
Dan di sinilah Choco sekarang. Menuntaskan semua hasrat yang selama ini dia pendam, pada tubuh mungil yang tengah dia hentak dengan penuh tekanan.
Kali ini Prilly benar-benar mendapatkan kepuasan dari suaminya. Karena pada permainan kedua mereka Prilly lebih dulu mendapatkan pelepasan.
"Ught, Kak," lenguhan panjang itu keluar dari mulut Prilly.
Tubuh gadis cantik itu bergetar hebat, dia ambruk di atas ranjang dengan posisi tengkurap, sementara di belakang sana Choco masih dengan posisi tegak.
"Bagaimana, Sayang? Kamu sudah mendapatkannya?" tanya Choco, karena ia tahu sang istri baru saja mendapatkan gelombang pelepasan.
Prilly masih mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dia seperti jelly yang tidak memiliki tulang, karena sisa pelepasan itu membuatnya lemas dan tidak bertenaga.
"Iya, Kak," jawabnya lemah.
"Kenapa masih memanggilku seperti itu? Coba panggil aku yang lebih romantis, aku 'kan suamimu," kata Choco, karena telinganya terasa risih dengan panggilan Prilly. Tidak adakah panggilan yang lebih sensual saat mereka bercinta? Sayang misalnya.
Prilly melirik ke belakang, jantungnya tiba-tiba berdebar. Karena masih tidak menyangka jika ia bisa bersatu lagi dengan pria yang sangat dicintainya. "Aku hanya belum terbiasa."
"Makanya ayo coba," timpal Choco seraya menarik ular kesayangannya, membawa cairan hangat itu keluar lengkap dengan erangan Prilly yang terdengar sangat manja.
Choco menunduk lalu kembali membalik tubuh istrinya, hingga mereka saling bertatapan. Namun, kini yang Prilly lihat hanyalah senyum menggoda dari suaminya, serta kedipan nakal yang membuat dadanya berdebar tak karuan.
"Ayo coba panggil aku sayang," pinta Choco dengan sedikit memaksa. Sementara pipi Prilly sudah tampak memerah, andaikan bisa dia ingin sekali menyembunyikan wajahnya. Akan tetapi di mana?
Mulut kecil itu ragu untuk bicara, membuat Choco merasa gemas. Hingga akhirnya satu kecupan dia berikan. "Sekarang katakan! Kan sudah aku cium."
__ADS_1
"Buk-bukan begitu, Kakak! Aku hanya gugup," jawab Prilly dengan terbata. Dia sedang bermimpi tidak sih? Kenapa Choco berubah drastis seperti ini?
Pria tampan itu terkekeh kecil. "Kamu mau lagi?" Godanya yang membuat Prilly semakin tidak memiliki muka. Padahal Choco yang tengah menginginkannya, karena dia belum sempat pelepasan untuk yang kedua kalinya.
"Tidak! Dua sudah cukup," kata Prilly, karena dia mulai merasa lemas. Namun, dari manik mata suaminya, dia tahu dia tidak akan dilepaskan begitu saja.
"Tapi aku mau. Aku mau lagi," rengek Choco sambil mendekatkan wajah mereka. Kedua pucuk hidung itu saling beradu, membuat Prilly menahan nafas. "Aku menginginkanmu, Sayang."
Prilly kembali merasakan sentuhan hangat dari tangan besar suaminya. Detik selanjutnya dia merasa terbang ke udara, karena tiba-tiba Choco menggendong tubuhnya.
"Kak—"
"Aku tidak menerima panggilan itu, Pril." Choco mengayunkan kakinya, entah ingin membawa Prilly ke mana.
"Maksudku, Sa—sayang," ulang Prilly yang membuat Choco langsung tersenyum lebar. Dia terus melangkah hingga tiba-tiba mereka sampai di tepi kolam renang. Choco mengetahui tempat ini karena letaknya tak jauh dari kamar.
Prilly tampak kebingungan, apakah mereka akan berenang? Jujur saja, dia tidak begitu ahli dalam olahraga air satu ini. "Sayang, apakah kita akan berenang?"
"Of course. Bahkan lebih dari sekedar berenang," jawab Choco. Karena merasa hanya ada mereka berdua, Choco berani membawa Prilly keluar dalam keadaan telanjang.
"Tapi aku tidak bisa berenang."
"Aku tidak menyuruhmu berenang, Sayang. Aku hanya butuh kamu mendesaah." Choco menatap Prilly dengan tatapan sensualnya. Sementara Prilly tampak terperangah, jadi mereka akan melakukannya lagi? Astaga, di mana?
Tanpa ba bi bu Choco membawa tubuh Prilly masuk ke dalam air. Membuat gadis itu gelagapan dan reflek memeluk Choco dengan erat, karena dia benar-benar takut akan tenggelam.
__ADS_1
Choco merasakan tubuhnya yang segar bugar karena terkena air. Namun, yang membuatnya lebih senang adalah pelukan Prilly yang nyaris tak dapat dilepaskan. "Hei, kenapa memelukku seerat ini?" Tanya Choco saat ia sudah berdiri, dan ternyata air hanya setinggi dadanya.
"Aku takut, Kak. Aku tidak pandai berenang," jawab Prilly jujur, bahkan dia terus memejamkan mata, sementara tubuhnya sangat rekat dengan raga perkasa suaminya.
"Kan aku sudah bilang, aku tidak akan menyuruhmu berenang," jawab Choco sambil berjalan ke arah tangga yang ada di dekat kolam. "Naik ke sini!"
"Ke mana?"
"Ke tangga, Sayang."
"Terus aku lihatin kamu berenang gitu?"
"Nanti kamu akan tahu."
Patuh, Prilly pun melakukan apapun yang Choco perintahkan, termasuk saat pria itu memintanya untuk sedikit membuka kaki. Prilly menganga saat Choco kembali memasuki dirinya, tak menyangka jika percintaan mereka akan segila ini.
"Sayang," panggil Prilly sambil melirik wajah tampan suaminya. Hingga dia bisa melihat kabut hasrat yang berkelebat di mata pria itu. Apalagi saat Choco mulai menghujam tubuhnya di dalam air, akhirnya Prilly hanya bisa pasrah.
"Ini cukup menarik, Sayang," ungkap Choco sambil terus bergerak. Sementara Prilly hanya bisa mendesaah seraya memeluk tubuh kekar suaminya.
Antara keringat dan air kolam menjadi satu, karena cuaca pagi ini cukup terik, dan semakin membuat permainan bertambah panas.
***
Updatenya agak selow ya ges ya. Dari kemarin soalnya ada acara 🤸🤸 jangan lupa like, komen, kembang kopinya. Kalo udah luang ku tambah up nya😌
__ADS_1