
Di perusahaan Guero Grup, Melinda sedang berusaha untuk menghubungi anak buahnya. Sebab dia ingin menanyakan kabar tentang Pram, tetapi sampai sekarang, tidak ada satupun panggilan pun yang terjawab.
Padahal ponsel kedua orang itu aktif. Dia sama sekali tidak curiga bahwa anak buahnya telah diringkus habis, sementara Pram sudah berada di tempat yang aman.
"Cih, ke mana sih mereka berdua? Dua-duanya sama-sama tidak bisa diandalkan!" gerutu Melinda dengan perasaan kesal. Dia kembali menekan icon panggilan, tetapi hanya ada dering ponsel yang dia dengar.
"Ayolah, sudah cukup bagiku untuk menyiksa pria pembangkang itu. Dia harus mati secepatnya, agar tidak ada satupun orang yang bisa membuka mulut tentang rencanaku!"
Melinda menarik sudut bibirnya ke atas dengan mimik wajah penuh kesombongan. Dia yakin apa yang sudah disusun oleh otaknya akan berjalan dengan sesuai.
Apalagi kini sudah ada Tuan James sebagai pengganti Choco. Jadi, hartanya akan semakin berlimpah ruah. Sementara Prilly tidak mendapatkan apa-apa.
"Astaga, astaga! Awas saja ya kalian. Kalau sampai nanti tidak bisa ku hubungi lagi, aku akan datang ke sana dan menendang bokoong kalian berdua!" cetus Melinda dengan penuh penekanan.
Sementara di lain sisi anak buahnya sedang disekap, dengan mata yang tertutup rapat. Kedua ponsel milik pria itu disimpan oleh anak buah Aneeq, mereka sengaja tidak mematikan panggilan Melinda, agar semuanya menjadi bukti bahwa wanita itu memang terlibat dalam penyekapan Pram.
Setelah tidak berhasil menghubungi bawahannya, Melinda pun mencoba untuk menghubungi Choco. Sebab akhir-akhir ini pria itu sudah jarang menghubunginya lebih dulu.
"Lebih baik aku memanas-manasi Prilly. Supaya dia sakit hati, mumpung Choco masih ada dalam genggamanku," ucap Melinda sambil cekikikan.
Berusaha untuk meredam rasa kesal yang sedari tadi membuncah, dengan memanfaatkan Choco untuk membalas dendam pada anak tirinya.
Dia benar-benar tidak sadar, bahwa posisinya sekarang sedang terancam. Di mana dia telah masuk ke dalam jebakan Aneeq, sementara Choco sudah bergerak untuk mencari tahu asal-usulnya.
Masih di restoran tempat Choco dan Prilly makan siang, ponsel Choco tiba-tiba berdering. Padahal pria itu sedang tidak ingin diganggu sedikitpun.
Namun, karena takut panggilan itu berasal dari orang yang menyelidiki Melinda. Membuat Choco terpaksa merogoh benda pipih itu dari saku celananya.
"Siapa?" tanya Prilly, saat melihat raut wajah suaminya berubah.
Pria tampan itu langsung gelagapan. Karena satu pertanyaan Prilly membuat dia sangat terkejut. Dia tidak berpikir bahwa yang menghubunginya sekarang adalah Melinda, ibu tiri dari istrinya.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa, buka mulutmu!" Tak ingin menambah masalah, Choco mengalihkan pembicaraan dengan meminta Prilly membuka mulut. Sebab sedari tadi ia memang tengah menyuapi istrinya.
"Aku tanya siapa! Apakah itu wanita yang kamu puja?" Kukuh, Prilly tak mengindahkan ucapan suaminya. Dia lebih tertarik dengan seseorang yang menelpon pria tampan itu.
Choco membuang wajahnya ke lain arah sambil menghela nafas kecil. Dia tahu Prilly adalah gadis yang keras kepala, tidak mudah untuk membujuk gadis itu agar menuruti perintahnya.
"Bisa tidak jangan memulai?"
Prilly mengerutkan keningnya. "Aku hanya bertanya, apa salahnya menjawab? Lagi pula aku tidak selemah itu. Apa kamu tidak ingat saat kalian berbicara mesra di depanku? Apakah aku memprotes?"
"Pril, harus berapa kali aku bilang? Aku sedang berusaha berubah!" tegas Choco dengan mimik wajahnya yang terlihat sangat serius. Dia pun mengabaikan telepon dari Melinda, meskipun wanita itu terus berusaha menghubunginya.
"Dan harus berapa kali aku bilang? Bahwa aku tidak akan semudah itu melupakan semuanya!"
Mendengar itu, Choco pun mulai gusar. Dia meletakkan makanan yang sedari tadi dia pegang, lalu menghadap ke arah Prilly.
"Apakah aku tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua?" tanyanya.
"Aku tidak mengatakannya. Tapi aku ingin bukti, bahwa kamu pun siap melepaskan dia. Dan bisa melihat aku yang pernah berjuang sendirian untuk mengemis cinta!"
Ditengah perdebatan mereka, kini giliran ponsel Prilly yang bergetar. Sebab Ezza menghubungi dia. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung mengangkatnya, tidak peduli meski Choco ada di hadapannya.
"Ada apa, Za?"
Choco mendelik, saat Prilly menyebut nama itu.
"Pril, kamu di mana? Aku sudah sampai di gerbang mansion suamimu."
Baru saja Prilly akan menjawab, benda pipih itu sudah berpindah tangan, sebab Choco merebutnya dengan paksa.
"Kak!" sentak Prilly.
__ADS_1
"Motormu ada di kantor polisi, kalau kamu masih membutuhkannya, datang saja ke sana!" serobot Choco, sedangkan Prilly berusaha untuk mengambil kembali ponselnya.
Ezza langsung terperangah. "Pak, yang benar saja. Di mana motor saya?"
"Aku bilang ada di kantor polisi. Apa kamu tuli?"
"Tapi kenapa bisa ada di sana?"
"Itu semua karena kamu!"
"Eh, kenapa salah saya?"
"Iya gara-gara kamu tidak meminjamkan aku helm, kami jadi ditilang!" tegas Choco, dia terus menghindar dari kejaran istrinya. Hingga berakhir Prilly yang naik ke atas punggung Choco.
Terdengar decakan keras dari mulut Ezza. Namun, seketika otak cemerlangnya pun bekerja. Hingga dia tersenyum tipis. "Oke kalau begitu saya tunggu Bapak di kantor polisi juga."
"Untuk apa aku ke sana?"
"Karena saya tidak segan-segan menjual mobil Bapak! Kalau Bapak tidak datang untuk menebus motor saya!"
Mulut Choco langsung menganga.
"Bocah gila!"
***
Ngothor lagi ga enak body, guys. Doakan cepat sehat ya.
Dan buat kalian pun jangan lupa jaga imun, imin dan iman jugaaa😗😗😗
Big luv❤️
__ADS_1
Salam anu dari uler cobra👑