanti kamu tidak bisa main lho," ujar Jennie, berusaha mendiamkan sang anak. Di saat mobil sudah mulai melandas meninggalkan halaman mansion.
Tak hanya mengundang perhatian sang ibu, tangis Amanda pun membuat kakak sulungnya mengalihkan pandangan. "Benar apa kata Mommy, Adik Kakak 'kan pintar jadi tidak boleh menangis lagi." Ujar Ziel, ikut menenangkan Amanda.
"Tapi Daddy nakal!" seru Amanda sambil sesenggukan. Dan tak luput menunjuk tubuh ayahnya yang duduk di kursi kemudi.
"Itu karena Amanda duluan, kenapa tidak mau mendengarkan apa kata Daddy?" timpal Aneeq.
__ADS_1
"Daddy, diem!" Bocah yang baru berusia tujuh tahun itu berteriak, karena merasa kesal sang ayah selalu menimpali ucapannya. Padahal dia sedang marah.
"Makanya Nda jadi anak baik, nanti Daddy juga baik."
"Daddy!"
"Lho apa yang dikatakan Daddy itu benar."
"Daddy jangan ngomong terus, Nda pusing," rengek Amanda, agar sang ayah tidak kembali bicara. Mendengar itu, akhirnya Aneeq pun kicep. Menelan kembali semua kalimat yang hendak diucapkannya.
Dia merasa lucu sendiri jika sedang berdebat dengan sang anak. Apalagi Amanda dikenal cerewet jika didekat orang-orang yang ada disekitarnya. Lain dengan Cornelius, yang selalu asyik sendiri dengan dunianya.
"Lee, kamu sedang apa?" tanya Aneeq pada putranya yang duduk di sebelah. Sedari tadi pria kecil itu sibuk memainkan ponselnya.
"Aku sedang menghubungi pacarku, Dad," jawab Cornelius dengan enteng. Tak sadar jika jawabannya membuat jantung sang ayah hampir copot.
"Apa? Pacar?"
***
Anak lu, Bang Bang🙄🙄🙄
__ADS_1