
Choco tergugu di dalam mobil, hatinya teramat sakit dengan kenyataan yang ada. Cinta yang dia bangun, runtuh seketika bersama sesak yang memenuhi dadanya.
Bukan hanya kecewa terhadap Melinda, tetapi dia pun merasa sangat bersalah pada istri kecilnya. Sudah berapa banyak kesakitan yang ia torehkan? Sudah berapa banyak kesalahan yang ia buat? Sudah berapa banyak kalimat yang ia lontarkan dengan begitu kasar? Namun, Prilly masih bertahan di sisinya, dengan alasan cinta.
"Kamu bodoh, Cho!" teriaknya sambil memukul stir, memaki dirinya sendiri. Dia menangis sambil memejamkan matanya kuat-kuat. "Kamu bodoh karena telah percaya padanya!"
Choco menjambak rambutnya frustasi, masih tak percaya dengan apa yang menimpanya. Namun, semua itu sudah terlanjur basah. Apa yang ia dapat adalah hasil dari kebodohannya sendiri.
"Kamu lihat sekarang? Kamu bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri kalau dia tidak benar-benar mencintaimu? Kamu melihatnya 'kan?"
Choco memukul-mukul dadanya, berharap semua rasa sakit itu menghilang. Rasa sakit yang dia dapat karena sebuah ketulusan justru dibalas dengan pengkhianatan dan ketidakjujuran.
Dengan pikiran yang kalut, Choco menyalakan mesin mobil. Dia membawa kendaraan roda empat itu membelah jalan raya. "Prilly pasti sedang menertawakanmu, Cho. Karena dia tahu semuanya lebih dulu. Dari kemarin dia mencoba menyadarkanmu, tapi kamu pura-pura tuli, kamu buta!"
Andai waktu bisa diputar, mungkin Choco tidak akan memilih jalan percintaan yang seperti ini. Sebab hatinya hancur berkeping-keping, seperti nyaris tak tersisa.
Air mata pria tampan itu terus mengalir begitu saja. Meskipun ia bersyukur karena mengetahui semuanya, tetapi pengkhianatan adalah sesuatu yang tidak akan mungkin bisa membuat hatinya baik-baik saja.
Dikala emosinya yang belum stabil. Choco tidak pulang ke rumah. Dia lebih memilih untuk menenangkan pikirannya di salah satu club malam terbesar di ibu kota.
Dia memesan banyak minuman dan benda panjang bernikotin untuk dinikmatinya. Berharap dengan begitu dia bisa melupakan kejadian malam ini. "Anggap saja ini semua mimpi."
Choco bergumam di salah satu sofa yang ada di sudut ruangan. Dia menyendiri di antara hiruk pikuknya lautan manusia yang sedang berlenggak-lenggok.
Dia menolak beberapa orang wanita yang berusaha untuk mendekatinya. Sebab dia tidak ingin diganggu oleh siapapun.
__ADS_1
Kini dia tidak menangis lagi, tetapi batinnya meringis menahan pilu. Dia termenung sambil terus menghisap rokokk yang terselip di kedua jarinya. Lalu menenggak minuman keras langsung dari botolnya.
Dan hal tersebut tak lepas dari sorot mata pria yang duduk tak jauh dari Choco. Dia terus menelisik pergerakan pria itu, sambil mendengarkan keluhan yang sedang disampaikan oleh kliennya.
Bizard—saudara kembar Choco, yang merupakan kakak kedua pria itu tengah mengadakan pertemuan di tempat yang sama. Namun, secara tidak sengaja dia melihat Choco yang datang dengan mimik wajah yang tidak biasa.
Namun, karena di sini dia sedang bekerja. Bizard tidak bisa langsung menghampiri adiknya. Dia menunggu sampai pekerjaannya selesai sambil terus mengawasi Choco.
"Baik, Tuan. Semuanya sudah saya catat, nanti jikalau saya membutuhkan penjelasan yang lebih rinci, saya pasti akan menghubungi anda," ucap Bizard.
"Ya, Tuan. Saya harap di tangan anda permasalahan ini segera selesai."
Bizard menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Kalau begitu, saya pamit lebih dulu ya, Tuan. Saya masih ada urusan."
"Saya sedang buru-buru."
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati Tuan Bizard." Mereka berjabat tangan, kemudian setelah itu Bizard benar-benar pamit dari hadapan kliennya.
Dia melangkah cepat ke arah Choco yang masih bergeming di tempat yang sama. Pria itu sudah terlihat cukup mabuk dengan bola matanya memerah.
Bizard tidak tahu alasan mengapa adiknya seperti ini. Namun, dia sangat yakin bahwa masalah yang sedang Choco hadapi tidaklah main-main.
"Cho!" panggil Bizard dengan suara lembut. Namun, sang adik seperti tidak mendengar. Tatapan matanya kosong, tetapi dia tak berhenti menghisap lintingan kertas yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Choco, ini aku Bee!" Suara pria itu terdengar lebih keras, hingga perlahan Choco menggerakan kepalanya. Dia melirik saudara kembarnya dengan sendu. Membuat Bizard ikut merasakan sesak yang tidak biasa.
"Sedang apa kamu di sini?" tanyanya, Bizard hendak duduk di samping Choco, tetapi pria itu segera mendorong Bizard.
"Pergi, jangan ganggu aku!"
Bizard pun terperangah. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan adiknya. "Cho, aku tahu kamu sedang ada masalah. Aku akan tetap di sini untuk menemanimu."
"Aku bilang pergi, Sialan!" sentak Choco dengan amarah yang kembali memuncak. Dia tidak sadar siapa yang sedang ada di hadapannya. "Aku tidak butuh siapapun, karena aku tahu kamu hanya akan menertawakanku."
Bizard tampak tak peduli, dia tetap berusaha untuk duduk di samping adiknya. Dan hal tersebut tentu membuat Choco murka. "Apa kamu tuli?! Aku bilang pergi, pergi jauh-jauh dariku. Aku tidak butuh orang munafik seperti kamu!"
Bahkan tanpa segan Choco bangkit dengan tubuhnya yang sempoyongan. Dia meraih pergelangan tangan Bizard dan mengusirnya dengan kasar. "Pergi, Badjingan!" Teriak pria itu dengan nafas yang memburu.
"Kalau kamu terus mengusirku, maka aku yang akan menyeretmu pulang ke rumah!"
Mendengar itu, Choco justru tertawa miris.
"Apa? Kamu bicara seperti itu karena kamu tidak tahu apa-apa, jadi jangan ikut campur! Gagal menikahi wanita yang aku cintai, lalu tiba-tiba aku dihadapkan dengan semua kebohongannya, tahu apa kamu, Bangsaatt?!" Choco memukul dada Bizard dengan keras, tetapi sang kakak masih tampak tenang.
Bukannya merasa kesakitan, tetapi dia malah merasa prihatin melihat adiknya yang tiba-tiba tertunduk di lantai sambil menangis. "Aku bodoh, aku bodoh, aku adalah pria yang bodoh."
Tak kuasa dengan pemandangan menyedihkan yang ada di depan matanya, Bizard pun ikut berjongkok, lalu memeluk Choco yang sedang terisak-isak dengan bahu yang senantiasa naik-turun.
***
__ADS_1
Gue juga mau meluk, tapi takut dipatuk 😩😩😩
Votenya jangan lupa oey, nanti tak up lagi wkwkwk. Malakkk dulu🤸🤸🤸