Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 41. Lusa Datang


__ADS_3

Di kampus Choco mencari keberadaan Prilly, tetapi sampai beberapa saat ia tidak menemukan gadis cantik itu. Hingga dengan terpaksa dia datang ke kelas, dan bertemu dengan Ezza yang kala itu masih membereskan tasnya.


"Di mana istriku?" tanya Choco tanpa basa-basi, sebab ia masih merasa kesal dengan Ezza tentang masalah kemarin.


Sementara pemuda itu tampak pura-pura tidak mendengar dan sibuk sendiri. Choco mengeratkan gigi depannya, lalu melangkah semakin dekat. "Hei, aku sedang bertanya, di mana istriku?"


Ezza memutar bola matanya malas. "Kenapa tanya saya? Bapak 'kan suaminya!"


"Tapi kalian satu kelas!"


"Terus? Saya harus mengikuti ke manapun Prilly pergi gitu? Nanti kalau iya, Bapak cemburu, terus marah-marah tidak jelas, mengancam dan sebagainya. Ribet, Pak!" cerocos Ezza sambil mengayunkan tangannya, yang mana membuat mulut Choco langsung menganga.


Pria tampan itu bertolak pinggang.


"Aku hanya bertanya dalam satu kalimat ya, kamu malah jawab panjang kali lebar kali tinggi, memangnya aku sedang mengajarimu hitungan matematika?!" sentak pria dengan bisa king cobra itu.


"Aduh, please deh, Pak. Lagian kalau punya istri itu dijaga, disayang, dicintai, bukan ditelantarkan, apalagi dimaki-maki. Nanti giliran diambil orang Bapak tidak terima! Bapak egois namanya!"


Choco mengepalkan tangannya dengan kuat, diiringi gemetar-gemetar di dada, berbicara dengan Ezza sama sekali tidak ada gunanya. Yang ada dia malah naik darah. "Hah, percuma bicara denganmu! Tidak nyambung!"


Lantas setelah itu, Choco langsung melangkahkan kakinya keluar dari kelas sambil merogoh ponselnya, ingin menghubungi Prilly sekali lagi.


"Yeh, tuhkan malah marah-marah! PMS yah?" ledek Ezza, tetapi Choco tak menghiraukan ucapan pemuda tampan itu. Dia terus berjalan hingga masuk kembali ke ruangannya.

__ADS_1


***


Lusa telah datang.


Dan selama dua hari ini, hati Melinda sama sekali tidak bisa tenang. Wanita itu terus merasa cemas, sebab anak buahnya benar-benar tidak bisa dihubungi sama sekali, sementara ia tidak tahu di mana Pram berada. Entah sudah mati atau masih bernyawa.


Namun, meskipun demikian, dia tidak akan lupa dengan janjinya bersama dengan Tuan James. Malam ini mereka berdua janjian di salah satu hotel bintang lima, dan Tuan James telah menyiapkan semuanya.


Pokoknya Melinda tinggal datang saja. Dia berdandan secantik mungkin, dan memilih gaun yang paling mahal, agar duda kaya raya itu semakin terpukau dengan penampilannya.


"Aku masih terlalu cantik diusiaku sekarang, jadi tidak heran kalau Tuan James pun jatuh cinta padaku. Cih, lihat saja aku akan membuatnya tergila-gila, seperti Choco!" gumam Melinda sambil memperhatikan pantulan wajahnya di depan cermin. Bibirnya merah merona, memberikan kesan seksi dan juga berani.


Setelah berdandan cukup lama, akhirnya wanita itu keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Dan entah ada angin apa, Prilly tiba-tiba ada di sana.


Wajah Melinda yang semula sumringah, langsung masam seketika saat melihat anak tirinya. Tak ingin memedulikan kehadiran Prilly, dia terus melangkah dengan dagu yang terangkat, terkesan congkak.


Dia tahu Prilly sengaja merusak suasana hatinya, tak ingin berbuntut panjang, Melinda mencoba untuk pura-pura tidak mendengar. Namun, lagi-lagi Prilly sukses membuat kemarahannya meradang.


"Sudah berapa banyak pria yang kamu tipu dengan kepalsuan itu?"


Akhirnya Melinda memutar tubuhnya, hingga tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus. "Aku tidak memiliki urusan denganmu, Bocah Ingusan!"


"Yah, tapi aku yang punya urusan denganmu! Kamu pikir, Bocah Ingusan sepertiku tidak tahu semua kebusukan-kebusukan yang kamu simpan? Cih, namanya juga bangkai, mau ditutupi seperti apapun pasti tercium juga. Sekali murahan tetap saja murahan!"

__ADS_1


"Jaga mulutmu!" tuding Melinda dengan suara yang menyentak.


"Apakah tidak terbalik? Seharusnya kamu yang jaga mulut, karena aku tidak akan segan-segan untuk mengusir kamu dari sini!"


Mendengar itu, Melinda terkekeh kecil. Merasa lucu dengan ucapan anak tirinya. "Tidak semudah itu! Karena aku memiliki hak yang sama denganmu."


"Ya, ya, aku tahu kamu tidak tahu malu. Jadi, mau aku mengusirmu atau tidak, kamu pasti akan tetap mempertahankan apa yang bukan hakmu, lanjutkan saja dan susunlah rencana sematang mungkin agar kamu mendapatkan semuanya. Pergilah, aku akan naik ke kamarku!" usir Prilly dengan gerakan mengejek, padahal dia sudah berhasil membuat Melinda kesal setengah mati.


Dengan dada yang bergemuruh, Melinda pun pergi meninggalkan kediaman Elguero. Di dalam mobil dia mengatur nafas dan emosinya, agar senantiasa baik di depan Tuan James.


"Dasar anak kurang ajar, tidak tahu diuntung!" rutuknya yang terakhir kali, lalu berusaha untuk tersenyum.


Dengan menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Melinda sampai di hotel yang ia tuju. Dia sedikit merapihkan riasan, lalu keluar dengan anggun.


Tak disangka kedatangannya bersamaan dengan Tuan James. Pria paruh baya itu melangkah dengan tegap, sementara Melinda langsung tersenyum manis.


Dia tidak sadar sama sekali, jika sedari tadi dia telah dibuntuti.


"Halo, Tuan. Saya ingin melaporkan bahwa Nyonya Melinda bertemu dengan Tuan James di hotel XX."


Mendengar informasi dari anak buahnya, tentu membuat Choco tersentak kaget. Melinda dan Tuan James bertemu?


"Mereka tidak mungkin sekedar membicarakan kerja sama 'kan?"

__ADS_1


***


Apakah yang terjadi selanjutnya? Mohon taburi kembang, sama kopinya dulu guysssss. Jangan lupa jugaaaa dikomen, biar semangat satsetsatset 🤸🤸🤸


__ADS_2