
Di pertigaan malam Hidayat terbangun. Sayup-sayup ia mendengar desir surat Al-Qur'an dibacakan dengan khidmat. Matanya yang masih terasa perih ia paksakan juga terbuka.
Betapa takjubnya ia melihat Maira bangun dari sujud, lalu ia menoleh ke jam dinding di kamar itu. Ia tersenyum, ingatannya tertuju pada tulisan kakaknya. Andai hatinya telah jatuh kepada Maira, mungkin saat ini mereka sedang tahajjud berjamaah. Ia menjadi imamnya, dan Maira menjadi makmumnya, seperti yang hampir setiap malam dilakukan kakak dan kakak iparnya semasa hidup mereka.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh..." Ucap Maira sambil menoleh ke kanan dan kirinya.
"Maira pasang alarm?" Tanya Hidayat dengan suara terdengar parau, membuat Maira sedikit tersentak kaget karena tidak menyadari bangunnya.
"Ti-tidak..."
"Semalam udah jam dua belasan kita tidur, memang tidak mengantuk? Kok bisa terbangun tanpa alarm?" Tanya Hidayat lagi dengan rasa dipenuhi kekaguman.
"Allah maha mendengar permintaan hamba-Nya yang ingin berbuat kebaikan, Bang... Semalam Maira sebelum tidur meminta kepada Allah agar dibangunkan untuk menunaikan shalat tahajjud, dan Alhamdulillah Allah kabulkan..." Jawab Maira begitu lembut, sehingga membuat Hidayat tertegun karenanya.
"Tidurnya Abang terganggu, ya?" Tanya Maira terlihat tak enak hati.
"Eh? Ti-tidak begitu, Mai... Mungkin Allah merindukan Abang di pertigaan malam ini. Beberapa hari ini Abang tidak pernah menemui-Nya..." Ucap Hidayat seraya bangkit dari tempat tidur, lalu segera berlalu menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar itu.
Ketika Hidayat melaksanakan shalat, Maira membuka buku kuliahnya. Ia seperti telah biasa menghadapi situasi kehidupannya. Ada atau tidaknya Hidayat di dekatnya, sama sekali tidak memengaruhi perasaannya.
Ia hanya berusaha menahan rasa sakit di balik ketidakberdayaan dirinya, dibanding mengemis cinta seperti yang pernah dilontarkan Hidayat waktu pertama kali mereka berada di rumah ini.
"Apa selalu begini?"
Hidayat berjalan ke sofa, tempat Maira duduk sambil membolak-balik buku dalam genggamannya.
"Apanya, Bang?" Tanya Maira kebingungan.
"Kamu bangun sholat tahajjud, lalu belajar?"
"Apa lagi yang harus Maira perbuat di rumah ini?" Balas Maira sambil menutup buku di tangannya.
"Tidak tidur lagi kah? Memangnya Maira tidak mengantuk sampai di kampus nanti?"
"Insya Allah tidak, Bang... Hari ini mata kuliah Maira cuma sampai pukul sepuluh. Sepulang dari kampus, Maira akan istirahat dulu di rumah sebelum berangkat ke kios... Di rumah akan lebih menyenangkan karena ada ibu..." Tutur Maira.
"Abang kalau mengantuk, tidur saja... Waktu subuh masih ada satu setengah jam lagi..." Sambung Maira, kemudian ia kembali fokus pada bukunya.
__ADS_1
Hidayat menghela nafas, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa itu. Maira hanya melirik sebentar, namun kemudian kembali membaca buku di tangannya.
Beberapa menit fokus ke buku, Maira dibuat tersentak mendengar dengkuran halus di sebelahnya. Ia menoleh kearah Hidayat yang telah tertidur kembali di sofa itu dalam keadaan duduk.
Maira tersenyum. Betapa damai hatinya melihat wajah suami yang dicintainya itu begitu polos tertidur di sampingnya. Walau ia bisa bersikap dingin di hadapan Hidayat, namun bukan berarti perasaannya terhadap suaminya itu dapat berubah.
Maira mengambil selimut yang tadinya ia pakai, dan kemudian ia selimuti Hidayat dengan lembut.
***
Sebelum dunia terang, Maira sudah berada di dapur. Ia menyiapkan sarapan untuknya dan kedua ibunya yang masih belum juga keluar dari kamar. Tiga gelas kecil teh beserta satu mangkok nasi goreng telah tertata rapi di meja makan.
Maira menuangkan nasi goreng itu ke tiga piring yang telah berada di setiap sisi meja.
"Maa syaa Allah, wangi sekali ini... Maira masak apa pagi-pagi?" Bu Zainab dan ibunya Maira datang menyusul ke meja makan.
"Ibu... Ibu sudah bangun? Ini, Maira cuma bikin teh sama nasi goreng... Yuk, sarapan, Bu..."
Maira menggeser dua kursi untuk diduduki oleh ibu dan ibu mertuanya, lalu ia duduk berhadapan dengan mereka.
"Eh? I-ini untuk M..."
"Kami kalau makan atau minum apa-apa selalu satu berdua, Bu..." Hidayat tiba-tiba datang memotong ucapan Maira. Ia segera duduk di samping Maira dan meminum teh yang seharusnya untuk Maira sendiri.
Maira tercengang. Ia menelan ludahnya dengan kasar. Melihat Hidayat begitu, jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Ia sangat gugup.
"Ayo, Mai... Bukannya kamu ada kelas pagi ini?" Kata Hidayat seraya menyodorkan teh bekas minumnya kepada Maira.
Maira bergeming. Ia masih terlihat tak percaya dengan diri Hidayat yang sanggup berakting seperti itu di hadapan ibu mereka.
"Mai, kok masih bengong?" Panggil Hidayat sambil mengguncang pelan tangan Maira yang bertengger di meja itu.
"Eh? I-iya, Bang..." Maira tersentak, lalu pandangannya beralih ke tangannya yang masih disentuh oleh suaminya itu.
Maira perlahan menarik tangannya, ia takut perasaannya semakin menggebu-gebu. Ia meminum teh di bagian bekas Hidayat tadi. Wajahnya semakin dibuat tegang oleh suasana yang begitu menyesakkan dadanya. Ditambah lagi nasi goreng untuknya, juga dimakan sepiring berdua dengan Hidayat. Sementara kedua ibunya menatap mereka dengan senyum-senyum.
Usai sarapan, Maira tidak diizinkan untuk beberes. Bu Zainab meminta agar pekerjaan rumah disisihkan untuk mereka saja.
__ADS_1
Awalnya Maira sudah memikirkan untuk pergi ke kampus dengan mengendarai motor matic milik almarhum Abangnya yang semalam datang, namun Hidayat malah cepat-cepat berperan sebagai pengemudi motor itu di hadapan ibu mereka.
"Bu, Hidayat habis nganterin Maira langsung ke kampus, ya..." Pamit Hidayat sambil menyalami ibu dan ibu mertuanya bergantian.
"Assalamualaikum..." Ucap mereka berbarengan, lalu Hidayat melajukan motor keluar dari pekarangan rumah.
Ibunya Maira tersenyum, "apa yang besan khawatirkan tentang anak-anak kita ternyata tidak kenyataan, kan? Meski pernikahan mereka dadakan, tapi Alhamdulillah mereka berdua bahagia menjalaninya..."
"Iya, besan... Alhamdulillah... Saya hanya cemas sebagai ibunya Hidayat, cemas ia tidak bisa membahagiakan Maira..." Ucap Bu Zainab sambil memaksakan senyumnya. Di dalam hati, belia masih ragu terhadap tingkah anak dan menantunya itu. Sangat terlihat jelas bagaimana gugupnya Maira saat berhadapan dengan Hidayat.
Sampai di halte depan, Maira meminta Hidayat menghentikan motornya. Ia sangat kikuk jika terus-terusan berada di dekat Hidayat, apalagi tubuh mereka menempel begitu.
"Tenanglah, hari ini Abang akan antar jemput kamu..." Ucap Hidayat tak menggubris permintaan Maira. Ia terus melajukan motor sampai ke kampus Maira.
Maira turun dari motor, lalu menoleh sebentar ke Hidayat.
"Bareng siapa, May? Kok tumben nggak naik bus?" Seorang Mahasiswa datang menyapa.
"Hah?" Maira terkejut. Ia bertambah gugup ketika pemuda itu bertanya kepadanya.
"Bukankah sebelum masuk kampus kamu harus pamitan dulu sama suamimu?" Ucap Hidayat cepat.
"Suami?" Pemuda itu terkejut mendengar ucapan Hidayat.
"Siapa? Siapa?" Seorang Mahasiswi lainnya ikut nimbrung.
"Eh?" Maira terlihat pucat. Dengan cepat ia menyambar tangan Hidayat, lalu diletakkannya di dahinya.
"Maira masuk dulu, Bang, Assalamualaikum..."
.
.
.
.
__ADS_1