
Hidayat dibuat pusing sendiri karena permasalahannya dengan Kirana yang belum juga kunjung ada penyelesaian. Menyesal? Itu bukanlah kata-kata yang mesti ia ucapkan saat ini. Ia terlanjur salah dari awal.
Hidayat melangkah gontai menuju parkiran motor. Ucapan Kirana tadi masih mengganggu pikirannya. Namun, dering ponselnya membuat ia sedikit tersentak.
"Maira? Astaghfirullah..." Ucap Hidayat seraya mengangkat panggilan telepon dari Maira sesegera mungkin.
"Assalamualaikum, Mai..."
"Wa'alaikum salam... Abang jadi jemput Maira? Kalau tidak, Maira naik busway saja..." Tanya Maira dari seberang.
"Iya, jadi kok, Mai... Ini Abang mau berangkat ke sana..." Jawab Hidayat bersemangat. Ia benar-benar seakan melupakan permasalahannya dengan Kirana tadi karena mendengar suara istrinya.
Hati Hidayat tambah lebih tenang ketika melihat istrinya telah menungguinya di depan gerbang kampus, ditemani Sila dan juga Beni disana.
"Teman Maira cuma mereka, ya?" Tanya Hidayat sambil menyeringai usil.
"Yang setia, ya, cuma kami..." Jawab Sila cepat, sementara Beni hanya tersenyum kecut.
Sila menggandeng tangan Beni, membuat Maira melotot kepadanya. Sila cemberut, lalu melepaskan tangan Beni.
"Kalian pacaran?" Tanya Hidayat yang kebingungan melihat reaksi istrinya kepada mereka.
"Selepas kuliah nanti, kami mau tunangan, Bang..." Jawab Sila cepat.
"Terus, kenapa Maira marah?" Tanya Hidayat lagi sambil berusaha keras menyembunyikan rasa cemburunya, karena ia dapat melihat rasa suka Beni terhadap istrinya.
"Mereka belum muhrim, Bang... Sebagai teman, Maira cuma mau mengingatkan bahwa hal itu tidak dibenarkan..." Jelas Maira.
Hidayat merasa kerongkongannya tersekat setelah mendengar ucapan istrinya itu. Dia pun sama. Selama ini ia membiarkan Kirana menggenggam tangannya, menggandengnya, juga bersandar di bahunya. Sedangkan Maira, bahkan memerhatikan akhlak temannya tanpa mengetahui buruk akhlak suaminya di belakang dirinya.
"Ayo, kita pulang, Mai..." Ajak Hidayat lesu.
Maira mengangguk. "Aku duluan ya, Sil, Ben... Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam..." Jawab Sila dan Beni.
"Hati-hati, Mai..." Seru Sila sambil melambaikan tangannya.
Hidayat mulai diam di sepanjang jalan. Kirana kembali menjadi bahan dalam pikirannya. Rasa tidak nyaman terus mengusik ketenangan jiwanya. Ia mulai lelah. Ingin rasanya ia berterus terang pada Maira, menceritakan semuanya dari awal, lalu berjanji pada Maira bahwa ia hanya untuk Maira seutuhnya.
Namun lagi-lagi keberaniannya menciut. Takut jika Maira tidak menerima, dan tidak memahami perasaannya.
"Maira..." Panggil Hidayat sambil menengok ke belakang.
"Kenapa, Bang?" Sahut Maira sembari mendekatkan wajahnya ke bahu Hidayat.
__ADS_1
"Dekap Abang sebentar, Abang mau ngebut..." Pintanya beralasan.
Maira terpelongo. Ia ragu-ragu untuk itu.
"Maira keberatan, ya? Kita kan sudah muh-" Kekecewaan Hidayat lenyap ketika pinggangnya tiba-tiba merasakan lingkaran tangan Maira.
Ia melirik ke arah perutnya sebentar. Tangan Maira sudah mengunci pinggangnya. Ia tersenyum senang, lalu mengangkat tangan Maira hingga ke dadanya, sehingga ia merasakan ketenangan yang begitu mendamaikan hatinya.
"Terima kasih, Maira sudah sabar menjadi istri Abang..." Ucap Hidayat di dalam hatinya.
"Abang buru-buru mau ke kampus, ya?" Tanya Maira sedikit berteriak agar Hidayat dapat mendengarnya. Ia semakin mengencangkan pegangannya ke dada Hidayat ketika merasakan laju kecepatan begitu tinggi.
***
Mereka sampai di rumah lebih cepat dari biasanya. Maira terlihat gemetar saat kakinya mulai menapaki bumi. Hidayat benar-benar melajukan motornya dengan kencang sampai ke rumah.
"Maira takut kalau Abang ngebut, ya?" Tanya Hidayat terlihat khawatir.
"Maira nggak biasa, Bang... Apalagi di jalan raya begitu..." Jawab Maira lemas.
"Maafin Abang, Maira..." Ucap Hidayat sambil mengusap-usap tangan Maira yang terasa dingin.
"Nggak apa-apa, Bang... Maira seneng banget rasanya... Lain hari Maira mau ulang lagi malahan..." Jawab Maira sembari tersenyum.
"Harusnya, Abang tidak perlu jemput Maira kalau Abang buru-buru ke kampus..."
"Abang tidak buru-buru..."
"Lah, terus...?"
Hidayat menghentikan langkahnya, lalu berdiri di hadapan Maira. Ia menatap lekat wajah istrinya itu dengan sejuta perasaan. Hatinya kembali gundah.
"Maira tidak akan memeluk Abang, kalau Abang tidak memintanya... Kenapa?"
Tatapan Hidayat membuat Maira salah tingkah. Ia menjadi gugup, lalu menundukkan wajahnya.
"Jika... Ini hanya jika..." Ucap Hidayat berusaha memantapkan hati untuk bicara. Maira kembali menengadah ke wajahnya, menunggu ia melanjutkan perkataannya.
"Jika ada kesalahan fatal pada diri Abang, apa Maira mau memaafkannya?" Tanya Hidayat dipenuhi rasa cemas.
"Misalnya?" Tanya Maira begitu polos dan terlihat kebingungan.
Hidayat terperangah. Ia merasa sesak ketika dihadapi pertanyaan semacam itu. Rasa takutnya kembali muncul. Ia menjadi ragu-ragu untuk berterus terang.
"Abang ada salah?" Tanya Maira lagi seolah mengintimidasinya.
__ADS_1
"Emmm... Misal... Misal, ya? Eeh... Begini..." Hidayat menggaruk tengkuknya. Nyalinya kembali menciut.
"Tidak ada... Lupakan saja... Abang cuma nanya saja. Maira tidak perlu memikirkannya lagi..." Elak Hidayat seraya berjalan membelakangi Maira.
Dahi Maira mengernyit. Ia segera mengejar posisi Hidayat, lalu menahan lengan suaminya itu. "Abang kok jadi aneh? Apa ada sesuatu yang Abang sembunyikan dari Maira?"
"Ti-tidak... Tidak ada..." Jawab Hidayat terbata-bata.
"Kok Abang pucat begitu? Abang sakit lagi, ya?" Maira memerhatikan wajah Hidayat dengan seksama dan raut wajah yang kecemasan.
Hidayat menelan kasar ludahnya. Ia terjebak oleh pertanyaannya sendiri.
"Abang?"
"Eh? Abang tidak apa-apa, Mai... Hari ini Abang memang ada kuliah siang, dan pulangnya agak kemalaman mungkin..." Jawab Hidayat mengalihkan perhatian Maira.
"Owh..." Maira mangut-mangut. "Sudah masuk waktu Zuhur... Abang mandi dulu, biar Maira siapin pakaian ganti..." Suruh Maira seraya berjalan ke arah kamar.
Hidayat menurut. Ia memerhatikan Maira dari belakang. Hatinya terenyuh melihat ketulusan di wajah polos istrinya itu. Ia terus berandai-andai jika saja ia tidak pernah melakukan kesalahan itu, mungkin ia saat ini sudah bahagia.
Ketika Maira sibuk memilih baju yang akan dipakai Hidayat, tiba-tiba suaminya itu malah memeluknya dari belakang. Maira tersentak kaget, ia menumpahkan separuh baju yang terlipat rapi di dalam lemari.
"A-abang...?" Maira melenguh dengan perasaan yang tak menentu.
"Abang harap Maira akan memaafkan Abang..." Ucap Hidayat begitu lunak. Debar jantungnya terasa berdegup di punggung Maira, membuat perasaan Maira semakin hanyut dalam ketegangan.
Maira mencengkram tangannya sendiri, berusaha menahan perasaannya itu. Ia berdehem, berusaha mengembalikan perasaannya ke semula. "Iya, Maira maafin..."
"Benar?" Tanya Hidayat lagi semakin mengeratkan pelukannya.
"I-iya... Memangnya ada apa, Bang? Kenapa Abang tiba-tiba jadi aneh begini?" Maira mengambil kedua tangan Hidayat yang bersilangan di bahu dan di pinggangnya, lalu ia keluar dari pelukan suaminya itu.
Maira menatap wajah Hidayat yang masih pucat dihantui rasa bersalah.
"Setelah Abang menyelesaikan tesis nanti, kita pulang kampung, ya? Abang ingin kumpul sama-sama dengan keluarga. Pasti ayah dan ibu kita senang..." Ajak Hidayat.
"Iya... Maira tahu Abang rindu kampung... Nanti kita pulang... Sekarang Abang mandi sana, katanya ada kuliah siang..." Suruh Maira seraya mendorong lembut punggung Hidayat.
.
.
.
.
__ADS_1