
Beberapa waktu telah berlalu, kondisi Prilly juga sudah berangsur membaik. Akan tetapi dia masih belum bisa melihat kedua anaknya, setiap ingin memberi ASI eksklusif, dia hanya dipinta untuk memompa p*yudaranya saja.
Hingga saat hari terakhir Prilly di rumah sakit, Choco berniat untuk jujur mengenai anak mereka yang sudah tiada. Karena ia merasa itu semua akan jauh lebih baik, dari pada harus disembunyikan terus-menerus.
"Ada apa dengan wajahmu, Kak?" tanya Prilly, melihat Choco yang tampak gelisah. Padahal sebentar lagi mereka akan pulang ke rumah.
Mendengar sang istri bertanya, tentu Choco langsung mengangkat kepala. Ada rasa tidak tega yang menyelimuti hati pria tampan itu, namun akan lebih jahat jika dia tidak memberitahukan hal tersebut pada istrinya.
"Aku ingin bicara sebentar denganmu, Sayang," Jawab Choco.
Kening Prilly mengernyit, lalu menatap beberapa orang yang ada di dalam ruangannya. Termasuk sang sahabat, Ezza. Ya, pemuda itu menyempatkan datang untuk menjenguk Prilly yang baru saja melahirkan putra kembarnya.
"Kalau begitu kami keluar dulu," ucap De, memberi kode pada semua orang untuk meninggalkan sepasang suami istri ini. Karena keduanya sedang butuh privasi.
Choco mengajak Prilly untuk duduk di sofa yang tersedia. Dan Prilly langsung patuh meskipun otaknya dipenuhi tanda tanya. Pria tampan itu menatap Prilly dengan begitu dalam, lalu menggenggam tangannya. "Maafkan aku ya, Sayang."
Prilly semakin tak paham.
"Maaf untuk apa, Kak? Kamu berbuat salah?" tanyanya.
Ludah Choco terasa tercekat, sementara matanya sudah memerah dan mengembun. "Aku bersalah, karena aku tidak bisa menahannya untuk tetap bersama dengan kita."
"Bicara yang jelas kak!" Ujar Prilly dengan sedikit menyentak.
__ADS_1
Choco menunduk tak kuasa. "Sebenarnya putra kedua kita sudah tidak ada, Pril. Dia meninggal karena kelainan jantung pada saat dia lahir. Aku tidak memberitahukan itu semua padamu, karena aku takut kondisimu menjadi drop sementara putra kita yang lain membutuhkanmu."
Prilly terpaku dengan bola mata yang berkaca-kaca. Dia tidak salah dengar?
"Kamu bicara omong kosong kak?" Lirih Prilly dengan hantaman keras di dadanya. Bibirnya langsung bergetar hebat, tak berdaya untuk mendengar berita duka ini.
Choco menyadari itu, sehingga dia langsung memeluk tubuh Prilly dengan erat. Dia merasa ikut sakit, tiap melihat wanita yang dicintainya menangis. "Maafkan aku, Pril. Aku tidak bisa melawan garis takdir. Dia pergi begitu cepat."
"Kamu pasti bohong kak! Kamu bohong!" Prilly memukul dada Choco dengan keras, melampiaskan ketidakpercayaannya.
Namun, Choco hanya diam dan menerima.
"Anak aku pasti masih ada di sini. Dia tidak mungkin pergi."
"Dia sudah di surga, Sayang."
"Kenapa kamu tidak izinkan aku untuk bertemu dengannya, Kak?"
"Aku takut kamu tidak akan sanggup, Pril. Aku takut."
"Tapi aku akan sangat sedih, karena tidak bisa mengantar dia."
Prilly tergugu dengan air mata yang semakin menderas. Sementara pelukan di tubunya terasa sangat erat.
__ADS_1
"Kalau begitu sebelum pulang, ayo kita pergi ke sana untuk menjenguk dia. Aku sudah berjanji untuk membawamu datang."
Dengan perasaan yang berkecamuk di dada, Prilly pun menyetujui usul suaminya. Dia datang ke pemakaman di mana Forest dikuburkan. Dan rasanya benar-benar menyakitkan, padahal dia baru saja menginjakkan kaki di tanah kuburan.
Choco senantiasa menopang tubuh istri kecilnya yang hampir limbung, mereka berjalan pelan dengan diiringi isak tangis yang tiada habis.
"Dia benar-benar ada di sini?" tanya Prilly, merasa tidak mungkin kalau anak yang dia lahirkan harus cepat-cepat pergi meninggalkan dunia.
"Iya, Sayang. Waktu itu aku, Daddy dan De yang mengantarnya."
Prilly menggigit bibirnya kuat-kuat, dadanya senantiasa bergemuruh. Dan dia langsung ambruk, ketika nama Forest tertera di atas batu nisannya. "Sayang ... ini Mommy, Sayang."
Semua orang yang mengantar ikut menangis. Sementara Choco terus mendekap bahu istrinya, dengan kesedihan yang semakin nyata.
"Forest, kenapa pergi? Apa Forest tidak mau melihat Mommy dan bermain bersama? Hem? Mommy sudah menyiapkan semuanya untukmu sayang. Tapi kenapa Forest tinggalin Mommy?"
Rasanya Prilly ingin berteriak kencang, menyuarakan kesedihannya. Namun, dia masih cukup waras karena hal tersebut hanya akan mempengaruhi kondisi tubuhnya. Sedangkan Baby Leo sangat membutuhkan dirinya.
"Sabar, Sayang," kata Choco sambil mengelus-elus punggung Prilly.
"Hatiku sakit, Kak. Hatiku sangat sakit, Forest itu anakku, aku yang melahirkan nya," ujar Prilly tergugu di depan gundukan tanah kecil itu. Dan nyatanya kesedihan seperti apapun, tidak akan membangkitkan tubuh sang anak, sementara kehidupan terus berjalan.
Dia harus mencoba untuk ikhlas, meksipun kata tak sanggup akan kerap menghantuinya. Dia yakin, sang anak sudah bahagia dia surga.
__ADS_1
"Mommy tetap mencintaimu, Nak. Berbahagialah di sana, Mommy akan belajar mengikhlaskanmu."
Setelah mengatakan itu, Prilly langsung memeluk tubuh suaminya erat. Mereka sama-sama berduka. Akan tetapi mereka juga percaya, bahwa Tuhan akan menggantikan kesedihan itu dengan kebahagiaan yang berlipat ganda.