Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
26. Menemui Kirana


__ADS_3

Hidayat duduk dengan tenang di meja makan sambil membolak-balik halaman buku yang sedang ia amati. Sesekali ia menoleh pada Maira yang sibuk menyiapkan sarapan di balik mini bar.


"Semalam Maira pasti kerepotan, ya?" Tanya Hidayat sembari menutup buku di tangannya.


Maira datang mendekat dengan satu mangkok sup ayam panas dan sepiring nasi dalam genggamannya. "Besok-besok Abang jangan sakit lagi, ya, kalau tidak mau merepotkan Maira..."


"Abang nggak tahu juga kenapa Abang semalam bisa demam... Abang juga nggak ngerasain apa-apa..." Jawab Hidayat sambil menepikan buku-bukunya, lalu membantu Maira menata makanan.


"Abang pasti kelelahan... Belum lagi mikirin tesis, keuangan kios, juga keluarga di kampung... Banyak lagi beban Abang, dan Abang bukan robot yang bisa mengerjakan apa pun tanpa rasa lelah... Biarlah tubuh kita sesekali merasakan sakit, Bang... Abang tahu, kan? Penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuh kita. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah kita lakukan." Tutur Maira bermaksud menghibur suaminya itu.


Hidayat tercenung beberapa saat. Bukannya terhibur, ia malah merasa tertampar oleh penuturan Maira. Ia begitu yakin sakitnya merupakan teguran dari Allah untuk segala kesalahannya terhadap istrinya sendiri.


"Abang?" Panggil Maira sambil menggoyangkan lengan Hidayat.


"Eh i-iya?"


"Ayo, makan..."


Hidayat memaksakan senyumnya, lalu mulai menyantap nasi yang sudah dibasahi Maira dengan kuah sup. "Alhamdulillah, Maira selalu memberi apa yang Abang butuhkan... Terima kasih, ya..."


Mereka layaknya pengantin baru yang berbahagia, namun tiada disangka Maira Hidayat tengah menyembunyikan sesuatu yang besar darinya.


Siang ini Hidayat bertekad akan mengakhiri hubungan asmaranya dengan Kirana. Ia sungguh tidak tahan dengan kebohongan yang ia simpan dari istrinya. Ia merasa bersalah dan terus kepikiran dengan semua itu. Dan ia sangat yakin bahwa ia tidak akan menyesal melepas Kirana.


Maira baginya saat ini, bagai intan berlian yang sangat sulit dicari, bagai rembulan di langit yang sangat dirindukannya. Maira begitu berharga, dan ia tidak akan melepaskan istrinya itu sampai kapanpun, tidak peduli ia mengingkari inginnya di waktu-waktu sebelumnya.


Belum waktunya ia menjemput Maira, tapi ia malah meninggalkan kios begitu cepat. Ia telah membuat janji dengan Kirana, bertemu di cafe tempat biasa mereka minum.


"Aku senang banget kamu ajak aku ketemuan, Yat... Aku kangen sekali sama kamu... Aku-"


"Aku mencintai istriku, Kiran... Aku yakin itu, dan aku tidak bisa meninggalkan dia..." Ucap Hidayat segera memotong perkataan Kirana.

__ADS_1


Kirana terdiam. Wajahnya berubah tegang, lalu tak lama ia kembali memaksakan senyumnya. "Kamu bercanda, kan, Yat? Kamu tidak bicara yang sebenarnya, kan?"


Hidayat menggeleng. "Aku meminta kamu datang, karena aku ingin kita mengakhiri hubungan kita, Kiran... Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi... Setiap kali aku melihat ketulusan istriku, maka aku akan semakin berdosa karenanya."


"Aku tidak mau..." Tolak Kirana cepat. Dia tidak menatap Hidayat, hanya menundukkan wajahnya menghadap ke meja. Hatinya bagai teriris pisau tajam, pedih ketika mendengar pengakuan Hidayat.


Hidayat terperangah akan penolakan Kirana terhadap keputusannya. Ia gugup untuk sesaat. Berpikir, begitu terluka kah hati Kirana saat ini karenanya?


"Kamu cantik, Kiran... Kamu aktris terkenal... Kamu bisa menemukan lelaki yang lebih baik dari aku..." Tegas Hidayat berusaha membujuknya.


"Aku tidak mau, Yat... Tidak pokoknya... Tidak ada lelaki yang lebih baik dari kamu, yang bisa mengerti aku, tanpa aku harus menceritakan semuanya... Tidak ada yang peduli bagaimana aku kecuali kamu... Tidak ada yang mau bertanya mengapa aku melakukan kesalahan selain kamu... Tidak, tidak ada, Yat..."


Bahu Kirana berguncang seiring tangisnya meledak. Ia tersedu-sedu, membuat suasana menjadi hening kembali untuk sesaat.


"Cuma kamu, Yat... Cuma kamu satu-satunya yang bisa membuat aku tegar menjalani ini semua... Kamu pikir aku tidak dihantui rasa bersalah? Aku juga perempuan, Yat... Aku mengerti... Tapi mengapa harus aku yang mengalah? Bukankah kamu milikku terlebih dahulu? Bukankah dia yang telah merebut kamu dariku?" Ucap Kirana masih kekeh dalam pertahanannya.


"Kiran..."


"Kamu mau aku selalu berpakaian seperti ini, kan?" Tekan Kirana sambil menunjuk pakaiannya sendiri. "Aku turuti... Kamu mau aku berhenti dari dunia entertainment juga? Oke, aku akan berhenti... Aku akan lakukan demi kamu, demi tidak kehilangan kamu, Yat... Aku sudah kehilangan semuanya... Aku mohon jangan kamu..."


"Maaf, Yat, aku lelah... Aku ingin istirahat..." Potong Kirana cepat, lalu bangkit dari duduknya dan kemudian pergi meninggalkan Hidayat begitu saja.


"Kiran, tunggu... Kirana..." Panggil Hidayat mencoba menahan Kirana, namun Kirana tidak menggubrisnya. Ia terus berjalan dengan cepat sambil menahan tangis.


****


Kirana menangis di dalam mobilnya. Ia berharap mengelak kali ini dapat merubah keputusan Hidayat di lain kali. Seluruh tubuhnya terasa ngilu, dan ia kembali merasa kesepian.


Pintu mobilnya tiba-tiba dibuka seseorang dari luar. Ia terkejut mendapati Arya telah duduk di sampingnya.


"Oke, kamu sekarang sudah berubah..." Ucap Arya terdengar sinis.

__ADS_1


"Ma-maksud kamu?" Tanya Kirana sambil menatap Arya lekat.


"Selera kamu jadi beralih ke brondong, ya? Dulu bukannya suka manfaatin om-om?" Sindir Arya tanpa memedulikan air mata di pipi Kirana.


"Jaga ucapanmu, Ar..." Ketus Kirana terlihat kesal.


"Berhenti ganggu kehidupan Hidayat... Dia sudah punya istri... Dan kamu menyaksikan sendiri pernikahan mereka, bukan? Mereka saling mencintai dan hidup bahagia..." Tekan Arya.


"Kamu tidak perlu ikut campur... Kamu bukan siapa-siapaku, dan apa peduli kamu?" Ucap Kirana keras kepala.


"Hidayat sudah seperti adikku, dan Maira pun begitu... Sampai kamu mengganggu kehidupan mereka, aku tidak akan tinggal diam..." Ancam Arya sambil mengacungkan jari telunjuknya.


Kirana tersenyum bengis. "Nggak bisa miliki kakaknya, lalu berlagak menjadikan adiknya sebagai seorang saudara?"


Gigi Arya gemeretak saat mendengar ucapan sinis Kirana. Tangannya mengepal menahan amarah. "Jika kamu bukanlah perempuan..."


"Kamu akan memukulku?" Potong Kirana cepat. "Pukul! Pukul aku sekarang..."


Kirana tak kalah berang. Napasnya sampai tersengal seolah melampiaskan rasa kesedihannya, namun Arya tidak dapat menemukan perasaan Kirana yang sesungguhnya.


"Apa pun yang akan kamu lakukan, kali ini kamu tidak akan berhasil... Niat jahat tidak akan pernah kesampaian... Kamu harus percaya itu..." Ucap Arya menyerah, lalu membuka pintu mobil hendak keluar darinya.


"Lalu, bagaimana jika aku benar-benar mencintainya?" Ucap Kirana membuat Arya menghentikan langkahnya.


Arya termangu untuk sesaat. Wajahnya semakin terlihat kesal mendengar begitu percaya dirinya Kirana mengatakan cinta untuk Hidayat. Ia membanting pintu mobil Kirana dengan keras, lalu pergi dengan hati kesal.


Kirana menghela napas berat. Air matanya kembali deras membasahi pipinya. Ia begitu terluka mendengar setiap ucapan Arya kepadanya, begitu juga pandangan mantan kekasihnya itu yang sangat menghinakan dirinya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2