Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Cobra #4


__ADS_3

Hampir tiap kali menyusui Baby Leo, Prilly menangis diam-diam. Karena dia terus teringat dengan satu anaknya yang telah tiada. Sudut matanya tak berhenti basah, merasa kehilangan yang teramat sangat.


Seperti saat ini, dia mengelus lembut rambut putranya yang sedikit basah oleh keringat sambil terisak lirih, karena air matanya terus berjatuhan.


"Sehat-sehat ya, Sayang. Mommy akan temani Leo sampai besar nanti, jadi jangan buat Mommy khawatir, okey?" gumam Prilly mengajak Baby Leo bicara. Akan tetapi bayi yang belum berumur satu bulan itu hanya bisa menggerakkan matanya dan terus menatap sang ibu.


Wajah tak berdosa itu kian membuat hati Prilly merasa sesak. Hingga ia tidak bisa membayangkan bagaimana saat Baby Forest kesakitan tanpa dirinya.


Prilly menghirup udara dalam-dalam, berharap ada kelegaan yang mampu dia rasakan. Akan tetapi nyatanya tidak!


"Kasihan adikmu ya, Kak. Dia tidak bisa bermain dengan kita, karena dia harus pergi lebih dulu. Sepertinya ini salah Mommy, karena tidak makan dengan benar ketika kalian masih di dalam perut," ujar Prilly mulai menyalahkan dirinya sendiri. Sebagai ibu, tentu ia ingin memberikan segalanya pada sang anak, termasuk nyawa.


Namun, takdir tidak begitu. Karena yang harus Prilly lakukan hanyalah merasa ikhlas akan kehilangan bayi yang telah dilahirkannya.


"Kak Leo, di sini saja. Jangan pergi juga ya? Mommy berjanji, akan menjaga Kak Leo dengan baik."


Prilly mengelap pipinya yang basah menggunakan punggung tangan sambil memperhatikan Baby Leo yang menghisap kuat dadanya.

__ADS_1


Hingga tanpa sadar, di belakang punggung wanita itu sudah ada sang suami yang sedari tadi mendengarkan ocehannya.


Choco ikut merasa sedih, tiap kali melihat Prilly yang menangis seperti ini. Karena sebagai ayah, dia pun turut kehilangan anaknya. Akan tetapi dia bisa apa? Dia tidak akan mungkin terus meratap, dan membiarkan Prilly dalam kebimbangan.


Akhirnya Choco berusaha untuk menahan rasa sedihnya sendirian. Supaya dia bisa menghibur istrinya, dia melangkah pelan ke arah Prilly, dan merengkuh kedua bahu itu.


"Sayang, kita bawa Baby Leo berjemur yuk. Supaya dia mendapatkan vitamin," ujarnya, membuat Prilly langsung bergerak mengusak matanya.


"Ah iya, Kak. Sebentar lagi, sepertinya dia masih lapar," jawab Prilly.


"Nah beginikan jadi cantik. Ya, Nak, Mommy cantik 'kan?" Ujar Choco meminta persetujuan pada putranya yang hanya bisa mengedip-ngedip.


Prilly menoleh sekilas ke arah Choco, sejak dia masuk ke ruang operasi, bahkan sampai dia melahirkan Choco selalu berusaha untuk menghibur dirinya. Membuat dia sangat bersyukur memiliki Choco di dalam hidupnya. "Daddy juga tampan." Ungkap Prilly menepis rasa sedih di hatinya, padahal matanya tidak bisa bohong karena saat dia bicara, dia malah menangis.


"Jelas dong, makanya Kak Leo juga tampan."


Prilly mengangguk setuju. "Sangat, anak Mommy sangat tampan." Pandangan mata wanita itu beralih untuk menatap putranya yang mengurangi tempo susuan.

__ADS_1


Hingga dia merasakan sebuah jemari besar mengusap sudut-sudut matanya. "Mommy 'kan cantik, jadi tidak boleh menangis. Nanti Kak Leo dan Adik Forest akan ikut sedih."


Prilly berusaha untuk tersenyum. "Tidak kok, Mommy tidak menangis. Mommy hanya kelilipan."


Mendengar itu, Choco terkekeh kecil, sementara Baby Leo mulai melepaskan susuannya.


"Wah Kak Leo sudah kenyang yah. Kalau begitu ayo kita berjemur sekarang, supaya kelilipan Mommy hilang."


Choco berusaha mengambil alih Baby Leo dari gendongan istrinya. Setelah kelahiran anaknya, dia benar-benar menjadi suami siaga. Hingga dia melakukan semua pekerjaan yang dilakukan baby sitter.


Bayi mungil itu sudah berpindah di pelukan sang ayah, badannya yang tak begitu besar, membuat Baby Leo mampu digendong dengan satu tangan.


Choco beralih menatap Prilly dan menggenggam tangannya untuk keluar dari kamar, karena mereka akan berjemur di taman belakang.


Cup!


"Come on! Kita bawa dia melihat keindahan dunia, dan mengajarkan dia artinya ketulusan cinta. Karena hidup ini, bukan hanya tentang kesedihan," ucap Choco dengan wajah sumringah. Hingga senyumnya mampu membuat Prilly merasakan kehangatan cinta.

__ADS_1


__ADS_2