Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Anak Tiri
Bab 55. Mengungkapkan Isi Hati


__ADS_3

Setelah berpelukan cukup lama untuk melepas semua sesak dan rindu yang menjadi satu. Perlahan Choco menarik tubuh istrinya, agar ia bisa menjangkau wajah cantik itu.


Dengan gerakan lembut Choco mengusap air mata Prilly. Namun, tangis gadis itu tetap tak mau berhenti. Kristal bening itu senantiasa keluar tanpa ia pinta, tetapi sungguh kini tangisnya adalah tangis bahagia.


Apalagi saat Choco meninggalkan kecupan singkat di keningnya. Sumpah demi apapun, jantungnya langsung berdebar tak biasa.


"Sebelum pulang, kita bicarakan semuanya di dalam," ucap Choco sambil menggenggam tangan sang istri untuk kembali masuk ke dalam vila. Sementara satu tangannya menggeret koper yang sedari tadi Prilly bawa.


Prilly hanya mampu mengekor pada langkah suaminya. Choco menelisik beberapa sudut ruangan, hingga dia menemukan sofa panjang, tempat yang biasa digunakan untuk bersantai.


Keduanya duduk saling berhadapan. Namun, Prilly hanya bisa menunduk, melihat itu Choco tersenyum tipis, karena pada akhirnya dia bisa melihat wajah ini lagi. Choco menggerakkan tangan untuk mengangkat dagu Prilly, hingga kini mereka saling tatap dengan jarak yang cukup dekat.


Prilly mendadak gugup, karena melihat tatapan tak biasa dari suaminya. Apalagi pria itu terus menggenggam tangannya yang sudah berkeringat dingin.


Ada waktu yang terjeda di antara mereka. Hingga terdengar helaan nafas yang begitu panjang dari mulut Choco, karena pria itu ingin buka suara.


"Pril," panggilnya pada sang istri, dan membuat gadis itu mendongakkan kepalanya, "kamu tahu apa yang aku lalui saat kamu pergi meninggalkanku? Aku terbangun dengan rasa bersalah yang semakin besar, karena aku tidak mendapati kamu di sampingku, sementara aku tidak ingat apa yang telah aku lakukan di malam itu. Kamu tiba-tiba pergi, dan meninggalkan pesan yang cukup membuatku frustasi...."

__ADS_1


"Bahkan setelah ada jarak yang memisahkan kita, aku menyadari rindu yang tiba-tiba terselip untukmu, aku merasa cemburu sekaligus takut, takut jika di luar sana ternyata kamu sudah memiliki penggantiku. Jika aku mengatakan ini cinta, kamu pasti tidak akan percaya ... karena kamu akan menganggap bahwa kamu adalah pelarian semata. Padahal selama kamu tidak ada, aku banyak belajar, tentang cara menghargai dan mencintai apa yang aku punya. Andai rasa itu tidak pernah ada, mungkin sekarang aku tidak akan ada di sini. Kamu paham maksudku?" jelas Choco panjang lebar, mengungkapkan apa yang selama ini ingin dia sampaikan.


Prilly tak menjawab, dia hanya mampu terisak-isak.


"Aku sadar betul apa kesalahanku, Pril. Tapi ... aku minta pemaklumanmu, aku memohon maafmu, dan aku mengharap ketersediaanmu untuk menerima aku kembali," sambung Choco, karena melihat sang istri yang terus terdiam.


Walau bagaimanapun Choco tidak sepenuhnya salah. Dia harus sadar bagaimana dia datang dan mengecewakan pria tampan itu. Dia tahu itu semua tidak mudah, bila dikatakan egois? Harusnya dia yang dicap egois, karena tiba-tiba masuk dalam kehidupan Choco.


Andai tidak? Pria itu tidak akan mungkin melontarkan kata-kata kasar kepadanya, pria itu tidak akan mungkin memperlakukan dia bak sampah. Yah, seharusnya Prilly sadar itu, bukan karena dia lemah dan tidak tegas. Akan tetapi dia juga perlu tahu diri, dia yang memutuskan untuk masuk dalam lingkaran pernikahan ini.


Tidak hanya Choco yang berjuang untuknya, tetapi dia pun harus memperjuangkan pria itu.


"Dan sekarang, aku malah menyiksamu dengan pergi seperti ini. Awalnya aku merasa benar dengan tindakanku, tapi semuanya tidak menyelesaikan apapun. Aku hanya merasa senang karena kamu mencariku, tetapi selebihnya aku tidak mendapatkan ketenangan yang aku cari," lanjutnya dengan uraian air mata yang terus mengalir deras.


Namun, keduanya justru merasa lebih lega. Karena telah mengungkapkan isi hati masing-masing.


"Kalau begitu, maukah kamu berjuang bersamaku lagi? Aku akan berusaha mencintai kamu dengan sebenar-benarnya cinta," tanya Choco, masih setia menatap wajah istri kecilnya.

__ADS_1


Mendengar itu, tentu membuat Prilly semakin merasa bahagia. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di perutnya. Dia tersenyum dalam tangis, "kamu bercanda, Kak?"


"Kamu tahu aku tidak main-main dengan perasaan, Pril."


Senyum Prilly semakin mengembang. Lalu mengusap pipinya dengan punggung tangan. "Tapi aku tidak mau pulang." Katanya yang membuat Choco terperangah.


"Kenapa?"


"Aku mau di sini, menghabiskan waktu bersamamu," jawab Prilly malu-malu.


Lengkungan di bibir Choco langsung terbit, entah sudah berapa lama dia tidak tersenyum secerah ini. "Apa yang akan kita lakukan?" Tanyanya ambigu.


Sementara pipi Prilly sudah tampak merona. Dan entahlah, siapa yang memulainya, karena detik selanjutnya kedua benda kenyal itu sudah bersatu padu, menghasilkan decak nyaring yang mengisi udara.


***


Berusaha mencintai seseorang itu bukan hanya saat kita belum mencintainya. Tapi selalu, setiap hari. Karena cinta bisa hilang kapan saja ✨

__ADS_1


Minta like, kumennnyaaa🤸🤸🤸


__ADS_2