Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
42. Kamu Istriku


__ADS_3

Pernikahan Arya dan Kirana berlangsung dengan lancar. Arya memasangkan cincin di jari manis Kirana, sementara cahaya kilat kamera menyoroti wajah mereka. Memang atas permintaan omnya, beberapa reporter sekaligus fotografer profesional diundang untuk menyaksikan kebahagiaan mereka malam ini, agar menjadi berita terpopuler esoknya.


Para fans mereka yang kerap kali menjodoh-jodohkan mereka, pasti sangat berbahagia atas kabar ini. Atau bisa saja akan menjadi hari patah hati bagi sebagian perempuan yang sangat mengidolakan Arya, dan juga sebaliknya, bagi lelaki yang mengidolakan Kirana.


Kirana menoleh pada Ayu yang duduk mengapit Maira. Ayu yang menyadari ia ditatap Kirana, segera menyembunyikan dirinya di belakang lengan Maira. Ia sesekali mengintip, dan ternyata Kirana masih menatapnya dengan iba.


Maira yang menyadari kegelisahan Ayu, segera merangkul Ayu ke dalam dekapannya. "Tidak apa-apa, Sayang..."


Kirana mendekati mereka. "Ayu masih marah ya sama kak Kiran?"


Ayu masih terlihat takut. Ia semakin menguatkan lingkaran tangannya ke lengan Maira.


"Kak Kiran minta maaf, Sayang... Kak Kiran salah sudah bentak-bentak kamu..." Ucap Kirana terdengar tulus.


Maira sangat mengerti dengan apa yang terjadi antara Ayu dan Kirana. Sungguh tidak mudah bagi keduanya untuk menerima kenyataan, terlebih orang tua Kirana adalah korban dari kejahatan ibu kandungnya Ayu.


Sementara itu Arya sibuk berkecimpung dengan keluarga Hidayat dan Maira. Ia begitu bahagia di hari pernikahannya disaksikan oleh orang-orang terkasihnya. Ibu kandungnya juga terlihat cepat akrab dengan mereka disana.


"Resepsi akan diadakan satu Minggu ke depan, saya harap Bu Zainab beserta keluarga besar datang, ya..." Ucap ibunya Arya terlihat begitu akrab.


"Insyaallah... Insyaallah kalau tidak ada halangan berarti, kami akan usahakan untuk datang..." Jawab Bu Zainab.


Arya membiarkan keluarganya dan keluarga Kirana beserta keluarga Hidayat dan Maira berbincang-bincang, sementara ia mendekati Ayu. Sedari tadi ia sesekali terfokus pada gadis kecil itu. "Ayu apa kabar?"


"Baik..." Jawab Ayu sembari menoleh sedikit pada Arya.


"Ayu senang, nggak, Kak Arya nikah sama kak Kiran?" Tanya Arya begitu lembut.


"Senang... Berarti sekarang sudah ada yang jagain kak Kiran deh... Semoga Kak Kiran bahagia, dan kak Arya jangan sakiti kak Kiran, ya... Ayu mohon..." Gadis kecil itu mengatupkan kedua telapak tangannya di hadapan Arya, membuat Kirana tak tahan untuk memeluknya.


"Maafin Kakak, Sayang... Maafin Kakak..." Ucap Kirana sambil terisak-isak memeluk Ayu.


Ayu yang tidak sanggup menahan perasaannya, menangis keras dalam pelukan Kirana. Ia terlihat begitu merindukan sosok yang disangka kakaknya selama ini.

__ADS_1


Maira segera mengapit lengan Hidayat untuk menyembunyikan tangisnya. Ia merasa terharu melihat momen di hadapannya.


"Mai, aku mau Ayu kembali denganku..." Pinta Kirana menatap Maira dengan wajah memelas penuh harap, lalu beralih menoleh pada Arya yang baru saja sah menjadi suaminya.


Arya tersenyum mengangguk sambil mengusap punggung Kirana seakan memberi izin, sementara Maira menelan kasar ludahnya. Ia baru merasa nyaman dengan kehadiran Ayu, menganggap Ayu bagian penting dalam hidupnya beberapa waktu terakhir.


"Nanti kalau Ayu bersama kak Kiran, masih boleh kak Mai-Mai bertemu Ayu?" Tanya Maira dengan suara tersekat.


"Kenapa tidak, Kak? Ayu sayang sama kak Mai-Mai dan bang Hidayat... Kak Mai-Mai dan bang Hidayat baik sih..." Jawab Ayu sembari tersenyum.


"Untuk malam ini biar Ayu bersama kami ya, Nak Kiran... Lusa kami akan kembali ke kampung, dan anak-anak senang bermain dengan Ayu..." Timbrung Rianur seakan mengerti apa yang diinginkan adik iparnya.


Ayu menoleh pada Kirana. "Boleh ya, Kak... Ayu mau main sama Faiz dan Faiza, ponakannya bang Hidayat..."


"Baiklah, besok sore kak Kiran dan kak Arya akan jemput Ayu ke sana..."


***


"Mandilah, aku cari angin dulu di balkon..." Ujar Arya sambil meletakkan koper Kirana di samping tempat tidur.


"Masih mau cari angin?" Tanya Kirana tiba-tiba berubah canggung sejak mereka telah sah menjadi suami istri.


"Emm... A-aku..." Arya mendadak gugup mendapati tatapan Kirana yang malu-malu.


"Kamu saja duluan yang mandi. Kalau dibolehkan, aku siapkan baju ganti untukmu..." Ujar Kirana terlihat kikuk.


"Tentu..." Angguk Arya seraya melepas jas yang masih melekat di tubuhnya. "Kamu buka saja lemari pakaianku, dan kamu bisa menaruh pakaianmu di dalamnya. Sekarang, ini adalah kamar kita, dan kamu berhak, kamu juga bebas disini... Jangan sungkan... Kalau butuh apa-apa, kamu tinggal bilang kepadaku..."


"Aku sudah tidak butuh apa-apa lagi... Aku tidak akan merepotkan kamu lagi, dan aku juga tidak akan meminta sesuatu yang membuat kamu bingung lagi... Aku minta maaf soal masa lalu kita..." Potong Kirana cepat.


Arya menatap Kirana dengan penuh penyesalan. "Aku yang harusnya minta maaf, Kiran... Dan soal masa lalu, baiknya kita lupakan saja..."


"Tapi, aku tidak bisa jika tidak menjelaskan apa yang terjadi waktu terakhir kali kamu pergi, Ar..." Bantah Kirana.

__ADS_1


"Aku tidak ingin membahas itu lagi, Kiran... Ini malam pernikahan kita..." Elak Arya berusaha membuat Kirana mengerti. "Dan aku juga sudah tidak mempermasalahkan soal itu lagi. Aku mau kamu menerima aku tanpa terikat masa lalu, dan juga sebaliknya, aku menerima kamu dan segala kekuranganmu..."


"Tidak ada yang terjadi saat kamu menemukanku keluar dari kamar hotel waktu itu, Ar... Aku tidak melakukan apa-apa..." Ungkap Kirana bersikukuh untuk menjelaskan semuanya. Walau di mulut Arya berkata bahwa ia tidak mempermasalahkannya, tetap saja Kirana merasa dirinya hina di mata Arya.


Arya terdiam.


"Setelah kamu memintaku untuk berdiam diri di apartemen, ibu tiriku menelepon... Ayah kritis dan harus dibawa ke UGD. Ibu memintaku menyiapkan uang dua ratus juta, sementara aku tidak punya uang sebanyak itu..."


"Kenapa tidak bilang? Bukankah aku tidak pernah perhitungan selama kita masih bersama?" Potong Arya terlihat begitu kecewa. Ia menatap Kirana begitu lekat. "Aku berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu... Aku benar-benar serius padamu waktu itu, bahkan di hari itu aku berniat melamar kamu, Kiran..."


Kirana sesenggukan. Ia kehabisan kata-kata, menundukkan kepalanya tak berani lagi menatap wajah Arya.


"Karena aku terkenang kamu, makanya aku urung... Aku berusaha mengelak dari lelaki itu... Aku mengembalikan semua uang yang ia berikan, sehingga dia marah-marah... Kamu masih ingat, kan, dia membentak kita waktu itu di depan pintu kamar yang ia pesan? Waktu itu aku benar-benar tidak ingin sedikitpun menghancurkan kepercayaan kamu kepadaku, karena aku benar-benar cinta..." Jelas Kirana sambil terisak-isak.


Arya tak berdaya melihat Kirana begitu rapuh. Ia membawa tubuh Kirana ke dalam dekapannya. "Maafkan aku, Kiran... Maaf tidak pernah mencoba sekali saja untuk memberi kamu kesempatan menjelaskan semua itu kepadaku... Dan maaf, aku tidak bisa bohong kalau aku tidak menyesali semua ini terjadi... Aku malah bersyukur, karena ini membawaku menemukan keluarga baru... Membawaku ke dalam perubahan besar... Aku merasa diriku lebih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah... Aku merasa bahwa aku lebih dewasa dari sebelumnya..."


Arya mengeluarkan kembali Kirana dari dekapannya, mengangkat dagu Kirana agar mau membalas tatapannya. "Allah tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya, dan perjalanan panjang ini adalah yang terbaik... Bukan aku saja, tapi kamu juga, kan?"


Kirana mengangguk. "Jangan tatap aku sebagai perempuan menjijikan lagi, aku masih suci, Ar..."


Arya tersenyum. "Itu alasannya kamu ingin menjelaskan semuanya kepadaku?"


"Aku hanya merasa hina setiap kali melihat tatapan matamu padaku..." Jawab Kirana memberengut.


"Sekarang tidak lagi... Kamu istriku, halal dan suci bagiku..."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2