
Tatapan mata Hidayat yang penuh penyesalan, membuat wajahnya begitu sendu.
"Maira mau, kan?" Tanyanya penuh harap.
Maira mulai menatap Hidayat kembali, lalu perlahan memperlihatkan senyuman manis yang selama ini tidak pernah ia perlihatkan kepada suaminya itu. Ia mengangguk dengan air mata juga berlinangan.
Hidayat tersenyum senang. Ia mengangkat tangan Maira, lalu menciumnya. Kemudian Hidayat mencium dahi Maira. Air mata mereka sama-sama menetes, menyatu di pipi Maira.
"Maafkan Abang..." Ucap Hidayat seraya menarik tubuh Maira ke dalam dekapannya.
Jantung Maira semakin berdebar kencang. Ia kehilangan kendali dalam rasa bahagia yang menyelimuti hatinya. Rasa haru yang ikut hadir pula, membuat ia semakin larut dalam suasana bahagianya.
"Maira tidak bermimpi, kan?" Bisik Maira di dalam dada Hidayat.
"Tidak... Ini sungguhan, Maira..."
"Abang sedang tidak mempermainkan Maira juga, kan?"
Hidayat mengeluarkan Maira dari dekapannya, lalu menggamit pipi Maira dengan lembut. "Apa Maira melihat kepura-puraan di wajah Abang?"
Maira terdiam sejenak, menatap Hidayat sangat dalam. "Terima kasih, Abang... Terima kasih telah memberi Maira kesempatan menjadi istri Abang..."
Hidayat mengangguk, lalu kembali membawa tubuh Maira ke dalam dekapannya, dan tangan Maira pun mulai membalas pelukannya.
"Abang yang harusnya berterimakasih kepada Maira, karena Maira masih setia menunggu Abang sampai detik ini..."
"Abang sudah shalat?" Tanya Maira mengalihkan perasaannya.
"Sudah..."
"Dimana?"
"Musholla kampus..."
"Tapi belum mandi, kan?" Canda Maira.
Hidayat melepaskan pelukannya. Ia mengangkat kedua tangannya bergantian sambil menciumi aroma tubuhnya sendiri. "Tadi sebelum berangkat kuliah Abang mandi kok..."
Maira tertawa kecil. "Maira juga tidak bilang kalau Abang bau... Maira cuma nanya, tapi kok reaksi Abang begitu?"
"Abang kira... Hemmm, kan Abang jadi malu..."
"Abang mau mandi lagi?"
"Iya... Hari ini memang gerah sekali..." Jawab Hidayat sambil mengangguk. "Abang mandi dulu ya..."
"Iya, Maira akan siapkan bajunya Abang.. "
__ADS_1
Allah maha membolak-balikkan hati manusia, dan sejauh ini Maira meminta, akhirnya ia mendapatkan juga hati Hidayat untuk dirinya. Malam ini ia begitu bahagia, menatap wajah Hidayat tanpa takut-takut lagi. Dipeluk, dicium dan dimanja oleh suaminya sendiri.
"Apa semua menyakitkan?" Tanya Hidayat sambil terus menatap wajah Maira. Mereka berbaring di atas kasur yang sama, saling berhadapan dan saling menatap hingga mereka tiada bosan karenanya.
"Tidak..."
"Abang sudah sangat keterlaluan, seperti Abang tidak punya hati setiap kali berhadapan dengan Maira... Abang minta maaf, Abang sendiri tidak bisa lupa dengan perlakuan Abang kepada Maira..." Ucap Hidayat sungguh-sungguh terlihat dalam penyesalan.
Maira tak mampu berkata-kata. Ia hanya semakin mempererat genggaman tangan mereka.
***
Pertigaan malam Hidayat terbangun lebih dahulu. Ia melihat wajah Maira begitu ayu meski dalam keadaan tertidur pulas. Suara nafas yang begitu ringan, membuat gejolak perasaannya semakin menggebu-gebu. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia keliru. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, begitu kuat dan sanggup membuai dirinya.
Ia mengelus kepala Maira yang masih terbungkus jilbab dengan lembut. Ia baru ingat, semalam mereka tertidur sambil menatap satu sama lain.
Hidayat tersenyum membayangkan bagaimana indahnya cinta yang ia rasakan, lalu mencium kening istrinya itu.
"Maira, kita tahajjud bareng, yuk..." Ajak Hidayat sambil berbisik di telinga Maira, sementara tangannya kembali mengelus kepala Maira.
"Emmm..." Maira menggeliat kecil. Perlahan ia membuka matanya, lalu menatap Hidayat dengan lekat.
"Kita tahajjud bareng, yuk..." Ulang Hidayat lagi.
"Hah?" Maira tersentak, lalu bangkit dengan cepat.
Maira mulai tersenyum, "Maira kira , Maira sedang bermimpi..."
"Mimpi Maira sudah kenyataan sekarang..." Ucap Hidayat seraya mengambil tangan Maira.
"Umm..." Angguk Maira.
"Abang wudhu dulu, ya?"
Maira mengangguk, lalu melepas tangan Hidayat, dan kemudian mulai berkemas membersihkan tempat tidur mereka.
Dimulai pagi ini, Maira menyiapkan sarapan untuknya berdua dengan Hidayat. Ia begitu senang, karena sudah tidak ada lagi orang asing di antara mereka. Satu gelas berdua, dan juga satu piring sarapan berdua.
"Maira tahu? Dulu kak Zahra dan bang Ajiz juga berbahagia seperti kita sekarang ini..." Ucap Hidayat sembari menatap Maira dengan binar bening matanya.
"Abang tahu banyak tentang mereka? Memangnya Abang menemukan buku kak Zahra dimana?" Tanya Maira mengalihkan pandangannya, ia begitu grogi setiap kali ditatap seperti itu.
"Kak Zahra tidak sengaja meninggalkannya di sofa rumah, waktu Kak Zahra pulang kampung terakhir kali sebelum menginap di rumah Maira..."
"Pasti bikin senyum-senyum sendiri ketika membacanya ya, Bang?" Terka Maira.
Hidayat tersenyum, namun tidak untuk sirat matanya yang sayu. "Awalnya iya, tapi setelah Abang membaca sampai kak Zahra menyembunyikan penyakitnya, disitulah Abang merasa sangat hancur sekali. Abang marah sama diri Abang sendiri, karena waktu Abang nganterin kak Zahra ke rumah sakit, Abang tidak tahu sama sekali tentang penyakit yang diderita kak Zahra... Abang merasa..."
__ADS_1
Hidayat tidak mampu lagi melanjutkan ucapannya. Kerongkongannya tersekat, perih menahan kepedihan karena mengingat kembali tentang almarhum kakaknya.
"Maira mengerti bagaimana perasaan Abang..." Ucap Maira berusaha menenangkan sambil menggenggam tangan Hidayat yang mengepal di atas meja. "Sampai detik ini, kita bahkan masih merasa kehilangan... Dan yang paling menyalahkan dirinya sendiri pada saat kak Zahra meninggal, adalah bang Ajiz... Coba Abang bayangkan bagaimana perasaan bang Ajiz waktu itu. Ia yang hidup bersama kak Zahra, tapi ia malah tidak tahu sama sekali..."
Hidayat mengangguk. "Abang juga baru sadar, sesuatu yang membuat Abang tegar ketika kehilangan mereka, adalah Maira... Hanya saja, selama ini Abang terlalu egois..."
Maira tersenyum. Ia merasa tersanjung mendengar ucapan Hidayat. "Emmm... Waktu itu Abang nawarin Maira buat baca juga, kan? Sekarang masih boleh?"
"Boleh dong... Nanti Abang ambilkan..."
Sebelum berangkat, Maira menyiapkan bekal untuknya dan untuk yang dibawa Hidayat ke kios. Dia terlihat sangat senang bisa melakukan hal ini semua.
"Sudah selesai?" Tanya Hidayat seraya mengambil bekal besar di tangan Maira.
"Sudah, Bang..."
Hidayat memerhatikan bekal lainnya di tangan Maira. Tiba-tiba ia jadi kepikiran dengan ucapan Maira sebelumnya, bahwa istrinya itu berbagi bekal dengan temannya di kampus.
"Bawa bekal banyak hari ini?" Tanya Hidayat terlihat tidak nyaman.
"Iya, Bang... Sila suka masakan Maira katanya..." Jawab Maira begitu santai tanpa memerhatikan raut wajah suaminya.
"Sila?"
"Iya, Bang... Teman Maira yang Abang jumpai ketika pertama kali Abang antar Maira..." Jelas Maira yang tidak menyadari perasaan Hidayat sedang dilanda cemburu.
"Cuma dia, kan?"
"Iya... Tapi, sesekali Beni juga ikut makan..."
"Beni?" Hidayat mulai menampakkan kekesalannya.
"Iya... Dia itu..."
"Lain kali tidak perlu bawa bekal lagi. Abang akan kasih uang lebih untuk makan di kantin..." Ketus Hidayat memperingati.
"Kenapa Abang tiba-tiba marah?" Tanya Maira tersurut.
"Abang tidak marah... Abang cuma tidak suka Maira berbagi makanan dengan lelaki lain, mau namanya Beni, Beno, atau siapa lah..." Sungut Hidayat seraya berjalan mendahului Maira.
Maira awalnya tercengang mendengar ocehan suaminya itu, namun tak lama ia tersenyum.
.
.
.
__ADS_1
.