
Mata Arya terlihat sembab. Sudah pukul tiga pagi, dan ia baru usai membaca buku itu. Bertepatan dengan Kirana yang terbangun dari tidurnya, ia beringsut ke atas tempat tidur.
"Kamu sudah selesai membacanya?" Tanya Kirana dengan suara terdengar parau, dan Arya hanya mengangguk lesu menanggapi pertanyaan istrinya.
"Kamu kena kebangun? Bukankah lagi halangan, ya?"
"Aku pengen ke kamar mandi, mau buang air kecil..." Jawab Kirana seraya turun dari tempat tidur mereka.
Baru ditinggal sebentar Arya sudah pulas dalam tidurnya. Kirana yang telah kembali dari kamar mandi terpana sesaat. "Kasihan Arya... Pasti setelah ini ia akan berusaha keras untuk menerbitkan novel kisah Zahrana..."
Kirana menarik selimut hingga menutupi dada suaminya itu. Ia mengelus kepala Arya dengan lembut, lalu mengecup kening suaminya itu.
Ia mengambil buku yang baru saja selesai dibaca Arya, lalu kembali ke tempat tidur. Jantungnya berdebar ketika membaca kalimat pertama dalam buku itu.
'Bangunkan cinta di atas pernikahan, bukan pernikahan di atas cinta... (Buya Yahya)'
'Surga Cinta Dalam Bismillah'
"Masya Allah... Aku bahkan sering mendengar ini, tapi kenapa kali ini rasanya berbeda?" Gumam Kirana sembari mengedipkan matanya yang basah berkali-kali.
"Emmm, baru baca ini saja aku udah mewek, gimana baca isinya?" Ocehannya sendiri.
Bangun jam segini tidak membuat ia ingin kembali tidur karena rasa penasarannya untuk membaca. Seorang Arya saja bahkan rela menghabiskan waktunya hanya untuk membaca buku ini, pikirnya.
Kirana mulai membaca dengan fokus. Ekspresi wajahnya berubah-ubah. Ia seakan mendalami peran saat syuting ketika membaca buku itu di dalam hatinya.
Waktu terus berjalan, dan hampir setengahnya buku itu ia baca. Matanya berkaca-kaca ketika membaca halaman dimana Arya pertama kali berkenalan dengan Zahrana. Hatinya terenyuh mengetahui betapa hancurnya perasaan Arya ketika putus darinya dahulu. Ia merasa bersalah telah membuat suaminya itu pernah berada di titik galau parah.
Kirana menoleh iba pada Arya yang tertidur pulas di sampingnya. "Maafin aku, Sayang... Aku pikir aku yang tersakiti dulu, tapi kenyataannya kamu lebih terpuruk lagi setelah mengetahui pengkhianatan dariku... Dan saat ini perasaan kamu telah sepenuhnya kembali seperti dulu lagi terhadapku..."
Kirana mengelus kepala Arya dengan lembut dan berkata, "terima kasih, Sayang..."
Ia kembali melanjutkan bacaannya. Beberapa halaman lagi masih tentang Arya, Kirana menutup buku karena melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah lima.
"Sekarang aku mengerti jalan takdir kita, Sayang... Lewat Zahrana cinta kita semakin kokoh... Kamu terlebih dahulu mendekatkan diri kepada Allah karenanya, barulah memantapkan hati untukku seutuhnya..."
Azan subuh berkumandang, Arya menggeliat kecil dan berusaha membuka matanya yang sangat terasa berat. Seketika dunia terasa terang melihat senyuman manis Kirana terlontar padanya.
"Sayang sudah bangun?" Tanya Arya dengan suara terdengar serak.
"Kebangun tadi aku langsung baca ini, Sayang..." Jawab Kirana sambil menunjukkan buku dalam genggamannya.
__ADS_1
"Sudah selesai?"
"Ya belum lah, Yank... Separuh pun masih belum..."
"Emmm, sampai mana memangnya?"
"Nanti aku cerita... Sekarang kamu shalat dulu sana..."
"Baiklah..." Arya bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
Sepeninggal Arya ke masjid, baby Zaim merengek. Bayi mungil itu seperti sudah hapal kapan waktunya ia akan terbangun untuk menyusu.
Kirana tidak melanjutkan bacaannya, ia mengganti popok Zaim yang hampir penuh, lalu membersihkan tubuh anaknya sebelum ia menyusui bayi itu.
***
Hidayat pulang dari masjid ketika dunia belum terang. Ia melihat Maira sudah berada di dapur menyiapkan sarapan dan teh hangat untuk mereka berdua.
"Sayang sudah shalat?" Tanya Hidayat terheran-heran.
"Sudah, Bang..."
"Nggak, seperti biasa saja kok... Maira nggak terburu-buru... Abang deh yang lama pulangnya..." Jawab Maira sembari meletakkan teh panas di atas meja tepat di hadapan Hidayat.
"Terima kasih, Sayang..."
"Sama-sama, Bang..." Jawab Maira seraya duduk di kursi samping Hidayat. "Oh ya, Bang, Kenapa Abang bisa kepikiran buat serahin buku itu ke bang Arya?"
"Abang begitu emosional usai membacanya, Sayang... Bahkan, Abang tidak menyadari kalau Abang sampai menghabiskan tisu di meja Abang... Abang ngerasa kalau bang Arya harus membacanya juga..." Jawab Hidayat seraya menyeruput teh panas yang disediakan Maira dengan perlahan-lahan.
"Apa mungkin bang Arya akan sama dengan kita ya, Bang, mengagumi rumah tangga kak Zahra dan bang Ajiz?"
"Itu pasti, Sayang... Tidak hanya bang Arya, Kirana pasti sangat ingin membacanya, dan juga sangat mengagumi kakak-kakak kita..."
"Kak Zahra begitu istimewa... Andai semua perempuan seperti kak Zahra..." Ucap Maira dengan kekagumannya.
"Pernah Abang berkata seperti itu ke kak Zahra, tapi kak Zahra malah marah dan mengomeli Abang..."
"Kenapa?"
"Kak Zahra bilang gini, 'tahukah kamu perempuan seperti apa yang paling istimewa sebenarnya?' Siapa? Abang bertanya balik... 'Siti Maryam, ibunda nabi Isa alaihis salam... Saking mulianya beliau, nama Siti Maryam bahkan sampai diabadikan sebagai nama surah dalam Al-Qur'an... Lalu perempuan lainnya adalah Asiyah binti Muzahim, istrinya raja Firaun Laknatullah, perempuan yang dijamin surga untuknya walaupun suaminya adalah seorang raja yang dzalim... Lalu ada juga Khadijah binti khuwailid, istrinya Rasulullah... Bahkan Fatimah binti Muhammad juga... Kamu tahu sendiri bagaimana kisah mereka, kan, dek? Sementara kakak bahkan setitik pun tidak sebanding dengan perempuan-perempuan ahli surga seperti itu...' Itu kata kak Zahra, Sayang..." Jelas Hidayat seolah menirukan perkataan kakaknya di masa lampau. Matanya memerah membayangkan almarhumah kakaknya itu.
__ADS_1
Maira terpukau mendengar ucapan suaminya. "Abang pasti sangat dekat ya, dengan kak Zahra?"
"Sangat... Bahkan lebih dekat daripada ke kak Rianur... Orang-orang bilang kalau kak Zahra itu cocoknya sama Abang, sementara kak Rianur dengan bang Mus..." Jawab Hidayat sambil mengucek matanya yang lembab.
"Kok bisa begitu, Bang?" Tanya Maira penasaran.
"Kak Zahra itu orangnya nggak suka keramaian, nggak suka bising, kalau bicara seadanya, bahkan lebih senang di rumah dan di pantai... Beda sama kak Rianur. Kak Rianur itu orangnya heboh, suka dalam keramaian. Kalau ada kenduri di kampung, kak Rianur nomor satu dalam segala hal. Mau urusan dekorasi, masak-masak, dan menghadiri acaranya..." Jawab Hidayat panjang lebar.
"Terus?"
"Nah, Abang setipe nih sama sikapnya kak Zahra... Kalau Abang kumpul-kumpul, palingan sama yang sebaya dengan Abang juga... Kalau bang Mus beda. Bang Mus masuk dalam segala hal. Perkumpulan pemuda, surau, olahraga, acara-acara adat, pokoknya banyak lah..."
"Emmm, pantesan bang Mus terlihat lebih berwibawa orangnya..." Gumam Maira sambil mencebikkan bibirnya.
"Iya, memang... Abang nggak berwibawa, nggak ada bijaksana-bijaksananya... Tapi,-"
"Tapi apa, Bang?" Tanya Maira dengan menajamkan sorot matanya.
"Tapi tetap saja Maira cintanya ke Abang, kan?" Goda Hidayat sembari menggamit dagu Maira.
Pipi Maira bersemu kemerahan. Ia segera memalingkan wajahnya yang jelas tersipu-sipu.
"Sayang malu, ya?"
"Nggak..." Jawab Maira semakin memunggungi Hidayat.
"Terus kenapa tidak mau melihat ke Abang?"
"Maunya dipeluk Abang dari belakang... Maunya anak kita..." Ucap Maira menegaskan.
Hidayat segera memeluk istrinya yang tengah hamil besar itu dari belakang, lalu mengelus-elus perut buncit Maira. "Maunya anak Ayah, ya? Bukannya kemauan ibu rupanya..."
Maira hanya tersenyum dengan wajah girang mendengar ucapan Hidayat yang berpura-pura memberengut.
.
.
.
.
__ADS_1