
Malam itu mereka berdansa dengan mesra. Senyum dari bibir masing-masing menandakan bahwa mereka sangat bahagia. Akhirnya, setelah penantian dan pahit manisnya perjuangan, Prilly mampu melumpuhkan kerasnya hati Choco.
Kini, pria itu telah menjadi milik Prilly sepenuhnya. Seorang pria yang ia sebut sebagai cinta pertama.
Dan dia akan menjaga apapun yang menjadi miliknya. Tak peduli harus berhadapan dengan siapa, ia akan mempertahankan Choco, agar selalu berada di sisinya.
"Aku sangat bahagia, Pril," ungkap Choco sambil menatap dua bola mata indah milik istrinya.
"Harusnya aku yang bicara seperti itu," balas Prilly. Dia melingkarkan tangan di sepanjang leher Choco, sambil bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa? Karena ternyata kamu bisa memiliki pria yang ada di buku diary-mu?" tebak Choco dengan tersenyum jahil. Sementara Prilly langsung membulatkan matanya.
Dari mana pria ini tahu kalau dia menulis buku diary? Jangan-jangan dia ceroboh menaruh buku itu sembarangan, dan Choco masuk ke dalam kamarnya saat ia tidak ada.
"Kamu—"
"Iya, aku membacanya. Setiap malam saat kamu tidak ada, aku membaca buku itu sebelum tidur. Dan juga memeluk syal yang kamu buat, tapi nyatanya semua itu tidak membuatku nyenyak. Karena hanya kamu yang aku butuhkan," jelas Choco apa adanya. Dia menatap manik mata istrinya yang bergerak menggoda.
Ya, kini semua gerakan Prilly terasa begitu menarik di matanya.
"Jadi, kamu tahu kalau aku—"
"Menyukaiku dari pandangan pertama, saat kamu menjadi mahasiswa baru," sela pria itu, membuat Prilly mati kutu. Sumpah demi apapun, sekarang dia merasa sangat malu. Bisa-bisanya dia mencintai pria dewasa, yang memiliki umur 12 tahun di atasnya.
__ADS_1
"Jujur saja, toh pria ini sudah menjadi suamimu," sambung Choco sambil mendekatkan wajah mereka. Dia tersenyum senang, saat melihat wajah Prilly yang tersipu. Terlihat semakin menggemaskan.
"Iya-iya, aku mengaku. Aku tidak tahu kenapa seleraku pria dewasa sepertimu."
"Karena aku tampan," kekeh Choco semakin mengeratkan tangan besarnya pada pinggang ramping Prilly. Dia bergerak memberi kode pada istrinya, membuat Prilly tersentak.
"Sayang, tanganmu nakal!"
Prilly berusaha menghalau jari jemari itu untuk tidak masuk ke dalam dress-nya. Namun, saat ia melihat wajah Choco, tatapan pria tampan itu sudah berubah. Tertutup kabut hasrat yang membuatnya ikut hanyut.
"Aku menginginkanmu, Pril."
Kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Choco. Pria itu mengendus-endus leher jenjang istrinya, memberikan jejak basah penuh kenikmatan yang membuat Prilly menggelinjaang.
Pertemuan di antara dua kulit itu menciptakan geleyar aneh yang menyengat hingga ke puncak ubun-ubun. Darah mereka mendidih, semakin panas ketika Choco meraup benda ranum itu.
Nafas Prilly terdengar tak beraturan, saat jemari besar itu menggelitik miliknya.
"Kak, ught!" lenguhnya tak dapat melanjutkan kalimat yang sudah ada di ujung mulut. Sementara Choco terus memancing hingga Prilly benar-benar siap untuk dia masuki.
Suasana sekitar semakin mendukung, angin segar itu berhembus membuat mereka bergerak mencari kehangatan. Choco membalik tubuh Prilly hingga menghadap pagar pembatas, lalu membuat penyatuan dengan menghentak tubuh sang istri dari belakang.
Tanpa melepas pakaian, mereka bercinta di atas balkon. Ditemani deburan ombak yang berkejaran di pantai, mereka terus melenguh dan mengerang secara bersamaan.
__ADS_1
"Katakan kamu mencintaiku, Sayang," bisik Choco di antara nafasnya yang terengah-engah. Sementara bagian bawah tubuhnya terus bergoyang dengan gerakan maju-mundur yang terasa begitu teratur.
"Aku mencintaimu, Sayang," ungkap Prilly, langsung mengucapkan kalimat yang diinginkan suami tercintanya.
"Ah, Pril!" jerit Choco, merasa tak tahan dia pun bergerak brutal. Sementara Prilly menahan tubuhnya dengan memegang pagar pembatas.
Matanya terpejam kuat, merasakan setiap hentakan nikmat itu. Sebelum gelombang pelepasan itu mereka dapatkan, Choco menarik pinggang Prilly, hingga mereka terduduk di atas sofa yang ada di sana.
"Sayang, bergeraklah seperti kemarin," ucap Choco, dia masih berada di belakang tubuh Prilly, karena dia sama sekali tak melepas penyatuan.
"Bagaimana caranya, Kak? Kemarin posisinya tidak seperti ini lho?" tanya Prilly kebingungan, karena sebelumnya mereka saling berhadapan.
"Sama saja, Sayang. Hanya saja kamu tidak bisa melihat wajahku."
"Tapi—"
"Bergeraklah!" pinta Choco, dan Prilly tidak bisa lagi membantah. Dia bergerak sesuai nalurinya. Sementara di belakang sana Choco mulai menganga, dia memegang kedua dada Prilly, dan meremassnya dengan manja.
Mereka terus seperti itu, hingga gelombang pelepasan serentak mereka dapatkan. Choco menekan pinggul Prilly, sementara gadis itu menengadah merasakan sengatan yang merasuk ke dalam jiwanya.
"Aku mencintaimu, Pril."
"Aku juga mencintaimu, Sayang."
__ADS_1
***
Komen sudah mulai sepi🤸🤸🤸 apakah ngothor harus mengajari Bang Choco gaya kayang?