
Di lokasi syuting, Kirana menatap Arya dari kejauhan. Wajahnya tampak gugup dan gusar. Ia dilanda keraguan ketika kakinya mulai melangkah hendak mendekat.
"Sepertinya ada yang ingin kamu katakan..." Ucap Arya mereka-reka.
"Hah?" Kirana menggigil. Ia semakin dibuat gugup oleh sikap cuek Arya, seperti telah terjadi sesuatu di antara mereka sebelumnya. Namun tidak ada yang tahu, meski mereka kerap dijodoh-jodohkan oleh para fans mereka, ternyata mereka aslinya begitu canggung satu sama lainnya.
"Aku, emmm... boleh aku minta sesuatu padamu?"
"Apa itu?"
"Di hari pernikahan Hidayat nanti, emmm..."
"Kenapa?" Arya mulai menatap Kirana, menunggu gadis itu menyampaikan maksud perkataannya.
"Aku bisa ikut kamu untuk menghadirinya?"
"Ikut?" Alis mata Arya terangkat, ia terlihat kebingungan mendengar permintaan Kirana.
"Waktu Zahra meninggal, aku tidak sempat melayat. Dan untuk pernikahan Hidayat nanti, aku ingin sekali dapat menghadirinya." Ungkap Kirana ragu-ragu.
Arya tampak berpikir sejenak, "baiklah... Carilah teman, aku tidak mungkin membawamu sendirian. Kamu bisa menggunakan mobilmu, nanti biar karyawan Hidayat yang menyetir."
Mata Kirana berbinar mendengar penuturan Arya. Ia mulai tersenyum senang, lalu mengangguk cepat. "Terima kasih, Ar..."
"Tapi, tahu darimana kamu bahwa Hidayat akan menikah?" Tanya Arya membuat Kirana gelagapan.
"Ee... Aku, aku tahu dari dia sendiri... Terakhir kali kami saling berbagi kabar..." Jawab Kirana kembali terlihat gugup.
"Owh..." Arya mengangguk.
"Iya... Jangan lupa kabari aku, ya?" Pinta Kirana berharap.
"Oke... Kamu tunggu saja..."
Kirana berbalik cepat. Jantungnya berdegup kencang setelah berbicara serius dengan Arya. Di dalam adegan syuting, mereka tidak Secanggang itu, tapi entah apa yang terjadi di kehidupan nyata mereka.
Waktu terus berjalan tanpa mau menunggu Hidayat siap, dan entah kapan ia akan siap ketika hatinya masih terpaut pada sosok Kirana Adila.
Khumaira Fatimah, adik almarhum kakak iparnya itu benar-benar tidak bisa mengetuk hatinya. Ia bahkan sedikitpun tidak bisa menganggap Maira perempuan lain, perempuan yang bisa ia jadikan sebagai pendamping hidup.
Pernikahan sederhana akan segera dilangsungkan di kediaman pak Darussalam Muhammad, ayahnya Maira. Disana telah dipadati oleh para keluarga kedua belah pihak, juga para kerabat dan tetamu.
__ADS_1
Ijab yang keluar dari mulut lelaki paruh baya di hadapannya menanti ucapan kabul dari mulutnya. Dada Hidayat mulai sesak, tubuhnya tiba-tiba gemetaran. Keringat dingin sudah bercucuran di dahinya.
Ia menghela napas berat dan panjang, lalu...
"Aku terima nikah dan kawinnya Khumaira Fatimah binti Darussalam Muhammad dengan mahar seperangkat alat sholat, tunai..."
Air mata Hidayat mengalir begitu saja. Ada perasaan aneh bersarang di dalam dadanya. Ia mengangkat wajahnya, dan tiba-tiba ia bergeming. Semua mulai terasa berat ketika ia menyadari ada Kirana di depannya, menatapnya dengan berlinangan air mata dan wajah yang menjelaskan kekecewaan dari dalam hatinya.
Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali hanya membalas tatapan Kirana dengan sendu.
"Maafkan aku, Kirana... Maaf... Maaf aku tidak bisa menepati janji yang aku buat dulu..."
Pelukan hangat datang dari ibunya, "Terima kasih, Nak..."
Hidayat semakin terenyuh. Bisikan ibunya seolah menampar keras perasaannya. Tidak semestinya seorang ibu berucap terima kasih ketika permintaannya terpenuhi, namun ia juga tidak bisa berbohong bahwa ia terpaksa melakukannya.
Maira mengulurkan tangannya, dan dengan berat hati Hidayat menyambut uluran tangan istri yang baru saja ia nikahi itu.
Usai acara sakral itu, Arya mendekati Hidayat dan Maira. Ia mengajak kedua mempelai untuk berfoto bersama. Berkali-kali Hidayat memaksakan diri untuk tersenyum dan berbahagia di hari pernikahannya sendiri.
"Semoga sakinah mawadah warahmah, ya, Yat..." Ucap Arya yang sama sekali tidak mengerti perasaan Hidayat.
Hidayat mengangguk, lagi-lagi ia tersenyum kaku. "Abang kapan menyusul?"
"Bang..." Hidayat melotot.
Arya malah tertawa, "beneran loh, Yat... Yang dekat-dekat ya, Maira. Tapi malah keduluan kamu..."
"Abang suka Maira? Kenapa tidak Abang saja yang menikahinya?" Ucap Hidayat terdengar ketus.
Maira yang berada tak jauh dengan mereka segera menoleh kepada Hidayat. Ia terlihat sangat terkejut dan merasa sedih mendengar ucapan lelaki yang baru saja menikahi dirinya.
"Kamu marah, Yat?" Arya pun ikut tegang.
Beberapa saat kemudian Hidayat tertawa. "Bercanda, Bang... Bukankah Maira sudah seperti adik bagi Abang, ya?"
***
"Aku harap kamu memenuhi janji terakhirmu, Yat..." Sebuah pesan singkat terpapar di layar ponselnya.
"Aku janji, Kiran... Sudi lah kamu menungguku..." Balasnya.
__ADS_1
"Yat..." Bu Zainab datang memanggilnya, membuat ia sedikit tersentak dan gelagapan.
"Ibu?" Hidayat bergegas mengantongi ponselnya kembali.
"Kenapa Maira tidak denganmu saja? Biar barang-barang kalian yang pakai travel..." Protes ibunya.
"Jauh, Bu... Kasihan Maira. Lagian, Hidayat bisa lebih cepat sampainya disana..." Bantah Hidayat sambil berkemas.
"Dulu saja kakakmu juga pakai motor, boncengan terus pulang pergi sama suaminya..."
"Ya beda, Bu... Kak Zahra kan memang phobia naik mobil, kalau Maira kan enggak... Lain kali kami bakalan pulang pergi sama-sama kok, Bu..." Bujuk Hidayat berusaha membuat ibunya mengerti.
"Baiklah... Kamu jaga Maira sebaik-baik mungkin. Kamu penuhi kebutuhannya lahir dan batin, dan jangan pernah sakiti dia seujung kuku dan sehelai rambut pun..." Pesan Bu Zainab terdengar memohon.
Hidayat terdiam. Ia bergeming menatap wajah ibunya. Jakunnya mulai turun naik menahan sesak di dalam dadanya.
"Yat?" Bu Zainab menggamit kedua lengan Hidayat.
Hidayat tersenyum, lebih tepatnya ia paksakan untuk tersenyum. "Ibu tenang saja..."
Wajah bu Zainab mulai terlihat sumringah. Apa pun yang ia dengar dari mulut Hidayat, ia percaya.
"Jika saja kakak dan kakak ipar kamu masih ada, mereka pasti sangat bahagia... Percayalah, Nak, ini adalah takdirmu bersama Maira... Maira memanglah jodohmu... Dia gadis yang baik, lembut dan santun... Semoga kalian selalu bahagia..."
Hidayat mendekap ibunya ke dalam dadanya. Ada penolakan dalam hatinya tentang apa yang diucapkan ibunya itu, namun sesakit apa pun hatinya, hanya dekapan ibunya lah yang menjadi penenang nya.
"Hidayat berangkat, ya, Bu... Ibu baik-baik di rumah, jaga kesehatan. Dan kalau ada apa-apa, tolong hubungi Hidayat segera... Jangan ada yang ditutup-tutupi dari putra Ibu ini..." Ucap Hidayat seraya mengecup pipi ibunya.
"Iya... Kamu juga... Selalu ingat Allah dimana pun kamu berada... Perlakukan apa yang ada dalam genggaman mu sebaik-baiknya, agar kamu tahu arti rasa syukur itu... Sesungguhnya penyesalan itu datang ketika ia terlepas, namun ternyata kamu baru mulai menyadari bahwa ia sangatlah berarti..."
Sepeninggal Hidayat, Bu Zainab menangis di dalam kamarnya. Ia terkenang hari pernikahan Hidayat kemarin, jelas-jelas membuat ia menjadi ragu dengan rumah tangga anaknya itu. Tatapan Hidayat penuh cinta terhadap seorang perempuan yang ikut menghadiri acara pernikahannya kemarin tertangkap basah oleh matanya sendiri.
Bu Zainab merasa was-was, dia tahu betul siapa perempuan itu. Mereka memang belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya, namun Bu Zainab tahu Kirana lewat film yang ia tonton di bioskop beberapa waktu lalu.
.
.
.
.
__ADS_1
.