Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 53. Sampai Kapan?


__ADS_3

Berita tentang Melinda yang masuk ke dalam penjara, tidak sedikitpun membuat Choco tertarik.


Di tiap harinya dia hanya dihantui rasa bersalah yang mendalam, setiap malam tidurnya tak nyenyak, makan pun rasanya tak enak. Karena sudah satu bulan berlalu, dia masih belum bisa menemukan istri kecilnya.


Sudah banyak kertas kecil yang menempel di cermin, sebuah kalimat yang sama, kalimat yang ia tulis setiap hari tentang keinginannya agar Prilly segera pulang.


Bahkan setiap pulang dari kampus, dia menghabiskan semua waktunya untuk mencari keberadaan sang istri yang entah di mana. Lelah? Kalian tidak perlu bertanya, fisik dan batinnya benar-benar tersiksa.


Namun, sepertinya semua yang ia lakukan tidak dapat menjadi penawar atas semua rasa sakit yang telah ia torehkan.


"Kapan kita bisa bertemu, Pril?" tanya Choco pada angin malam yang berhembus menerpa tubuhnya. Kini dia berada di dekat danau, perbatasan ibu kota.


Karena tadi siang dia memutuskan untuk pergi ke luar kota, dengan alasan yang sama. Yaitu mencari keberadaan istrinya.


Akan tetapi Prilly seperti ditelan bumi. Baik dia maupun seluruh anak buahnya belum ada yang bisa menemukan titik terang.


"Kamu ingin menyiksa aku seperti apalagi? Apakah masih belum cukup? Setiap hari aku selalu dibayang-bayangi rasa bersalah, ditikam oleh rasa penyesalan yang mendalam. Kalau boleh jujur, aku lelah, Pril. Aku ingin kamu pulang," gumam Choco sambil menatap lurus pada air yang tenang di dalam danau.

__ADS_1


Suasana sepi itu mewakili hatinya yang terasa hampa dan kosong. Setiap ia bangun tidur, ia seperti melihat sosok sang istri yang membelakanginya, tetapi nyatanya sosok itu tidak bisa dia sentuh dengan utuh.


"ARGH!" Choco berteriak kencang, mencoba untuk melepaskan semua beban yang ada di dadanya. Walau bagaimanapun dia hanyalah seorang pria biasa, memiliki perasaan dan emosi yang sama.


"Kamu benar-benar mengujiku, Pril. Kamu ingin lihat 'kan sebesar apa perjuanganku untuk mencarimu, lihatlah! Lihat aku di sini. Aku sudah berjuang keras, tapi kenapa kamu masih ingin terus sembunyi dariku?"


Choco tidak peduli pada beberapa orang yang melihat aksinya. Dia hanya sedang menyuarakan semua kerisauan yang selama ini menghinggapi hatinya.


Pria tampan itu tergugu. "Harus berapa lama? Katakan harus berapa lama lagi aku menunggu? Apakah selamanya aku harus hidup dalam penyesalan? Apakah dengan begitu kamu akan merasa senang?"


Tidak ada jawaban apapun. Selain suara berisik angin yang menggoyangkan dedaunan. Choco mengepalkan tangan, lalu mengayunkannya di udara.


Dia bergeming, menikmati suasana sepi ini dengan tatapan nanar. Sampai setengah jam dia berdiri di sana, akhirnya dia memutuskan untuk pulang.


Dengan langkah gontai Choco menghampiri mobilnya. Lalu membawa kendaraan roda empat itu untuk sampai di mansion. Pada pukul 2 dini hari Choco baru saja sampai, dia seperti tidak mengenal pagi dan malam.


Karena setelah kepergian Prilly, dia tidak pernah lagi merasakan tidur dengan sebenar-benarnya tidur. Jadwal kesehariannya menjadi terbengkalai, bahkan dia juga kerap melupakan makan siang dan makan malam.

__ADS_1


Baru saja Choco melewati pintu utama, dia langsung disambut wajah sang ibu yang tampak mengkhawatirkannya. Zoya tersenyum tipis, lalu menghampiri putra ketiganya. "Sayang, bagaimana? Apa ada kemajuan?"


Mendengar pertanyaan itu, Choco tentu merasa sangat sedih. Karena sampai sekarang semua yang ia lakukan seakan tidak ada gunanya. "Tidak ada, Mom." Jawabnya lemah.


Zoya pun turut merasa iba. Tanpa berkata dia pun memeluk tubuh putranya. "Sabar ya, Sayang. Mommy percaya kalau kamu sudah menyesali semua perbuatanmu."


"Dia bersembunyi dengan sangat baik, Mom. Apakah dia tahu, di sini aku tersiksa? Apakah dia tahu, di sini aku merindukannya? Kalau memang dia tidak bisa kembali untuk memperbaiki hubungan kami berdua. Izinkan aku meminta maaf, dan bertemu dengan dia untuk yang terakhir kalinya. Apakah harapan seperti itu pun aku tidak bisa mendapatkannya?" tanya Choco sambil terisak di dalam pelukan ibunya.


Zoya tidak bisa untuk tidak menangis. Dia mengelus lembut bahu kekar putranya dengan penuh kelembutan. "Kamu pasti bisa, Sayang. Percayalah ... bahwa Tuhan telah menyiapkan waktu yang paling tepat untuk menyatukan kalian berdua."


"Kapan, Mom? Kapan waktu itu akan datang?"


Untuk yang satu ini Zoya tidak bisa menjawab, dia hanya mengecup kening Choco lalu kembali mengeratkan pelukannya. Mereka terisak bersama. Sementara Ken hanya bisa menatap pemandangan pilu itu dari atas tangga.


***


Maacih yang udah bantu vote, siap menerima vote kapan aja dan berapa aja kok😍😍😍 Tiap hari juga ngothor ga bakal nolak🤣🤣🤣

__ADS_1


Oke jangan lupa komennyaaaa 🤸🤸🤸


__ADS_2