
Tengah malam Bizard mengantarkan Choco ke mansion. Ayah dari tiga anak itu memapah tubuh saudara kembarnya untuk masuk ke dalam. Namun, baru saja dia melewati pintu utama, dia mendapati Prilly, Aneeq dan Jennie.
Ternyata mereka belum tidur, sebab sedari tadi Prilly menunggu kepulangan suaminya, hingga kedua kakak iparnya turun. Dia tahu bahwa Choco baru saja memergoki Melinda, karena Aneeq telah menceritakan semuanya.
Melihat Choco yang terlihat hampir tidak sadarkan diri, Aneeq pun langsung membantu Bizard untuk membawa pria itu masuk ke dalam kamarnya.
Dengan perlahan, kedua pria itu meletakkan tubuh lemas Choco di atas ranjang. Choco terkapar tak berdaya dalam pengaruh minuman keras, tetapi sesekali mulutnya masih bergumam.
"An," panggil Bizard, tetapi sorot matanya justru berkata lain. Dan Aneeq paham itu, pasti Bizard penasaran dengan apa yang terjadi pada saudara kembar mereka.
"Ikut denganku!" ucap Aneeq sambil menepuk bahu Bizard. Hingga pria itu pun akhirnya mengekor pada sang kakak.
Sementara Jennie yang masih berdiri di sana, pamit pada Prilly. Karena dia tahu Prilly dan Choco pun butuh istirahat. "Pril, aku keluar dulu yah. Kamu cepat-cepat tidur, ini sudah terlalu malam."
Gadis manis itu menganggukkan kepala. "Iya, Kak. Terima kasih sudah menemaniku."
Jennie tersenyum tipis, lalu setelahnya dia benar-benar keluar dari kamar Prilly dan Choco. Kini hanya tinggal mereka berdua, Prilly langsung membuka sepatu Choco dan meletakkannya di tempat semula. Agar Choco bisa tidur dengan nyaman.
Kemudian setelah itu ia duduk di tepi ranjang, menatap pria yang dicintainya dengan sendu. Sebagai seorang wanita yang memiliki hati lembut, tentu Prilly pun merasa prihatin melihat kondisi suaminya.
Namun, dia pun berharap ada sedikit saja rasa bersalah Choco terhadap dirinya. Tangan Prilly terangkat untuk membuka kancing kemeja teratas Choco, tetapi tiba-tiba tangannya dicekal.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan ini semua, Mel?" tanyanya dengan mata yang sedikit terbuka. Mendengar itu, Prilly langsung menghentikan gerakannya, lalu berusaha terlepas.
Namun, cekalan tangan Choco terasa lebih kuat. "Puas kamu membohongiku habis-habisan? Puas kamu membuatku sakit hati? Puas kamu membuat aku membenci Prilly?"
Prilly terdiam dengan dada yang tiba-tiba sesak. Sebegitu dalamnya kah cinta Choco terhadap Melinda? Sehingga pria itu memberikan semua ketulusannya?
"Sekarang aku tahu semuanya, kamu mendekatiku karena harta. Sementara aku menatapmu tanpa ada celah. Apakah marahku salah? Apakah bentuk kekecewaanku tidak berdasar? Kamu memang tidak pantas aku tangisi, tapi apakah aku tidak boleh mengeluarkan air mata atas rasa sakitku? Jawab aku, Mel!" rancau Choco yang membuat Prilly tak kuasa menahan tangis.
Air mata gadis itu luruh dengan lancang. Dia kembali mencoba untuk melepaskan tangannya, tetapi dengan cepat Choco menarik Prilly hingga gadis itu jatuh di atas dada suaminya.
Tatapan mereka bertemu, nyaris tak jarak hingga nafas Choco yang berbau alkohol menampar wajah Prilly.
"Aku bukan Melinda!" tegas Prilly dengan bibir yang bergetar. Membuat Choco menarik sudut bibirnya ke atas, kewarasan pria itu hampir terenggut sepenuhnya, tak peduli kata-kata Prilly dia malah menangkup satu sisi wajah gadis itu dan menyatukan bibir mereka.
Gadis itu tak kehabisan akal, dengan cepat dia menggigit bibir Choco hingga berdarah. Pria itu langsung melepaskan tautan mereka, tetapi Prilly malah mendapat seringai kecil.
"Aku bilang aku bukan Melinda!" teriak Prilly sekuat tenaga. Takut jika Choco menganggapnya wanita murahan itu, dan ia juga tidak mau dikira memanfaatkan kesempatan di saat Choco sedang mabuk.
"Lalu kamu siapa? Apakah kamu gadis kecilku? Hah, apakah kamu dia? Gadis yang sudah aku sia-siakan?" tanya Choco, tak peduli pada bibirnya yang berdarah. Dia justru menatap dengan bola mata penuh rasa bersalah.
Prilly bergeming, hingga Choco membalik keadaan dengan dirinya yang berada di atas tubuh Prilly. "Sekarang kamu pasti sangat membenciku? Iya 'kan? Tapi aku tidak akan membiarkan kamu pergi, aku ingin egois. Aku ingin ada orang yang mencintaiku dengan tulus!"
__ADS_1
Lantas setelah itu Choco kembali melumaaat bibir tipis Prilly. Gerakannya lembut tetapi terasa menuntut. Sementara Prilly sudah menangis di bawah kungkungan suaminya.
Dia ingin melawan, tetapi Choco justru mengunci semua pergerakannya seolah tahu apa yang akan ia lakukan.
Dan malam itu terjadilah penyatuan yang kedua kalinya antara Prilly dan Choco. Tidak ada yang terasa nikmat, sebab setiap hentakan tubuh Choco, Prilly hanya bisa menangis.
Dia merasa seperti pelarian di saat Choco disakiti oleh Melinda. Namun, air matanya tidak berarti apa-apa untuk pria yang masih bergerak di atas tubuhnya, sebab kesadaran Choco belum pulih juga.
"Ught!" lenguh Choco di saat pelepasan itu tiba. Tubuhnya ambruk dia atas tubuh Prilly. Percintaan itu selesai, tetapi air mata Prilly tak berhenti untuk mengalir.
Hingga pagi datang menyapa.
Choco terbangun dengan sakit kepala yang luar biasa. Dia menyipitkan mata saat cahaya matahari memantul ke indera penglihatannya.
Saat melirik jam di atas nakas, waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Itu artinya dia sudah terlambat untuk datang ke kampus. Dia mencoba bangkit, tetapi tiba-tiba dia terperangah dengan tubuhnya yang telanjang bulat, sementara tidak ada siapapun di sampingnya.
Choco termenung, mencoba mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Hingga dia teringat bahwa semalam dia mabuk, dia melirik ke lantai di mana pakaiannya dan juga pakaian Prilly berserakan.
Choco terhenyak.
"Pril? Aku—aku tidak mungkin membuat kesalahan 'kan?" gumamnya mendadak kalut.
__ADS_1
***
Sudah tigaaaa oeyyy 💃💃