
Choco senantiasa diliputi kesedihan, karena salah satu putranya harus pergi untuk selama-lamanya. Tanpa memberitahu Prilly yang masih terbaring lemah, dia pun menguburkan sang anak.
Dia tidak ingin membuat kondisi sang istri berubah drop karena berita duka ini. Yang ada hal tersebut akan semakin mempersulit keadaan, karena Prilly sedang dalam masa menyusui.
"Mom, aku titip istriku sebentar. Kalau dia bertanya aku di mana, bilang saja aku ada urusan," ucap Choco dengan suara yang sudah sumbang.
Zoya mengangguk pasrah. Lalu kembali mengusap bahu putranya dengan lembut, mencoba untuk memberikan kekuatan. Meskipun ia tahu, itu semua tak dapat mengembalikan Forest ke dunia ini.
"Ya, Sayang, kamu hati-hati."
Wanita paruh baya itu melepas kepergian Choco yang mengurus pemakaman putranya. Sepanjang langkah, air matanya terus menetes dengan sesak yang tiada akhir.
"Maafkan Daddy, Sayang. Maaf kalau Daddy lalai dalam menjagamu. Bermainlah di surga, dan tunggu kami di sana, Daddy yakin kita akan bersama lagi, karena Daddy, Mommy dan Kak Leo akan selalu mengingatmu," batin Choco meringis, menahan sakit.
Setelah masalah administrasi selesai. Tiba-tiba Ken datang menghampiri, sebab dia sudah mendengar cerita dari istrinya. Dia menepuk bahu Choco, dan pria itu langsung menoleh. "Daddy."
__ADS_1
Ken mencengkram salah satu bahu putranya. Lalu menggoyangkannya perlahan. "Sabar, Tuhan pasti menyiapkan sesuatu untuk kalian berdua."
Mata Choco senantiasa memerah dengan ludah yang tercekat di tengah tenggorokan. Rasanya sangat sakit, karena dalam sejarah keluarga mereka, hanya anak Choco dan Prilly yang meninggal dunia di saat masih bayi seperti ini.
"Iya, Dad. Aku dan Prilly pasti kuat untuk menerima ini, karena ada kalian semua yang selalu berdiri di belakang kami," jawab Choco penuh keyakinan.
Dan setelah itu, Ken memeluk tubuh putranya. Dia tahu bagaimana rasa sakitnya kehilangan orang yang dicinta. Tidak ada harapan bertemu, menyisakan rindu yang menggunung. Karena kita tidak akan pernah menemui sosoknya lagi, kecuali di dalam kenangan yang terpatri.
"Ayo, Daddy temani. Kita berikan selamat jalan pada Forest sama-sama," ujar Ken, membuat Choco benar-benar tak sanggup untuk sekedar menelan ludahnya.
Mereka berangkat bersama tim rumah sakit Puri Medika ke pemakaman terdekat. Dan ternyata De pun ikut menyusul.
Setelah menabur bunga Choco berjongkok, sambil memegang batu nisan yang bertuliskan nama anaknya. Sementara di kedua sisinya, ada De serta sang ayah.
"Forest, Daddy pulang yah. Kamu hati-hati di sini. Jangan nakal, nanti kamu tidak memiliki teman. Daddy janji, setelah Mommy pulih, Daddy akan bawa Mommy ke mari. Don't crying, oke?" ucap Choco yang tidak akan mungkin mendapat jawaban.
__ADS_1
Dia tergugu, merasa tak sanggup untuk meninggalkan sang anak dalam kesendirian dan kesunyian. Hingga akhirnya Ken dan De kembali memenangkannya.
"Sudah, Nak. Mari kita pulang, Prilly pasti mencarimu," ujar Ken, ingin sang anak berhenti meratap.
"Iya, Cho. Kondisi istrimu baru saja pulih, jadi lebih baik kita kembali ke rumah sakit secepat mungkin. Aku takut dia curiga dan mencarimu ke mana-mana. Sedangkan Prilly tidak boleh stress, karena dia harus memberikan ASI eksklusif untuk Leo," timpal De, dia tahu bagaimana kondisi kakak ipar dan ponakannya, karena sebagai dokter dia pun ikut memantau.
Mendengar itu semua akhirnya Choco pun mau bangkit. Dia tidak mau menjadi ayah dan suami egois, sudah cukup satu anaknya yang pergi, dia tidak mau yang lain ikut terkena imbasnya.
Sekali lagi sebelum dia naik ke mobil, dia menoleh untuk melihat makam anaknya.
Daddy pasti menjengukmu lagi, Nak.
***
Nak-anak ulerku, mau Forest anak bunglon atau bukan, emang jalan ceritanya begini ya😂😂 Dari awal emang udah ada alurnya, tapi berhubung kemaren kebetulan salah kasih nama, jadi Forest yang ditiadakan.
__ADS_1
Noh yang kagak percaya Leopard tuh jenis uler😂