Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 39. Tidak Percaya!


__ADS_3

Setelah membersihkan hidungnya yang berdarah. Choco pun memilih untuk keluar dari kamar. Dia mencari sudut mansion yang sepi, sebab orang yang sedang mengikuti Melinda mengiriminya beberapa pesan.


[Sore ini Nyonya Melinda datang ke gudang tua, Tuan. Dia datang sendirian dan masuk ke gudang itu.]


Pesan itu terkirim saat Melinda baru saja tiba. Dan setelah beberapa saat kemudian, anak buah Choco kembali menulis pesan, mengatakan bahwa Melinda keluar dengan gerakan tergesa-gesa.


Choco hanya mampu menernyitkan dahinya. Tak hanya informasi seputar ke mana Melinda pergi, dia pun mendapat lokasi terkini. Dengan cekatan dia langsung menulusurinya menggunakan maps, hingga dia bisa melihat dengan jelas tempat yang baru saja wanita itu kunjungi.


"Untuk apa dia ke sana? Ini tempat rawan penjahat lho, kenapa dia berani sekali," gumam Choco dengan otak yang dipenuhi tanda tanya.


Dia yakin Melinda tidak akan mungkin sekedar singgah saja. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita itu. Apalagi Choco sangat hafal, jika lokasi tersebut adalah salah satu tempat yang jarang ditempati oleh warga.


"Ini tidak masuk akal. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Mel? Apakah sangat besar, hingga kamu tidak berbagi lagi denganku?"


Tanpa pikir panjang, Choco meminta anak buahnya untuk mengecek ke dalam. Agar ia tahu lebih jelas, tujuan Melinda datang ke gedung tua itu.


"Aku tidak mau tahu, aku ingin informasi yang lebih jelas mengenai dia!" cetus Choco, lalu dengan cepat mematikan panggilan secara sepihak.


Pikirannya mulai berlarian ke sana ke mari, mengingat tentang hubungannya dengan Melinda, selama ini ia merasa tidak ada yang ditutup-tutupi. Namun, kenapa pada akhirnya realita mulai berubah saat ia telah menikah dengan Prilly.


"Apakah selama ini aku salah menilaimu, Mel? Kenapa sekarang kamu membuatku ragu?" gumam Choco. Hatinya seperti tak tentu arah, antara di masa lalu dan masa sekarang. Dia masih dibayang-bayangi oleh keduanya.


Apalagi hubungannya dengan Melinda dikata baik-baik saja. Sebab wanita rubah itu sangat pandai bermain drama untuk mendapatkan keinginannya. Hingga Choco masuk ke dalam permainan Melinda.


Cinta yang ia kira tulus tanpa adanya alasan. Justru memiliki tujuan. Rasa sayang yang semula penuh kelembutan, nyatanya justru penuh kepalsuan.


Choco hanya bisa menghela nafas berat. Kepalanya terasa berdenyut tiap kali memikirkan nasib percintaannya.

__ADS_1


Dengan langkah gontai pria tampan itu kembali masuk ke dalam mansion. Namun, wajah murung itu langsung menghilang, ketika dia melihat Prilly yang baru saja selesai mengenakan pakaian.


Karena setelah ia telusuri lebih dalam, ternyata berada di dekat Prilly, ia merasa nyaman.


"Kenapa tidak pakai baju seksi lagi?" tanya Choco dengan tampang mengejek.


Prilly malas meladeni suaminya. Sebab dengan adanya Choco, membuat dia selalu naik darah. Keduanya seperti Tom and Jerry. Di mana jika mereka disatukan, pasti ada saja yang diributkan.


"Kenapa tidak dijawab? Aku tanya lho," ucap Choco lagi, saat melihat Prilly yang bergeming dan sibuk sendiri. Entah kenapa, kini hobi baru pria itu adalah mengganggu istri kecilnya.


"Apakah pertanyaan itu wajib dijawab?"


"Tentu!"


"Baiklah aku akan menjawabnya, kenapa aku tidak pakai baju seksi lagi? Ya karena aku takut ada seseorang yang menjilat ludahnya sendiri," jawab Prilly dengan wajah yang begitu menyebalkan di mata Choco. Membuat pria tampan itu mengernyitkan pangkal hidungnya.


"Aku tidak menyindir siapapun. Kakak hanya meminta aku untuk menjawab, ya aku jawab. Tapi kalau ada seseorang yang tahu diri, ya itu bagus," jawab Prilly sambil mengangkat kedua bahunya.


Dalam hati dia ingin sekali terbahak-bahak saat melihat wajah Choco yang terlihat cukup kesal. Cih, suruh siapa dahulu pria itu menindasnya?


"Itu sama saja, kamu telah menyindir aku!" cetus Choco tak terima.


Prilly menghela nafas panjang. "Ini yang membuatku malas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting itu. Hanya buang-buang waktu!"


Mendengar itu, tangan Choco terkepal. Apa katanya? Hanya buang-buang waktu? Prilly terlihat waspada saat Choco mulai melangkah ke arahnya. Sebab ia sangat yakin pria itu akan melakukan sesuatu padanya.


"Mau apa kamu, Kak?"

__ADS_1


"Karena kamu telah menyindirku, kamu harus mendapatkan hukuman!" tegas Choco, yang membuat Prilly langsung mendelikkan matanya.


"Hukuman apa?!"


"Mulai malam ini, kita tidur bersama! Kita realisasikan apa itu menjilat ludah sendiri. Bahkan aku akan mengajarimu menjilat ludah orang lain."


Glek!


***


Pagi harinya.


Prilly berteriak dengan sangat kencang saat pertama kali ia membuka mata. Sebab tanpa ia ketahui Choco telah memegang dan meremass salah satu dadanya.


"Dasar pria mesyum!" teriak Prilly sambil menghujani tubuh Choco dengan pukulan bertubi-tubi. Meskipun mereka pernah bercinta, tentu Prilly masih memiliki urat malu untuk sekedar ukuran sentuh-menyentuh.


"Ampun! Aku tidak sengaja!" Choco tak kalah berteriak, sebab dia tidak mendapat celah untuk menghalau pukulan istrinya.


"Tidak sengaja apanya? Jelas-jelas tanganmu bergerak—ahh, dasar gila!"


"Tapi aku benar-benar tidak sengaja, tadi aku sedang bermimpi. Dan di dalam mimpiku sedang memegang squishy," timpalnya penuh alibi.


Mendengar itu, tentu Prilly langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Sedangkan otaknya tidak bisa dibodohi begitu saja. "Cih, aku tidak percaya!" Teriak gadis itu, bak seekor singa yang siap melahap mangsanya.


***


Jangan lupa ritual jemvolnya guys😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2