Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
16. Abang Aneh


__ADS_3

Hidayat terduduk lesu di tepi tempat tidur. Walau sebenarnya memang ada Kirana dalam hidupnya, tapi entah mengapa ia tidak berani mengungkapkannya kepada Maira. Apalagi setelah mendengar ucapan Maira yang begitu keras dan terdengar mengancam dirinya.


Hidayat perlahan bangkit, lalu berjalan menuju ke depan pintu kamar mandi. Ia tahu, meski pintu kamar mandi terkunci rapat dan keran di dalamnya hidup, namun bukan berarti dia tidak dapat mendengar suara tangisan Maira.


Hidayat memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar mandi. Ia dipenuhi oleh rasa bersalah seketika. Ia baru menyadari bahwa selama ini air mata Maira lah yang membuat hatinya terasa ngilu, dan juga tungkainya begitu layu.


"Maira, tolong buka sebentar... Kita perlu bicara, Mai..." Panggil Hidayat dengan lembut. Berkali-kali ia mengetuk pintu, namun Maira tak kunjung membukanya.


"Maira... Maira mau ibu kita mendengar Abang teriak-teriak disini, hmmm?" Bujuk Hidayat lagi.


Maira membuka pintu kamar mandi. Wajahnya hingga bagian jilbab dan bajunya basah kuyup untuk menutupi matanya yang sembab karena menangis.


"Maira..."


"Siap-siap, Bang... Bukankah hari ini Abang mau keluar kota?" Ketus Maira seraya berjalan kearah jendela kamar. Ia mengangkat handuk yang dijemur disana, lalu mengusap wajahnya yang basah hingga benar-benar kering.


"Abang tidak jadi pergi..." Ucap Hidayat sambil mengekori Maira.


Maira menoleh, menatap Hidayat dengan kebingungan.


"Abang ingin fokus menyusun tesis beberapa malam ini, Mai. Terus, emm..." Hidayat kehabisan alasan.


"Bukankah Abang ingin menghindari Maira? Lagian, sepulang Abang dari luar kota, ibu juga sudah kembali ke kampung kok... Sekarang kenapa Abang malah membatalkan rencana semula yang telah Abang persiapkan dengan sempurna?" Tanya Maira acuh tak acuh sambil berjalan menuju lemari bajunya.


"Pokoknya Abang berubah pikiran... Abang sudah telpon bos besar juga tadi. Abang sudah pesan barang yang habis... Tiga hari ke depan insya Allah barang kios sampai..." Tutur Hidayat tetap sabar mengekori Maira kemanapun.


"Abang aneh..." Ucap Maira seraya membawa bajunya kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian, sehingga membuat langkah Hidayat terhenti ketika Maira menutup pintunya.


Hidayat masih setia menunggu, sampai beberapa menit kemudian Maira keluar dengan pakaian yang berbeda. Maira yang tidak menyangka bahwa suaminya itu masih stay disana, sangat terkejut dan hampir terpeleset karena ia refleks mundur.


Hidayat segera menangkap pinggang Maira, lalu menarik tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya. Mata mereka saling bersitatap dengan perasaan yang berkecamuk di dalam dada satu sama lainnya. Mereka hanyut terbawa suasana hati mereka yang tiba-tiba tak mampu mereka kendalikan.


Maira mengumpulkan kembali kesadarannya. Ia meremas kerah baju Hidayat dengan kuat, lalu berdiri dengan benar. Setelah itu ia mundur beberapa langkah dari hadapan suaminya itu.


Hidayat terlihat sama, berusaha menetralkan perasaannya sendiri. Ia tidak mengerti mengapa ia bisa gugup seperti ini, atau ia malah tidak pernah menyadarinya bahwa ia memang selalu begitu di hadapan Maira setiap kali mereka bersentuhan langsung.


"Maaf..."


"Abang kenapa masih di depan pintu?" Ketus Maira.


"Abang nungguin Maira keluar..."


"Ya, buat apa?"

__ADS_1


"Emmm..."


"Aneh... Abang benar-benar aneh..." Ucap Maira lagi. "Kalau begitu, sekarang Abang siap-siap kuliah."


"Abang libur tiga hari ini..."


"Terus?" Maira menatap Hidayat terheran-heran. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang ada dalam pikiran suaminya itu.


"Habis Zuhur, Abang kembali ke kios... Selama Abang libur, Maira tidak usah gantikan Abang di kios..."


"Baiklah..." Sahut Maira menurut.


"Oh ya, nanti sore anak-anak akan datang. Mereka ingin bertemu ibu..." Ucapnya lagi.


***


Sorenya Hidayat pulang lebih awal. Sebuah sedan hitam baru saja terparkir di depan kios. Hidayat yang mendengar kedatangan mobil itu, bergegas menghampirinya keluar.


"Hey, Yat...!" Arya Irawan keluar dari mobilnya, lalu melambaikan tangan kearah Hidayat.


"Padahal aku baru saja mengabari Abang, tapi sekarang orangnya sudah berada disini..." Kelakar Hidayat sambil tertawa kecil.


"Kamu yang terlambat memberitahu Abang, Yat... Ibu datang semalam, tapi kamu baru saja mengabari Abang... Jahat kamu..." Gerutu Arya.


Usai tutup toko, mereka bersama-sama langsung menuju ke rumah almarhum Ajiz, tempat sekarang Maira dan Hidayat berkumpul menjadi keluarga inti.


Baru saja mereka turun dari kendaraan mereka masing-masing, Bu Zainab dan ibunya Maira sudah menunggu mereka di depan pintu.


"Ibu kenapa tidak memberitahu Arya jika ingin datang? Arya bisa saja menjemput..." Ucap Arya membuat-buat kecewa di wajahnya.


"Ibu dadakan saja, Nak... Kangen anak mantu..." Jawab Bu Zainab sambil mengusap pipi Arya. "Ayo, masuk-masuk..."


"Kalian katanya mau mandi, kan? Pergi ke kamar mandi belakang, ya..." Ujar Hidayat kepada Rizki dan karyawan lainnya.


"Masak apa ibu hari ini? Baunya begitu wangi..." Tanya Arya sembari duduk di samping ibunya Maira.


"Maira yang masak... Kami sama sekali tidak diizinkannya menyentuh dapur, bahkan sampai sekarang dia belum beranjak dari sana..."


"Maira?"


Ibunya Maira mengangguk.


"Ah, sejak mereka menikah, Arya baru sekali bertemu Maira. Itu juga kebetulan di halte depan..."

__ADS_1


"Halte?"


Hidayat tercengang mendengar ucapan Arya yang membuat ibunya terkejut. Ia seketika gugup sendiri, lalu berpamitan hendak membantu Maira ke belakang.


"Tunggu, Yat... Kenapa Maira di halte? Kamu tidak mengantar istrimu kemana ia pergi?" Selidik Bu Zainab.


Dahi Arya mengerut. Ia menjadi bingung melihat reaksi ibunya Hidayat sampai curiga begitu.


"Waktu itu toko sangat ramai, Bu... Pagi-pagi pelanggan udah menelepon. Jadi, Maira ingin naik bus saja katanya..." Jawab Hidayat berbohong.


"Benar begitu?"


"Maaf, Bu... Setau Arya juga begitu... Maira juga sedikit cerita sama Arya, terus Arya langsung ke kios, dan memang Rizki dan yang lainnya sudah pada sibuk melayani pembeli..." Jelas Arya ikut nimbrung percakapan dua ibu dan anak itu.


Bu Zainab terdiam, namun tatapannya masih terlihat tak percaya pada anaknya sendiri.


"Hidayat ke belakang dulu, ya, Bu..." Pamitnya lagi.


Di belakang, Maira tampak sibuk menata gelas di atas nampan. Kerudung panjang yang ia gunakan, ia angkat hingga hanya menutupi lehernya saja.


"Ada yang bisa Abang bantu?"


"Astaghfirullah..." Maira terkejut akan kedatangan Hidayat yang tidak disadarinya. Ia segera membelakangi suaminya itu, lalu menurunkan jilbabnya.


"Kenapa?" Tanya Hidayat terheran-heran.


"Abang mengejutkan Maira..." Jawab Maira bersungut.


"Maira seperti ditemui siapa saja? Abang ini kan suaminya Maira..." Ucap Hidayat seolah tanpa dosa.


"Suami yang membatasi jarak dengan istrinya?" Ketus Maira.


"Mai, cukup... Abang tahu Abang salah... Abang minta maaf..." Ucap Hidayat memelas.


"Iya, Maira mengerti... Tapi, Maira juga mohon sama Abang, supaya Abang tidak terlalu berlebihan juga dalam bersikap..." Pinta Maira seraya menampakkan wajah yang lebih memelas lagi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2