
Sore harinya, Melinda datang ke tempat penyekapan Pram. Sebab dua anak buahnya benar-benar tidak bisa dihubungi sejak tadi siang.
Dan hal tersebut membuat Melinda merasa sangat kesal. Dia berpikir bahwa mereka tidak becus dalam mengurus Pram, pria yang sudah membangkang pada dirinya.
"Awas saja kalau kalian sampai lalai, aku akan benar-benar menendang bokoong kalian!" gerutu Melinda sambil mengendarai mobil mewahnya.
Dia tidak membawa siapapun, tak terkecuali Bryan—asisten pribadinya. Bagi dia sudah cukup antara dia dan anak buahnya saja yang tahu mengenai Pram. Yang lain tidak perlu.
Hingga tak berapa lama kemudian, mobil mewah milik Melinda sampai di gedung tua yang dituju. Dia menepikannya di dalam, agar tidak ada orang yang mengetahui bahwa dia sedang berada di sana.
Dengan mata yang melirik ke sana ke mari, Melinda pun akhirnya turun. Dia memakai kacamata hitam, lalu melangkah masuk ke arah ruangan yang sudah dia hafal.
Suasana gedung itu terasa sangat sunyi, apalagi hari mulai menunjukkan sisi gelapnya. Melinda mencoba mengusir rasa takut, sebab hampir tidak ada pencahayaan sedikitpun.
"Di mana mereka menyimpan kendaraan? Sedari tadi aku tidak melihatnya sedikitpun. Bahkan di sini seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan!" gumam Melinda sambil menyoroti jalan dengan flash kamera.
Kakinya terus bergerak, hingga dia sampai di ruangan tempat Pram disiksa dan ditahan. Namun, alangkah terkejutnya saat ia tahu bahwa tidak ada siapa-siapa di sana.
Melinda melihat ke tiap sudut ruangan dengan bola matanya yang melebar. "Hei, kalian di mana?!" Teriak wanita itu dengan nafas yang memburu.
Bahkan dengan jelas dia melihat kursi kosong dan ikatan yang terlepas. Tanda bahwa Pram telah terbebas.
Melinda menelan ludahnya dengan kasar, tak percaya jika anak buahnya mampu dikalahkan oleh pria itu sendirian. "Jangan bercanda denganku! Keluar kalian."
Hati wanita itu mulai diliputi kecemasan yang berlebihan. Hingga seluruh tubuhnya pun gemetar. Dengan tergesa dia mencoba untuk menghubungi kembali anak buahnya.
Drt ... Drt ... Drt ...
Suara dering itu memenuhi telinga Melinda. Akan tetapi persis seperti tadi siang, panggilan itu sama sekali tak terjawab.
"Sialan, di mana kalian sebenarnya. Kalian tidak mungkin kalah oleh pecundang itu 'kan?"
Perlahan Melinda mundur, tetapi tiba-tiba tubuhnya menabrak beberapa barang yang sudah tidak terpakai hingga berjatuhan.
__ADS_1
"Argh!" Wanita itu berteriak karena terlalu terkejut. Sementara jantungnya dibuat berdebar dengan sangat kencang, takut jika ada seseorang dibalik ini semua.
"Apa jangan-jangan ada seseorang yang sedang mempermainkanku?"
Tak berhenti sampai di sana, kesialan Melinda justru kian bertambah, dengan munculnya tikus dari berbagai arah. Melinda melebarkan kelopak matanya saat ada sesuatu yang melintas di atas kakinya.
Dengan perasaan kalut wanita itu pun kembali berteriak kencang. "Argh, tikus!"
Melinda berlari terbirit-birit, karena terlalu takut dengan hewan menjijikkan itu. Padahal dia sendiri adalah tikus di keluarga Prilly, yang datang hanya untuk mengeruk semua harta peninggalan keluarga gadis cantik itu.
Di tempat lain, anak buah Aneeq tertawa terbahak-bahak melihat Melinda yang ketakutan. Sebab mereka lah yang merencanakan ini semua.
"Tikus takut sama tikus!"
***
Beralih pada Prilly dan Choco yang kini sudah ada di dalam kamar. Gadis itu merasa sangat kesal, karena Choco terus mengekor padanya, tak terkecuali saat ia masuk ke dalam kamar mandi. Seperti saat ini.
"Untuk apa kamu mengikuti terus? Apa kamu tidak memiliki pekerjaan selain menguntit?" tanya Prilly, sebelum Choco memutuskan hubungan dengan Melinda, tentu dia tidak mau luluh begitu saja.
Prilly memutar bola matanya jengah. "Aku tahu kamar mandi ini milikmu, tapi bisa kan gantian?"
"Tidak mau! Selagi bisa berdua kenapa mesti sendiri-sendiri?"
"Ish, dasar menyebalkan! Mandi duluan sana. Aku tidak mau mandi berdua denganmu!"
Prilly mendengus kasar sambil menghentakkan kakinya di lantai. Dengan bibir yang mengerucut dia keluar dari kamar mandi, tetapi lagi-lagi Choco punya seribu satu cara untuk menahannya, sebab pintunya sudah terkunci.
Prilly menahan nafas dengan kekesalan yang menggunung. Dia memutar tubuh, lalu menatap punggung kekar suaminya dengan tajam.
"Cepat buka pintunya!" cetus gadis cantik itu.
"Buka? Memangnya dikunci?"
__ADS_1
"Jangan pura-pura bodoh ya, Kak! Cepat buka, aku mau keluar."
"Apa? Aku tidak memegang kuncinya," jawab Choco dengan santai, lalu dia membuka pakaian yang sedari tadi melekat di tubuhnya.
Prilly menganga lebar melihat kelakuan suaminya. Bahkan dengan tidak tahu malu pria itu bertelanjang bulat di depan matanya. "Kakak!" Teriak Prilly sekuat tenaga.
Choco tersenyum tipis, dia membalik tubuhnya hingga Prilly bisa melihat dengan jelas benda gondal-gandul yang sedang melambai ke arahnya.
Sial, benda besar itu lagi! Rutuk Prilly dengan semburat merah.
"Itu artinya, Tuhan menakdirkan kita untuk mandi bersama," ucap Choco dengan wajah sumringah.
"Cih, aku tidak mau!" sentak Prilly.
Namun, Choco tidak peduli akan hal itu. Dia terus melangkah hingga membuat Prilly semakin terpojokan.
"Jangan mendekat!"
Dengan gerakan cepat Choco merentangkan kedua tangan untuk menangkap istri kecilnya, tetapi ia kalah gesit dengan Prilly yang sengaja menghindar dan menubruk Choco hingga membuat pria tampan itu terpeleset, karena tidak bisa mengimbangi bobot tubuhnya.
Brugh!
Prilly langsung menganga dengan satu tangan yang menutup mulut. Sementara Choco merasakan hidungnya yang mencium lantai.
"Kak, kamu tidak apa-apa?" tanya Prilly hati-hati.
Choco mengangkat wajahnya, dan Prilly semakin melebarkan matanya dengan sempurna. Karena hidung suaminya berdarah.
"Kak, kamu—"
"Yah, aku tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa."
***
__ADS_1
Makasih ya yang udah doain, doa baik pasti akan berbalik pada diri kalian masing-masing ❤️❤️❤️
Cover udah diganti yaaa, jangan bingung😂😂