Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
32. Menyerah


__ADS_3

Melihat bahu Maira bergetar, Hidayat sedikit lebih mendekatkan posisi mereka. Ia semakin dibuat merasa bersalah karena ia tahu istrinya itu menangis.


"Mai, soal semalam..."


"Maira menyerah sekarang, Bang..." Ucap Maira memotong perkataan Hidayat.


Hidayat tercengang, wajahnya seketika berubah tegang.


"Maira akhirnya menemukan situasi ini, dimana keinginan Abang di awal kita menikah adalah kata menyerah dari Maira, kan? Hari ini Maira ke kampus untuk mengurus cuti, lalu Maira akan pulang kampung, dan memberitahukan kepada keluarga kita bahwa kita tidak bisa bersama..." Tegas Maira dengan air mata berlinangan membasahi pipinya.


Hidayat menarik lengan Maira dan menghadapkan wajah istrinya itu ke wajahnya. Ia menatap tajam mata Maira yang juga menantang tatapannya.


"Katakan, Mai, apa yang Maira ucapkan barusan benar-benar dari dalam hati Maira..." Tantang Hidayat.


Maira terdiam. Air matanya menyiratkan bahwa ia tidak menginginkan hal itu.


"Maira, jawab Abang...!" Tanya Hidayat lagi dengan nada memelas.


"Iya... Iya dari hati Maira yang paling dalam, Maira ingin pisah dari Abang..." Jawab Maira lantang, namun tetap saja air matanya semakin deras berjatuhan ke pipinya.


Hidayat tersentak. Seketika cengkeramannya ke lengan Maira terlepas. Matanya yang memerah menjatuhkan bulir bening yang hangat. Ia merasa hatinya terkoyak, pedih tak tertahankan.


Sesaat Maira melirik ke lengannya itu, yang semula kebas, tiba-tiba tak berasa apa-apa.


"Abang tidak pernah berpikir kah, berapa hati perempuan yang Abang sakiti dengan ini?" Tanya Maira dengan suara keras dan terdengar parau menahan kepedihan yang sama.


Hidayat tetap diam. Tidak bisa ia pungkiri, ibunya, ibu mertuanya, istrinya, juga Kirana adalah korban keegoisannya.


"Tolong dengarkan Abang dulu, Maira... Abang mohon..." Pinta Hidayat dengan suara getir.


"Ada lagi kah yang harus Abang jelaskan setelah Maira melihat dengan mata Maira sendiri Abang berpelukan dengannya?" Tanya Maira tanpa bernafas sedikitpun karena rasa kesal yang membuncah di dalam dadanya.


"Sekarang jawab saja pertanyaan Maira, apa Abang mencintainya, dan dia juga mencintai Abang?"

__ADS_1


Hidayat semakin terdesak oleh pertanyaan Maira, dan satu kata pun belum ada yang bisa ia keluarkan dari mulutnya. Jawabannya, ia pernah mencintai Kirana, walau ia tidak tahu kapan cinta itu akhirnya hilang. Tapi tetap saja, apa pun jawabannya, itu hanya akan menyakiti perasaan Maira.


"Abang tidak bisa menjawabnya?" Tanya Maira melunak dan terlihat putus asa.


"Bukankah Maira bilang, Maira akan memaafkan Abang?" Tanya Hidayat pasrah. Mengelak pun dari pertanyaan Maira juga tidak ada gunanya.


Maira tersenyum kecut. Ia merasa terjebak oleh rayuan Hidayat kemarin. Maira mengangguk, "iya... Sudah... Maira sudah maafin Abang..."


Setelah berucap begitu, Maira hendak beranjak keluar dari dapur.


"Bukankah menurut Maira bang Ajiz salah telah langsung mengintimidasi kak Zahra tanpa mencari tahu dulu kebenarannya? Bukankah Maira yang bilang kalau tidak baik jika memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi? Juga, bukankah Maira yang bilang bahwa semua yang kita lihat belum tentu sama dengan pemikiran kita?"


Langkah Maira terhenti. Ia terisak-isak begitu saja setelah mendengar ucapan Hidayat.


"Maira juga bilang sama Abang, kalau tidak ada yang perlu Maira khawatirkan lagi jika hati Abang telah jatuh sepenuhnya kepada Maira, kan? Lalu, kenapa sekarang Maira ingin menyerah? Maira mau lihat hati ibu kita berdua terluka? Juga, Maira ingin mematahkan hati kita berdua yang baru tumbuh bagai tunas ini?" Tanya Hidayat lagi tak kuasa menahan ketidakberdayaannya membujuk hati Maira yang begitu keras karena terluka oleh perbuatannya.


"Lalu, alasan apa yang pantas Maira dengar dari penjelasan Abang, hah? Jelas-jelas Maira melihat Abang berpelukan dengannya semalam..." Protes Maira tersedu-sedu.


"Dia yang memeluk Abang, Maira..." Bantah Hidayat.


"Waktu Abang istirahat untuk sholat isya, ada yang menghubungi Abang pakai nomor teleponnya..." Jawab Hidayat.


"Terus, dengan rasa khawatir Abang langsung menuju ke rumah sakit untuk menemuinya?" Potong Maira tanpa menyadari rasa cemburu yang membuat ia bertingkah seperti itu.


Nafas Hidayat tersengal. Ia merasakan panas pada suhu tubuhnya, namun ia tahan kan juga. "Demi Allah, Mai, bukan seperti itu... Awalnya Abang nggak ada niatan sama sekali untuk datang..."


"Lalu bagaimana Abang bisa sampai di rumah sakit, kalau Abang tidak ada niat untuk datang? Abang kasihan, begitu?" Ketus Maira semakin tidak terima dengan alasan-alasan yang dilontarkan oleh suaminya itu.


"Abang memang kasihan, tapi Abang tidak ingin lagi dia salah paham dengan rasa kasihan Abang kepadanya... Abang sudah mengakhiri semuanya dengannya, tapi dia menolaknya... Abang bisa apa?" Tutur Hidayat membuat pembelaan diri.


Maira terdiam. Dia menatap lekat wajah Hidayat seolah menyiratkan kekecewaannya belum berakhir.


"Maira... Tolong, tenang dulu..." Pinta Hidayat seraya memegang tangan Maira, namun Maira malah menepisnya. Bukan karena benci, tapi suhu tubuh Hidayat yang semakin panas membuat ia terkejut.

__ADS_1


Air mata Hidayat kembali berderai. Entah mengapa ia merasa lelah dan lemah.


"Demi Allah, Mai, semalam Abang datang karena mencemaskan Maira..." Ucap Hidayat tersengal-sengal, lalu kakinya yang terasa layu tak kuat lagi menahan tubuhnya. Ia ambruk, dan beruntung Maira cepat menahan dengan sekuat tenaganya.


"Abaang..." Pekik Maira. Hidayat terkulai lemah di pangkuannya. Suhu tubuh Hidayat yang begitu tinggi membuat Maira panik dan menangis.


Meski ia dalam keadaan kecewa, tapi tetap saja ia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan suaminya itu.


***


Arya menatap prihatin wajah Kirana yang menunduk sedih di sudut rumah. Setelah mendengar bisik-bisik tetangga yang datang melayat ke kediaman ayah Kirana, ia mengerti mengapa Kirana begitu. Gadis hina di matanya, penuh teka-teki dan tanda tanya.


Selama ini ternyata Kirana berjuang seorang diri, bukan dengan cara instan memanfaatkan dirinya. Ia kecewa, kenapa dia tidak seperti Hidayat yang berbesar hati terhadap Kirana. Kenapa dia pergi begitu saja tanpa bertanya mengapa dan ada apanya?


"Oh Tuhan, apa yang bisa aku lakukan untuknya saat ini?" Gumam Arya merasa tak berdaya melihat air mata Kirana yang berjatuhan tak henti-hentinya.


"Kakak..." Ayu berlari ke dalam dekapannya. Gadis kecil itu matanya juga telah sembab karena menangis semalaman, sementara Kirana tak berniat membalas dekapan Ayu.


Arya tak tega, lalu mendekati posisi mereka.


"Kamu adiknya aktris cantik ini, ya?" Goda Arya berusaha membujuk dan menghibur Ayu.


"Pasti kak Arya, ya?" Tanya Ayu sambil memaksakan senyumnya.


"Iya... Kamu sering liat kak Arya juga di tivi?" Tanya Arya lagi sambil mengelus kepala Ayu.


Ayu mengangguk. "Ayu senang sekali bisa bertemu langsung dengan kak Arya..."


"Kak Arya juga senang sekali bertemu dengan Ayu..." Ucap Arya. Gadis itu tersenyum, namun air matanya yang masih saja menetes, tidak bisa berbohong bahwa ia begitu terluka saat ini.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2